
"Sudah sampai rumah. Cepetan masuk diluar dingin. Jangan tidur malam malam." Kata Rudi sesampainya didepan rumah.
Aku hanya diam menatapnya penuh rasa takut. Rudi balik menatapku dan dia tahu jelas bahwa ku merasa takut.
"Kamu takut?" Tanya Rudi.
"Aku belum pernah dirumah ini sendirian. Harusnya aku tadi di Rumah Sakit saja." Kataku dengan menatap rumah yang kosong.
"Perlu aku temani?" Usul Rudi menggodaku.
"Gila kamu." Kataku masih dalam keadaan takut.
"Hahaha ya aku cuma menawarkan diri. Kalau kamu nggak mau ya sudah tidak apa apa." Kata Rudi sambil menunjukkan senyum liciknya.
Aku hanya menatapnya tajam. Tak berkata sepatah katapun. Disatu sisi aku tak ingin ada kesalahpahaman, tapi disisi lain ku merasa takut dirumah sendiri.
"Gimana? Mau aku temani tidak? Kalau tidak ya sudah aku pulang. Selamat menunggu rumah kosong." Kata Rudi menertawakanku.
Aku hanya diam melihat kearah Rudi yang mengambil sepeda motornya. Perasaan takut masih menyelimuti.
"Temani aku." Kataku mencegahnya meninggalkanku.
"Apa? Kamu ngomong apa aku nggak dengar." Goda Rudi dengan senyum licik.
"Temani aku." Bisikku.
"Yang mesra dong bilangnya. Ayo coba sekali lagi." Kata Rudi tetap menggodaku.
Aku hanya diam tak mengatakan apapun. Aku hanya menatapnya dengan tajam.
"Gak mau ngomong? Ya sudah aku pulang." Kata Rudi membalikkan badannya dan berjalan menuju sepeda motornya.
Aku tarik tangannya, mencegahnya meninggalkanku. Karena memang saat ini aku sangat takut sendiri dirumah.
"Aku takut. Kamu temani aku." Pintaku sedikit memelas.
"Beneran?" Tanya Rudi memastikan.
Aku mengangguk.
"Tapi kamu jangan berfikir macam macam ya. Kamu cuma temani aku karena aku takut dirumah sendiri." Kataku tegas.
__ADS_1
"Iya iya. Ayo masuk. Diluar dingin." Ajak Rudi.
Aku dan Rudi masuk kedalam rumah. Kami duduk diruang tamu dan ngobrol tentang banyak hal.
"Coba saja dulu aku nggak ninggalin kamu tanpa kabar, pasti aku yang akan menikah sama kamu. Aku menyesal sudah meninggalkanmu sendiri waktu itu. Aku baru sadar betapa sangat bodohnya aku." Kata Rudi dengan nada sedih.
Aku hanya diam tak bisa berkata apa apa. Lidahku tiba tiba menjadi aku karena terkejut dengan perkataan Rudi.
"Kamu tau? Sebenarnya aku tidak bisa lupain kamu. Aku masih sering berharap kamu kembali sama aku. Tidak perduli apapun." Lanjutnya masih dengan tatapan sedih.
"Kamu ngomong apa sih? Kamu tau sendiri aku sekarang sudah bersuami. Kamu dan suamikupun bersahabat dengan baik. Bisa bisanya kamu ngomong seperti ini padaku." terangku.
"Aku tau apa yang kamu katakan. Tapi aku juga tak bisa membohongi hatiku sendiri. Aku masih mencintai kamu. Aku akan menunggumu." Kata Rudi menatapku dengan tatapan sayangnya.
Aku tau jelas tatapan yang dia berikan kepadaku saat ini. Tatapannya sama seperti 7 tahun silam. Tatapan yang dulu sangat aku rindukan. Dan kini aku melihat tatapan itu lagi. Entah perasaan apa ini, aku tiba tiba merasa merindukan sesuatu.
Rudi menggenggam tanganku, dia menatapku dengan tatapan yang aku rindukan. Aku membalas tatapannya. Aku tak tau setan apa yang merasukiku saat ini.
Rudi mendekatkan bibirnya kearahku, entah kenapa aku sama sekali tidk berpaling. Dia memeberanikan diri menciumku, dan akupun tak menolaknya. Aku justru membalas ciumannya dan menutup mata.
Beberapa saat kemudian, Rudi melepaskan ciumannya. Aku membuka mataku dan melihatnya tersenyum padaku. Hanya rasa malu yang aku rasakan saat ini. Rudi memelukku erat.
