JODOHKU..

JODOHKU..
TERGODA


__ADS_3

Sore ini, Bapak dan Ibu mertuaku datang lagi untuk gantian menunggu Adi. Orangtua mertuaku menyuruhku untuk pulang beristirahat. Aku menurut saja.


"Ibu Bapak!" Sapaku melihat mereka berjalan kearahku.


"Kamu pulanglah untuk beristirahat. Biar Bapak dan Ibu yang gantian disini jagain Adi." Kata Ibu menyuruhku pulang.


"Tak bisakah aku tetap disini saja menemani kalian?" Tanyaku meminta untuk tetap bersama mereka.


Dalam lubuk hatiku, aku merasa takut jika kejadian kemarin malam terulang kembali. Aku tak ingin menghianati kepercayaan Adi dan orangtuanya karena kekhilafanku.


"Kamu harus istirahat. Jadi pulanglah bersama Rudi." Kata Ibu mertuaku tak menaruh sedikitpun rasa curiga.


Aku mengangguk menuruti perintah dari Ibu mertuaku. Sebenarnya aku enggan untuk pulang kerumah. Karena pasti Rudi harus menemaniku lagi karena rasa takutku.


"Oh iya Vin. Besok kan hari minggu, jadi beristirahatlah dirumah. Biar Bapak dan Ibu yang menjaga Adi disini. Jaga kondisi kamu. Kamu sedang hamil jadi harus banyak beristirahat." Kata Bapak mertuaku.


"Tapi Pak... " Kataku.


"Sudah tidak usah pakai tapi. Kamu istirahat saja diirumah untuk besok." Kata Bapak memenggal perkataanku.


Ya sudah Pak, Bu kami pamit dulu." Pamitku kepada orangtua mertuaku.


Aku dan Rudi berjalan keluar menuju parkir.


"Kamu malam ini aku temani atau tidur sendiri dirumah?" Tanya Rudi.


"Aku takut jika harus sendiri dirumah." Kataku terus terang.


"Jadi aku temani lagi?" Tanya Rudi.


Aku hanya mengangguk. Melihat aku mengangguk tanda mengiyakan pertanyaannya, Rudi tersenyum senng dan tiba tiba saja merangkul pundakku.


"Apaan sih?" Kataku berusaha melepaskan rangkulannya.


Rudi hanya tertawa melihatku kesal.


"Vin, besok kan kamu tidak menunggu Adi, bagaimana kalai aku ajak kamu jalan jalan biar kamu dapat suasana baru? Biar kamu bisa tenangin diri kamu." Ajak Rudi.


"Kemana?" Tanyaku tampak bingung.


"Kemana aja asalkan aku jalan jalan sama kamu." Kata Rudi.


"Terserah kamu saja." Kataku pasrah.


Aku mempercepat jalanku agar segera sampai diparkiran dan segera sampai rumah. Aku merasa lelah saat ini.

__ADS_1


Sampai diparkiran aku menunggu Rudi mengambil sepeda motornya. Kemudian aku dan Rudi pulang.


Sesampainya dirumah, aku segera mandi. Setelah aku selesai mandi Rudi giliran mandi.


Selesai mandi, Rudi berjalan kedapur berencana membuatkan aku makan malam.


"Kamu mau ngapain?" Tanyaku menyusulnya kedapur.


"Aku mau buatin kamu makan malam." Katanya sambil mencari bahan dikulkas.


"Tidak usah. Kita pesan online saja. Kamu kan juga capek." Kataku mencegahnya masak.


"Udah kamu duduk saja disini, kamu tungguin aku masak sampai selesai. Ok!" Katanya mengarahkan aku kekursi dan menyuruhku duduk.


Aku tak bisa mencegahnya lagi, aku hanya bisa menuruti perkataannya. Tiba tiba rasa kagumku terhadapnya muncul begitu saja. Aku melihatnya memasak untukku. Tanpa sadar aku tersenyum senyum sendiri dibuatnya.


"Kenapa kamu senyum senyum sendiri daritadi?" Tanya Rudi.


Aku terkejut dengan pertanyaannya. Aku sedikit malu karena aku tertangkap olehnya karena senyum senyum sendiri karena rasa kagumku terhadapnya.


"Enggak.. nggak ada apa apa." Kataku dengan rasa malu.


"Jangan bilang kamu terpesona melihatku karena aku masak buat kamu." Kata Rudi dengan percaya diri.


"Hahaha (tertawa). Jujur saja, kamu terpesona kan lihat aku masak?" Goda Rudi melirikku dengan senyum.


"Terserah kamu saja." Kataku putus asa dan memalingkan wajahku.


"Memang Adi tidak pernah masaki kamu?" Tanya Rudi memojokanku.


Aku menggelengkan kepala tanpa berkata apa apa.


"Aku baru kali ini loh masak buat seorang wanita." Kata Rudi terus terang.


Entah apa yang terjadi, mendengar kata katanya aku merasa senang. Dan aku semakin merasa malu.


"Memangnya kamu pernah ada cewek yang dekat sama kamu selain aku?" Tanyaku dengan nada mengejeknya.


