
Sebulan telah berlalu, setelah aku di boyong ke rumah suamiku dan di tinggal bersama mertuaku, belum sekalipun aku datang mengunjungi orang tuaku sendiri. Aku dan orang tuaku sering berkomunikasi untuk menanyakan kabar. Aku tau sebenarnya orang tuaku merindukan aku dan Adi tapi mereka tak mau mengatakannya, mungkin karena takut aku terganggu. Sebenarnya aku jug sangat merindukan mereka, tapi suamiku belum libur jadi aku belum bisa pulang ke rumah.
Jika ku merindukan orang tuaku aku hanya bisa video call dengan mereka. Begitu juga sebaliknya, jika mereka merindukanku, mereka hanya video call denganku terkadang video call disaat aku sedang berkumpul dengan suamiku beserta Bapak Ibu mertuaku.
Tadi malam Ibu telepon, aku tau dia merindukan aku. Aku tau orang tuaku ingin aku dan suamiku mengunjungi mereka. Meski mereka tak mengatakannya secara langsung tapi aku bisa melihat dari raut wajah mereka. Dan aku tak bisa berbuat apa apa.
Setelah melihat aku telepon dengan orang tuaku, Adi melihat kegelisahanku. Mungkin dia sadar bahwa aku sangat merindukan orang tuaku. Dia mendekatiku dan duduk di sebelahku yang saat itu duduk di atas kasur, sembari mengelus rambutku.
"Besok hari minggu kita pulang ya ke rumah Ibu dan Bapak. Lama gak berkunjung. Aku pingin kesana." Bisik Adi yang sempat membuatku terkejut.
Mungkin dia menyadari bahwa aku merindukan orang tuaku. Tanpa dia bertanya tentang apa yang aku tasakan kepada orang tuaku Adi menunjukkan kepekaannya sebagai suami.
__ADS_1
"Kok malah bengong." Lanjut Adi mencubit hidungku. Dan spontan ku kaget.
"Beneran pulang?" Tanyaku tak percaya.
"Iya beneran. Apa pernah aku bohong sama kamu?" Kata Adi meyakinkan aku.
Tak menjawab apapun , aku langsung memeluk Adi dengan perasaan senang yang tk mampu ku ucapkan. Aku tanya memeluknya erat sambil tersenyum.
"Ya udah, udah malem kamu tidur gih. Aku juga mau tidur besok harus kerja." Kata Adi menyuruhku tidur.
"Makasi ya." Kataku berterima kasih kepada suamiku itu.
__ADS_1
"Terima kasih buat apa?" Tanyanya tak mengerti.
"Ya buat semuanya. Buat kebahagiaan yang kamu berikan selama ini, tentang pengertian kamu, kepekaan kamu. pokoknya semua yang berhubungn dengan yang kmu lakukan buat aku." Jelasku kepada suamiku
"Kamu ngomong apa sih. Jangan berterima kasih karena itu sudah jadi kewajibanku buat bahagiain kamu. Aku kan sedih kalau sampai aku tak bisa bahagiain kamu. Jadi jangan bilang makasi lagi dengan apa yang aku lakukn buay kamu. ngerti?" Kata suamiku tak ingin aku berterima kasih dengan setiap yang dia lakukan.
"Aku akan berterima kasih dengan kebahagiaanku kalau begitu." Kataku tetsenyum padanya.
"ya udah ayo tidur." Ajak Suamiku
Aku tidur di pelukannya. Aku hanya tersenyum senyum sendiri merasakan kebahagiaan yang dia berikan kepadaku.
__ADS_1
Keesokan harinya setelah suamiku pergi bekerja dan semua pekerjan rumah sudah selesai. Aku menelepon Ibuku untuk mengabari kalau minggu aku dan suamiku akn pulang. Dan Ibuku merasa sangat senang. Aku tau Ibuku hampir menangis tapi dia menahannya. Mungkin dia tak ingin menjadikan beban pikiranku.
Aku sangat merindukan Bapak dan Ibuku. Aku memang sudah bahagia hidup dengan suamiku tapi aku tetap anak mereka. Jadi aku tak sabar menanti hari minggu. Ingin segera berjumpa mereka. Ingin peluk mereka, pingin ngerasain masakan Ibu. Aku tindu semua tentang orang tuaku.