
Setelah Ibu mertuaku mencurigaiku, aku tak berani bertemu dengannya. Dan mungkin beliau juga tak ingin bertemu aku dulu karena rasa kecewanya. Sekarang Ibu juga sering keluar rumah disaat Adi dan Bapak pergi bekerja.
"Sekarang aku jarang liat kamu ngobrol sama Ibu. Ada apa?" Tanya Adi.
"Gak ada apa apa kok. Jangan mikir yang enggak enggak ya. Kamu kan tau Ibu sayang sama aku. Sekarang kan ada si kecil, jadi aku jarang ngobrol sama siapapun karena harus ngurusin si kecil." Terangku agat Adi tidak curiga apapun.
"Ohh! Iya juga sih ya? Kamu sudah makan?" Tanya Adi.
"Aku belum sempat makan. Dari tadi si kecil rewel." Kataku mencari alasan.
"Ya sudah ayo kita pergi makan." Ajak Adi.
Aku tak berani bertemu Ibu. Jadi aku mencari alasan untuk menolaknya.
"Nggak mungkin kan aku ninggalin si kecil sendiri. Dia sudah tidur, kalau aku tinggal kasihan. Tapi kalau aku gendong keluar, aku takut dia akan rewel lagi." Kataku membuat alasan.
"Ya sudah aku bilin ya. Kmu makan disini saja nggak apa apa." Kata Adi.
Aku tak menjawabnya hanya anggukan kepala yang aku lakukan. Kemudian Adi pergi keruang makan untuk mengambilkan aku terlebih dahulu.
"Loh buat siapa Di?" Tanya Bapak.
"Buat Vina Pak. Dia belum makan dari tadi siang katanya." Jawab Adi.
"Kenapa tidak makan bersama?" Tanya Bapak lagi.
__ADS_1
"Celine sudah tidur pak, kasihan kalau ditinggal." Jawab Adi.
"Aku antar makanan ini dulu ya pak buat Vina." Lanjut Adi.
"Oh iya iya. Setelah itu kamu pergi makan bersama kami." Jawab Bapak.
Adi kembali ke kamar dengan membawa sepiring nasi dan lauk, serta segelas air minum.
"Ini kamu makan dulu. Kamu juga harus makan yang banyak." Kata Adi menyerahkan sepiring nasi dan segelas air minum.
"Makasih ya sayang." Kataku.
"Udah kamu makan gih." Suruhnya.
"Iya kamu juga cepetan makan. Kasihan Bapak sama Ibu sudah menunggu." Suruhku.
Setelah makan, aku tak ingin merepotkan Adi lagi. Jadi aku membawa piring dan gelasku kedapur untuk dicuci. Dan tak sengaja ternyata Ibu mertuaku sedang ada didapur sedang mencuci piring.
"Ibu biar aku yang mencucinya."Kataku agak canggung.
Menatap wajah Ibu mertuaku saja sekarang aku tak berani lagi.
"Tidak usah terimakasih." Jawab Ibu mertuaku.
Aku duduk dikursi dapur menunggu Ibu mertuaku selesai mencuci piring. Aku tak berani berkata apapun, takut kalau sampai Ibu mertuaku akan semakin benci padaku. Jadi aku memilih untuk diam.
__ADS_1
Setelah selesai mencuci piring, Ibu mertuaku pergi tanpa mengucapkab sepatah katapun. Hatiku merasa sakit meski aku tau ini semua memang salahku.
Aku berdiri untuk mencuci piringku. Disaay aku mencuci piring, tak tetasa air mataku tiba tiba mengalir dipipiku. Aku tak kuasa menahan sakit yang aku rasakan.
Setelah selesai mencuci piring, aku mengusap air mataku dan kembali kekamar. Sesampainya dikamar, aku melihat Adi sedang tiduran menemani si kecil. Aku tersenyum kearahnya.
"Kamu kenapa? Sepertinya habis menangis." Tanya Adi.
"Enggak kok. Aku nggak apa apa. Tadi mata aku tak sengaja kena sabun pas aku mencuci piring." Kataku beralasan.
"Lain kali hati hati. Sini. tidur sini." Kata Adi menyuruhku tidur disebelah se kecil.
Aku menurutinya. Dan sekarang si kecil berada diantara aku dan Adi.
"Sudah kamu istirahat dulu. Aku tau kmu capek. Maaf ya aku tidak bisa setiap saat membantu kamu menguris si kecil karena harus bekerja dan jarang libur." Kata Adi
"Iya tidak apa apa." Jawabku dengan senyum.
"Ya sudah kamu istirahat dulu. Biar aku yang jaga si kecil." Suruh Adi.
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum kearahnya. Adi kemudian sedikit terbangun kearahku dan mencium keningku.
"Selamat tidur sayang. Sebenarnya aku ingin menyerangmu, tapi aku tau kamu capek. Tenang saja, aku tak akan menyerang seseorang yang sedang kecapekan." Bisiknya di telingaku dengan senyum mesumnya.
"Dasar." Kataku mendorong tubunya agar menjauh dariku.
__ADS_1
Adi tertawa melihat ekspresi wajahku dan aku jadi salah tingkah. Aku yang menahan malu, langsung memejamkan mataku dan pergi tidur.