
"Besok lagi kamu jangan telepon aku disaat aku ada dirumah. Apalagi disaat aky sedang berkumpul dengan keluargaku. Aku tidak mau mereka curiga tentang semua ini. Tunggulah aku yang telepon kamu." Katanya via telepon.
Kata kata itulah yang aku dengar dari suara orang didepan rumah. Aku penasaran siapa orang itu. Aku melangkah keluar rumah, dan ternyata itu Adi. Siapa yang diteleponnya? Wanita atau laki laki? Teman atau justru ...??? Pertanyaan itu yang langsung muncul dalam hatiku. Melihat Adi yang ada didepanku rasanya aku tak ingin percaya.
Tiba tiba saja Adi membalikkan tubuhnya. Dia terkejut melihatku yang ada dibelakangnya.
"Ya sudah nanti saya hubungi lagi." Kata Adi dan buru buru menutup teleponnya.
"Eh sayang! Sejak kapan kamu ada disini?" Tanya Adi dengan gugup.
"Hem? Baru saja kok. Aku nyariin kamu ternyata ada disini." Jawabku dengan berpura pura tersenyum kepadanya.
Dia diam tak bersuara.
"Kamu kenapa bengong? Barusan telepon dari siapa? Apa ada masalah?" Tanyaku mencoba berpikir positif.
"Oh dari temen kerja. Tanya apa besok masih libur. Nggak penting." Jawab Adi.
"Kenapa harus berbohong? Aku mendengar jelas ucapannya barusan." Kataku dalam hati.
"Ada apa kamu mencariku?" Tanya Adi.
"Aku cuma mau nyuruh kamu mandi, sudah sore." Jawabku.
__ADS_1
"Ya sudah aku mandi dulu ya." Pamit Adi.
Adi berjalan masuk kerumah meninggalkanku. Dan ku masih termenyng dan bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ada wanita lain?
Aku berusaha menghentikan semua pikiranku yang tidak tidak. Mungkin memang teman kerjanya. Aku harus menghilangkan semua bentuk kecurigaanku. Tidak mungkin suamiku tega menyelingkuhiku.
Sejak hari itu, tingkah Adi sedikit berbeda. Apa mungkin dugaanku benar? Dia sedikit aneh akhir akhir ini. Jika memang dia takut aku salah paham dengan teleponnya kemarin, harusnya dia menjelaskannya. Bukan malah diam dan tingkahnya membuatku semakin curiga.
Aku memilih lebih fokus mengurusi keluargaku, daripada haris larut dalam kecurigaan yang belum tentu kebenarannya. Setiap hari aku mencoba bersikap seperti biasa. Meski sejak mendengar percakapan Adi via telepon membuat hatiku timbul banyak pertanyaan yang tak berani aku ungkapkan.
Tapi semakin hari, semakin aneh tingkah Adi. Dan malam ini aku berniat untuk menanyakannya
"Sayang!" Panggilku.
"Kamu kenapa? Apa ada masalah dikerjaan?" Tanyaku penasaran.
"Tidak. Aku tidak apa apa." Jawab Adi gugup.
"Tapi kenapa akhir akhir ini kamu terlihat aneh. Kamu seperti ada masalah." Kataku tetap penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Malam ini, sebenarnya aku sangat berharap dia mau cerita. Dan aku juga berharap apa yang aku dengar tak sama dengan apa yang aku pikirkan. Tapi ternyata Adi hanya menjawab bahwa dia tidak kenapa kenapa. "Ahh mungkin dia belum ingin cerita kepadaku. Aku akab menunggunya." Kataku dalam hati untuk menenangkan diriku sendiri.
"Ya sudah sayang. Aku tidur dulu ya. Aku capek banget. Aku kekamar dulu ya. Kamu jangan tidur malam malam." Pamit Adi.
__ADS_1
Adi berjalan kearahku dan mencium keningku. Kemudian meninggalkanku, berjalan kearah kamar.
"Apakah dia menghindariku? Ahh sudahlah mungkin aku yang berpikir terlalu jauh." Kataku dalam hati.
Beberapa saat kemudian, mataku sudah ngantuk sekali. Aku berjalan kekamar. Sesampainya dikamar, Aku melihat hp Adi tergeletak dimeja. Entah dengan pikiran apa, mungkin ulahku terlalu kekanak kanakan. Aku mendekati hp Adi dan mengambilnya.
"Kenapa sekarang hp'nya ada sandinya? Apa kata sandinya? Apakah ulang tahunnya?" Pikirku dalam hati.
Aku mencoba memasukkan sandi tanggal lahirnya. Ternyata salah.
"Ulang tahun pernikahan kami?" Pikirku lagi.
Aku mencobanya lagi. Tenyata salah lagi.
"Salah lagi? Lalu apa? ataukag ulang tahun Celine? Aku coba dulu saja." Pikirku lebih keras.
Dan ternyata ulang tahun Celine yang dia gunakan untuk sandi hp'nya. Aku merasa lega.
Setelah aku bisa membuka sandi hp'nya, aku membuka semua riwayat panggilannya. Dan ternyata tak ada nama cewek di hp'nya. Aku buka pesannya, hanya ada nama cowok dan teman teman kerjanya cowok juga yang mengirim pesan. Aku lega karena tak ad yang perlu dicurigai lagi.
Aku teringat sebenarnya siapa yang ditelepon kemarin waktu dirumah orangtuaku. Aku mencarinya diriwayat panggilan. Dan ternyata itu Aldi, teman kerjanya. Mungkin kemarin aku yang salah mendengarnya.
Aku tersenyum lega. Akhirnya semua kecurigaanku terjawab semua meski aku tak menanyakannya langsung. "Ahh apa yang aku lakukan sebenarnya? Apa rasa percayaku pada suamiku sudah hilang? Aku terlalu bodoh" Pikirku.
__ADS_1
Aku mencium kening suamiku karena perasaan lega. Dan aku pergi tidur dengan tenang.