
Setelah Adi mengetahui bahwa aku hamil, dia semakin perhatian dan memanjakan aku. Setiap kali pulang kerja dia selalu membelikan aku makanan yang aku sukai. Akan tetapi semenjak aku hamil, aku merasa mual saat mencium aroma makanan yang aku sukai sebelum hamil. Dan juga sekarang selera makanku berkurang.
Sore ini Adi pulang dengan membawa martabak manis rasa cokelat kacang. Mencium aroma tersebut aku merasa mual dan ingin muntah. Dan setiap kali Adi membelikan aku makanan pasti tidak aku makan. Karena makanan yang dulu aku sukai sekarang menjadi kebalikannya. Orangtua mertuaku pun lebih memilih mengalah setiap kali aku suruh memakannya.
"Yang.. Besok lagi udah enggak usah beliin makanan yang gak aku minta. percuma soalnya aku gak makan. kamu dan Bapak Ibu juga gak mau makan." Kataku
Aku tak mendengar sedikitpun kata dari Adi. Yang aku lihat hanyalah raut wajah yang kecewa atas perkataanku barusan.
"Bukannya apa apa yang. Hanya saja mubazir kalau gak ada yang makan." Lanjutku agar Adi tidak salah paham.
"Aku cuma mau beliin kamu makanan kesukaan kamu. Kamu sekarang lagi hamil, aku cuma ingin menjadi lebih perhatian sama kamu." Katanya dengan nada kecewa.
"Iya aku tau, tapi kan sayang kalau gak ada yang makan. Besok kalau aku pingin apa apa, aku bakalan bilang sama kamu." Kataku.
Adi hanya tersenyum dan mengelus kepalaku. Aku membalas senyumnya.
"Ya udah, ayo tidur. Kamu jangan tidur malam malam." Ajaknya.
"Iya." Jawabku.
Adi mengelus perutku dan berkomunikasi dengan buah hatinya yang masih didalam perut.
"Sayangku, Adi junior, bobok dulu ya. Ayah sayang sama kamu." Kata Adi menghadap perutku kemudian menciumnya.
Keesokan harinya aku bangun berniat untuk membantu Ibu mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi seperti hari hari sebelumnya, Ibuku tetap melarangku membantunya karena tidak ingin aku kelelahan.
"Terus aku mau ngapain Bu kalau gak boleh bantuin Ibu?." Tanyaku dengan nada sedih.
"Kamu duduk saja. Jangan sampai kecapekan." Kata Ibu mertuaku
"Lama lama aku bosan Ibu. Atau gini saja, aku bantuin Ibu ngerjain yang ringan ring aja ya Bu. Biar gak terlalu capek." Kataku merayu Ibu mertuaku.
"Ya sudah. Tapi kaau sudah merasa capek kamu harus istirahat." Pesan Ibu.
Aku tersenyum dan beranjak membantu Ibu. Setelah semua selesai aku mrmbngunkan suamiku untuk mandi.
(Masuk kamar)
"Yang. Bangun gih. Udah pagi, mandi dulu." Kataku membangunkannya.
Adi membuka matanya, dan tersenyum melihatku ada dihadapannya. Adi bangun dan mencium pipiku. Aku hanya tersenyum.
"Mandi gih. Aku siapkan sarapan dulu." Lanjutku.
Aku pergi menyiapkan sarapan, sedangkan Adi beranjak untuk mandi. Setelah semua siap, kami berkumpul diruang makan untuk sarapan.
Selesai sarapan Adi pamit untuk berangkat kerja, aku mengantarkannya sampai didepan pintu.
"Sayang aku berangkat dulu ya." Pamit Adi kemudian mencium keningku.
"Sayang ayah berangkat dulu ya." Lanjutnya mengelus perutku lalu menciumnya.
__ADS_1
"Hati hati ya sayang." Kataku sambil tersenyum.
Adi berangkat bekerja, Ayah mertuakupun berangkat juga. Aku masuk rumah dan membereskan meja makan. Setelah semua pekerjaan rumah selesai, aku mandi.
Ibu mertuaku pamit pergi arisan. Aku hanya berdiam diri didalam kamar. Tidak tau mau ngaain.
Siang harinya, tiba tiba saja aku ingin memakan steak. Aku mengirim pesan ke suamiku.
"Yang.. aku pengen makan steak. Nanti kamu beliin ya setelah pulang bekerja." Isi pesanku
"Iya. Pengen apa lagi? Sekalian." Balasnya.
"Udah itu aja." Balasku
Aku masih tetap diatas kasur tak beranjak sedikitpun. Sampai sore tiba. Aku pergi mandi . Setelah mandi ku keluar kamar mencari Ibu mertuaku, ternyata belum pulang. Aku duduk diteras menunggu suamiku pulang. Aku berdiri dan tersenyum melihat suamiku datang. Dia memarkirkan motor dan menuju kearahku, kemudian mencium keningku.
