
Semakin lama aku semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi. Tentang apa yang direncanakan Tuhan untukku. Hal apa lagi yang harus aku hadapi. Kebahagiaan itu baru saja menyapaku dan kini aku harus mengulang mengingat luka yang pernah akun rasakan. Aku membutuhkan Adi saat ini, tapi aku tak berani mengatakan apapun tentang pertemuanku dengan Rudi. Aku tak ingin dia salah paham. Terpaksa aku menyembunyikannya.
Setiap hari aku dan Adi hanya bertukar kabar melalui pesan atau video call. Kami jarang bertemu sejak aku dipindahkan. Bagaimana aku bisa berterus terang dengan keadaan kami yang seperti ini. Aku tidak mau Adi mengkhawatirkan aku. Memang kami sudah membangun komitmen untuk saling percaya, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa dia tidak akan mencurigaiku. Itulah alasan kenapa aku tidak mau mengatakannya.
Aku bekerja seperti biasa. Disaat jam makan siang Rudi datang ke tempat kerjaku. Dia mengajakku makan siang di luar tapi aku menolaknya. Aku menyuruhnya pergi dengan alasan aku harus makan dan kembali bekerja karena memang saat itu kondisi Rumah Makan sedang ramai. Laras terlihat marah kepadaku, mungkin karena aku dekat dengan Rudi.
Hampir setiap hari Rudi datang ke tempat kerjaku untuk menemuiku. Aku semakin tak mengerti apa yang dia inginkan. Sudah berulang kali aku menolak untuk bertemu dengannya. Pesannyapun sudah sering kali aku abaikan, tapi dia tetap gigih menemuiku. Perasaankupun semakin lama semakin tak menentu. Ditambah lagi sekarang aku jarang bertemu dengan Adi. Godaan apa lagi ini. Aku sering merasa sakit ketika aku kembali mengingat masa lalu dan disaat itu juga aku mengingat perjuangan Adi untuk meyakinkan aku. Tuhan beri aku jalan yang terbaik.
Besok aku dan Adi memutuskan mengambil libur kerja. Seperti biasa dia datang menjemputku. Dan pulang setelah aku selesai bekerja. Adi sudah menungguku diluar tapi aku masih sibuk membereskan meja dan kursi karena hari ini adalah tugasku dan Rio yang membereskanya. Sekilas aku melihat ADi ngobrol dengan Laras. Aku tak tau apa yang mereka bicarakan tapi Laras terlihat serius. Tapi aku tak mau berprasangka buruk terhadapnya. Aku tetap lanjut menyelesaikan tugas yang belum aku selesaikan.
"Pacarnya Vina ya?" tanya Laras
"iya mbak." jawab Adi tanpa prasangka apapun.
"wah enak ya dimana ada ada pacar." Sindirnya.
"maksudnya?" tanya Adi tak mengerti.
"hahaha, pacar kamu gak cerita kalau dia disini punya pacar juga?" kata Laras
Adi semakin tak mengerti dengan apa maksud perkataan Laras. Dia hanya terlihat bingung.
__ADS_1
"Tanya aja sama pacar kamu, siapa Rudi pasti dia tak bisa menjelaskan. hahaha." lanjut Laras
Adi hanya diam tak mengatakan apapun. Dia hanya memikirkan siapa Rudi. Apa kebetulan Rudi yang sama dengan masa lalunya? Atau Rudi yang lain. Baginya jika Rudi yang lain tidak dipermasalahkannya. Tapi jika Rudi masa lalunya?
Setelah aku selesai bekerja, aku langsung mengahampiri Adi. Melihat aku sudah keluar Laras langsung pamit pulang. Yang aku lihat saat itu raut wajah Adi yang sedikit berbeda. "Apa yang dikatakan Laras kepadanya?" tanyaku dalam hati.
"kamu kenapa?" tanyaku
"gak papa kok. Mungkin karena capek aja" Jelas Adi
"Bener kamu gak papa?" tanyaku lagi untuk memastikan kalau dia gak papa.
"Tadi aku lihat kamu ngobrol sama Laras. Ngomongin apa?" tanyaku.
"gak ngobrolin apa apa kok. Cuma tanya apa aku pacar kamu gitu aja" terangnya
"beneran?" tanyaku tak percaya karena yang aku tau Laras tak sesimple itu.
"udah ahh ayo pulang." ajaknya lagi. Dan aku mengiyakannya.
Diperjalanan pulang Adi lebih banyak diam tak seperti biasanya. Perasaanku mulai tak enak tentang dia. Tapi aku mencoba meyakinkan hatiku kalau dia hanya lelah karena harus bekerja dan menjemputku. Aku hanya penasaran dengan apa yang dikatakan Laras kepadanya. Sesampainya di rumahku dia langsung pamit pulang. Aku tetap saja penasaran dengan apa yang di katakan Laras kepadanya. Aku takut kalau sampai Laras menceritakan tentang Rudi.
__ADS_1
Keesokan harinya Adi menjemputku karena libur kali ini giliranku pergi ke rumahnya untuk berkumpul dengan keluarganya. Adi sudah terlihat seperti biasa. Hatikupun merasa tenang karena dia sudah seperti Adi yang aku kenal. Waktu berlalu begitu cepat, hari sudah sore. Jam menunjukkan pukul 16.30 WIB. Sudah waktunya aku untuk pulang dan beristirahat karena aku besok hari berangkat pagi pagi sekali untuk bekerja. Sesampainya dirumah aku langsung beristirahat. Habis sholat isya' aku langsung tidur.
Pukul 06.30 Adi sudah tiba di rumahku untuk mengantarkan aku kembali bekerja. Ternyata dia libur 2 hari. Sesampainya di tempat kerjaku, aku langsung berpamitan untuk bekerja. Dan tanpa sepengetahuanku dia bertemu lagi dengan Laras.
"Mbak." Panggil Adi
"saya?" tanya Laras sambil menunjuk dirinya sendiri.
"iya. Bisa bicara sebentar?" tanya Adi
Mereka lalu pergi ke tempat lain agar tidak terlihat olehku.
"Ada apa?" tanya Laras
"saya mau tanya apa maksud perkataan mbak kemarin?" tanya ADi masih penasaran.
"oh itu. Vina itu sudah menggoda cowok yang saya suka namanya Rudi. Sepertinya mereka ada hubungan selain teman. karena mereka terlihat sangat akrab. Sering pergi berdua." jelas Laras
Adi tak ingin percaya dengan perkataan Laras, "tapi untuk apa Laras bohong?" (Tanyanya di dalam hati). Adi hanya tetap diam dan langsung berpamitan untuk pulang. Dia tak mau lagi mendengar hal hal yang menyakitinya apalagi. Seseorang yang sangat dia percaya.
Setelah mengetahui itu Adi hanya diam. Tak menanyakan apapun kepadaku tentang seseorang yang bernama Rudi. Mungkin dia menunggu aku yang menceritakannya sendiri. Dia sangat percaya kepadaku dan aku mulai membohonginya. Sebenarnya aku merasa bersalah kepadanya tapi aku takut dia akan tersakiti jika aku berterus terang. Maafkan aku Adi.
__ADS_1