"Belum sih. Dari dulu cuma kamu yang aku cintai. Jadi seakan akan aku menutup hatiku buat wanita lain. Kalau aku ada wanita lain, untuk apa aku lakukan ini semua buat kamu?" Terang Rudi.


"Harusnya kamu berhenti mencintai aku. Karena sekarang status aku sudah bersuami." Kataku tegas.


"Bagaimana bisa semudah itu? Sejak lama aku selalu menahan rasa sakitku ketika melihat kamu dengan orang lain. Aku selalu berpikir asal bisa melihat kamu bahagia, aku tidak perduli dengan luka yang aku rasakan saat ini. Tapi aku juga manusia biasa yang terkadang tidak bisa menahan egoku. Terkadang aku juga ingin memilikimu meski tidak mungkin." Terang Rudi.


"Kamu gila ya. Sudah seharusnya aku berhenti." Teriakku.

__ADS_1


"Aku memang sudah gila sejak tau kamu bersama orang lain dan kalian saling mencintai. Tapi aku juga tak bisa berhenti mencintaimu begitu saja setelah apa yang aku lakukan untukmu." Kata Rudi tetap fokus dengan masakannya.


"Maafkan aku. Tapi ..." Kataku


"Tidak usah meminta maaf. Dan tidak usah berkata tapi. Asal aku tetap bisa melihatmu aku sudah bahagia." Kata Rudi dengan tatapan sayangnya.


Aku sangat mengerti bahwa semua yang dikatakannya itu tulus dari dalam hatinya. Aku tak kuat mendengarnya, ingin rasanya aku menangis dan menjerit sekencang kencangnya.


"Aku kekamar dulu. Nanti panggil ku kalau semua sudah siap." Kataku menahan airmataku agar tidak terlihat olehnya bahwa aku ingin menangis.


Aku berlari kekamar. Airmataku mengalir dengan derasnya. Entah sebuah rasa penyesalan, atau rasa tak terima dengan takdirku saat ini. Aku hanya merasakan sakit saat ini.


"Kenapa disaat seperti ini aku juga menginginkan Rudi berada disampingku. Lalu bagaimana dengan Adi? Dia sangat mencintaiku, akupun juga mencintainya. Tapi anehnya saat ini aku juga tak ingin kehilangan Rudi." Kataku dalam hati.


Aku terus menangis meratapi takdirku saat ini. Tak mengerti apa yang harus dilakukan. Tak tau kenapa semua bisa terjadi begitu saja.


Beberapa saat kemudiab, aku mendengar seseorang mengetuk pintu dan membukanya.


"Ayo kita makan malam." Ajak Rudi.


Aku segera mengusap airmataku dan beranjak dari tempat tidur. Aku berjalan menuju pintu untuk keluat kamar. Rudi terkejut melihatku habis menangis.


"Kamu menangis? Kamu kenapa? Kamu menangis karena kata kataku tadi? Maafkan aku. Berhentilah menangis. Aku tak bisa melihatmu sedih seperti ini. Sudah jangan menangis lagi. Maafkan aku." Kata Rudi lembut.


Rudi memelukku. Mendengar perkataannya yang begitu lembut membuat hatiku merasa tenang. Aku membalas pelukannya. Entah kenapa pelukannya terasa hangat dan nyaman. Setelah mengetahui aku sudah tenang, dia melepaskan pelukannya dan mengajakku makan. Setelah makan malam selesai, aku dan Rudi duduk dan menonton Tv. Dia duduk disampingku. Aku dan Rudi berpelukan dari samping.


Aku merasa nyaman bersamanya malam ini. Seakan aku tak ingin melepaskan pelukanku. Aku tak berpikir tentang apa apa lagi sekarang. Hanya tak ingin melepaskan pelukannya malam ini.


Dan sesekali Rudi mencium kepalaku. Perasaan nyaman ini, belum pernah aku rasakan.


"Kamu belum ngantuk? Sudah malam." Bisiknya dengan lembut.


Aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Aku sayang sama kamu." Bisiknya lagi.


Aku hanya tersenyum mendengar bisikannya.


Rudi mengarahkan wajahku kearah wajahnya. Dan menatapku dengan penuh kasih sayang. Dia tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumnya. Dia mendekatkan wajahnya kearahku. Bibirnya menempel kebibirku. Kupejamkan mataku. Dengan rasa nyaman aku membalas ciumannya.


Rudi melepaskan ciumannya dan memandangku dengan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan rasa malu. Dan lagi, dia kembali mencium bibirku. Entah akan berapa kali aku dan dia melakukan ciuman bibir dimalam ini.


"Aku tak akan melakukan sesuatu hal yang kamu sendiri belum yakin melakukannya denganku. Sudah malam, Ayo kita tidur." Kara Rudi mencium keningku.


Aku tersenyum karena pengertiannya. Dan aku mengangguk menyetujuinya untuk segera tidur. Aku dan Rudi berjalan menuju kamarku untuk segera tidur. Sebelum tidur dia mencium keningku, dn menyuruhku tidur. Dia memelukku. Dan aku segera memejamkan mataku.

__ADS_1


__ADS_2