"Aku pulang." Katanya dan mencium perutku.
Aku tersenyum menyambutnya.
"Ini steak pesananmu." Katanya sambil memberikan satu porsi steak kepadaku.
"makasih." Kataku mengambil steak ditangannya.
"makasih aja?" Tanyanya dengan nada genitnya.
Aku terkejut.
Adi hanya memberi isyarat dengn jari telunjuknya mengarah kepipinya. Aku hanya tersenyum melihat ulahnya yang genit. Aku peka dan tau apa yang harus aku lakukan. Aku mencium pipinya dengan rasa malau meski sudah beberapa bulan menikah.
"Nah gitu dong. Besok lagi kalau berterimakasih haris melakukan hal yang sama." Katanya dengan senyum menggoda.
"Dasar ya sekarang genit." Kataku mencubit perutnya.
"Aduh aduh sakit." Erangnya kesakitan karena cubitanku.
Aku meninggalkan Adi masum rumah, tapi dia mengikutiku samai dimeja makan. Dia duduk didepanku, senyum senyum sendiri melihatku memakan steak yang tadi dia belikan.
"Kamu gak mandi?" Tanyaku
"Bentar. Mau lihat kamu makan steak dulu." Jawabnya
"Kamu mau?" Tanyaku lagi.
Dia hanya menggelengkan kepala.
"Aku cuma mau lihat kamu makan aja." Jawabnya
Aku hanya tersenyum dan menghabiskan makananku. Setelah makan aku menyuruh Adi mandi. Sedangkan aku menyiapkan makan malam.
"Ibumu kemana Vin?" Tanya ayah mertuaku
__ADS_1
"Tadi katanya mau pergi arisan Pak." Jawabku
"Hem. Kebiasaan kalau kumpul lupa rumah." kata Bapak mertuaku.
Aku hanya tersenyum tak berkata apapun. Setelah beberapa saat, Ibu mertuaku pulang. Setelah itu kami makan malam bersama.
"Ibu mah kebiasaan kalau kumpul jadi lupa rumah." Canda Bapak mertuaku.
"Hehehe jarang jarang Pak bisa kumpul. Sebulan sekali." Jawab Ibuku tersenyum.
"Ya sudah ayo makan." Ajak Bapak mertuaku.
Karena aku sudah makan steak, aku hanya duduk menemani suamiku makan.
"Kamu gak ikutan makan Vin?" Tanya Ibuku.
"Enggak Bu, tadi aku udah makan steak. Dibeliin ama mas Adi." Jawabku.
"Kamu hamil harus banyak makan. Meski gak ada selera makan tapi tetap harus makan." Kata Ibuku menasehatiku.
"Iya Bu. Nanti kalau lapar aku makan lagi." Jawabku sambil tersenyum.
"Gemuk tidak apa apa. Yang penting kamu dan bayinya sehat." Canda Ibuku.
Mendengar perkataan Ibu mertuaku, Adi menghentikan makannya karena terkejut dan ekspresi wajahnya berubah. Kami yang menyadari ekspresinya tertawa.
"Kenapa Adi?" Tanya Bapak tetap tertawa.
"Enggak apa apa Pak, cuma kaget saja."Jawab Adi dengan malu didepan orangtuanya.
"Apa jadi masalah kalau punya istri gemuk?" Tanya Ibu.
"Enggak kok Bu." Jawab Adi
Ibu hanya tersenyum melihat ekspresi Adi yang shock mendengar kata gemuk.
Setelah makan dan berbincang bincang, aku membereskan meja makan bersama Ibu. Sedangkan Bapak dan Adi masih ngobrol. Setelah selesai membereskan semua, Adi mengajakku kekamar untuk beristirahat.
(Dikamar)
"Kamu gak mau aku gemuk ya?" Tanyaku tersenyum.
"Gak masalah sih yang penting gak over up." Jawabnya.
"Setiap mengingat ekspresimu tadi aku selalu pingin ketawa." Kataku tertawa
"Udah deh jangan diingat ingat. Udah ah aku mau tidur." Kata Adi dengan rasa malu.
"Kamu lupa dengan ritual setiap malam kamu?" Tanyaku.
"Oh iya. Maafkan Ayah ya sayang. Ayah terlalu malu jadi lupa sama kamu." Kata Adi mengelus perutku lalu menciumnya.
__ADS_1
Mendengar bisikannya aku hanya tersenyum lebar. Adi mengajakku tidur tak mau mengobrol denganku karena rasa malunya.