"Aku sayang sama kamu." Bisik Rudi ditelingaku.
"Aku tidak perduli kamu bersuami. Aku tetap akan menyayangimu." Kata Rudi.
"Anggap saja semua yang terjadi barusan adalah kesalahpaham. Lupakan saja. Tidak perlu diungkit kembali. Jangan sampai suamiku dan keluargaku tau." Kataku berusaha melepaskan pelukan Rudi.
"Kenapa? Kamu menyesal? Kamu nggak suka? Apa tak ada ruang sedikitpun buat aku dihatimu?" Tanyanya.
Pertanyaannya membuatku bingung untuk menjawabnya. Apa yang harus aku katakan agar dia mengerti.
"Vina, apakah sudh tak ada ruang untukku dihatimu?" Lanjut Rudi bertanya dengan serius.
Mendengar pertanyaannya tersebut, aku tak berani menatapnya. Aku menundukkan kepalaku.
"Vina, lihat aku. Tatap mataku dan jawab pertanyaanku." Kata Rudi.
Rudi memegang daguku dan mengarahkan tatapanku ketatapannya.
"Jawab aku." Kata Rudi.
__ADS_1
"Kamu tau aku sudah bersuami. Kamu jangan gila." Jawabku
"Seandainya kamu belum bersuami? Jangan bahas tentang suamimu. Aku bertanya tentang hatimu untuk aku." Kata Rudi dengan penuh kasih sayang.
Rudi membelai pipiku dan mencoba menciumku lagi. Entah apa yang terjadi tak ada penolakan dariku. Cukup lama aku dan Rudi berciuman. Rudi melepaskan ciumannya dan tersenyum.
"Kamu tidak usah menjawabnya lagi. Aku sudah tau jawaban yang sebenarnya." Kata Rudi mencium keningku.
Aku tak tau pada dirimu sendiri, kenapa aku tidak menolak disaat Rudi memperlakukan aku seperti ini. Kenapa aku justru menikmatinya. Mengingat apa yang sudah ku dan Rudi perbuat itu sudah menghianati suamiku, tanpa sadar airmataku mengalir dipipiku.
"Kamu kenapa? Kenaa kamu menangis?" Tanya Rudi menghapus airmataku.
Aku tak menjawab. Tangisanku semakin keras.
"Kamu kenapa? Bilang sama aku." Kata Rudi khawatir.
"Gara gara kamu, aku sudah menghianati kepercayaan yang suamiku berikan kepadaku. Kenapa kamu tega lakuin ini kepada aku dan dia?" Katamu dengan isakan tangis.
"Maafkan aku, tapi kita sama sama masih saling menyayangi. Jangan merasa bersalah, kita rahasiakan ini dari Adi ya." Kata Rudi.
"Kamu gila ya? Jangan ulangi lagi apa yang kamu berbuat barusan." Kataku tegas.
"Tapi aku tau kamu masih ingin bersamaku. Apakah kamu sudah tak menginginkan aku?" Tanya Rudi.
Aku tak menjawab pertanyaannya. Hanya isakan tangisku yang semakin jelas terdengar. Melihat aku menngis, Rudi memelukku erat. Dan aku menangis dipelukannya.
"Kamu tenangin diri kamu. Kita bahas ini lagi nanti setelah kamu tenang. Sekarang kamu tidur ya. Sudah larut malam." Kata Rudi melepaskan pelukannya.
Aku terkejut karena tiba tiba saja dia menggendongku kekamar. Sesampainya dikamar, dia membaringkanku diatas ranjang.
"Sudah malam, kamu tidur ya." Kata Rudi dan mencium keningku.
Aku menenangkan hatiku dan kemudian Tidur. Rudi memasang selimutku. Dia tetap disampingku. Yang membuatku semakin terkejut, tiba tiba dia berbaring disampingku.
"Kamu ngapain?" Tanyaku terkejut.
"Aku temani kamu tidur disini. Tenang aku tidak akan macam macam dengan orang yang lagi sedih." Kata Rudi.
Aku membiarkanya, karena aku menyuruh dia pergipun percuma karena dia nggak akan mendengarkan aku.
Posisi tidurku membelakanginya. Sekali lagi aku dibuat terkejut olehnya. Tiba tiba dari belakang tangannya memelukku.
__ADS_1
"Sudah biarkan saja seperti ini. Ayo segera tidur, besok pagi kita hatus pergi lagi ke Rumah Sakit." Kata Rudi.
Aku tak ingin berdebat lagi dengannya, karena aku sudah sangat ngantuk. Jadi aku biarkan tangannya tetap memelukku.