JODOHKU..

JODOHKU..
MENENANGKAN


__ADS_3

Pemakaman Ibu mertuaku berjalan dengan lancar. Aku tak tega melihat Adi yang masih sangat lemah kehilangan seorang Ibu yang sangat dicintainya. Dengan cara apa aku harus menenangkannya. Dari kemarin dia hanya diam tak mampu berkata apapun. Adi berjalan kekamar dan aku mengikutinya dari belakang. Adi duduk diatas kasur dan tiba tiba menangis. Aku menghampirinya.


"Sayang kmu harus sabar. Mungkin ini yng tebaik untuk Ibu. Kita hanya bisa mendoakan semoga Ibu tenang disana. Kalau kamu terus terusan begini kasian Ibu. Tangisan kamu pasti akan menghambat jalannya." Kataku menenangkan Adi dan memeluknya.


Adi hanya menangis dipelukanku tanpa mengatakan apapun.


"Kamu harus kuat. Kamu harus tenangkan hatiku dan mendoakan Ibu mendapatkan tempat terbaik disisi Allah." Lanjutku tetap berusaha menenangkn Adi.


"Ibu kenapa cepat ninggalin aku? Kenapa Bu?" Teriak Adi sambil menangis.


Aku tak kuasa melihatnya seperti ini. Aku merasakan apa yng Adi rasakan saat ini. Aku tau Adi sangat kehilangan sosok Ibu yang sangat dia sayangi.


"Sayang! Kamu harus kuat. Kmu tak boleh lemah seperti ini. Kamu tau Ibu sangat menyayangi kamu. Kalau sampai Ibu tau kamu selemah ini, beliau akan sangat sedih. Aku ykin kmu kuat." Kataku.


Adi tetap menangis dipelukanku. Aku ingin melepaskan pelukanku, akan tetapi Adi melarangnya. Dan akupun membiarkannya.


"Biarkan tetap begini sebentar saja." Kata Adi memelukku dengan erat.


Aku mbalas pelukannya lagi. Aku membiarkan Dia memelukku sampai merasa tenang. Aku dan Adi hanya diam dalam pelukan.


Beberapa saat kemudian, Adi tertidur dipelukanku. Mungki dia terlalu larut dalam kesedihan dan merasa lelah. Aku tak membangunkannya, hanya kenidurkan dia diatas kasur.


Aku keluar dari kamar dan melihat Bapak kekamarnya. Bapak hanya diam melamunkan sesuatu.


"Bapak! Bapak makan dulu ya. Bapk dari kemarin belum makan." Kataku menyuruh Bapak mertuaku untuk makan.


Aku sebemarnya juga sangat kehilangan Ibu mertuaku. Tetapi jika semua larut dalam kesedihan, lalu siapa yang akan mengurus mereka. Ingin rasanya akupun menangis dan menjerit sekuat kuatnya. Karena Ibu sangat menyayangiku.


"Pak makan dulu ya?" Suruhku.


"Bapak tidak nafsu makan." Jawab Bapak mertuaku.


"Kalau Bapak tidak makan trus Bapak sakit gimana? Kasihan Adi. Kalau dia melihat Bapak seperti ini, dia juga akan sedih." Kataku memaksa Bapak makan.


Aku pergi kedapur untuk mengambilkan Bapak mertuaku makan.


"Ini makanannya ku taruh dimeja ya Pak. Bapak harus makan meski hanya sedikit. Jangan sampi Bapak sakit." Kataku dan keluar meninggalkan Bapak mertuaku.


Anakku masih aku titipkan dirumah tetanggaku. Aku belum sempat mengambilnya karena masih harus mengutus rumah, Bapak dan suamiku.


Beberapa saat kemudian aku masuk kekamar dan Adi terbangun karena mendengarku membuka pintu. Aku membawakan makanan untuknya.

__ADS_1


"Sayang, kamu sudah bangun? Kamu makan dulu ya. Dari kemarin kmu belum mkan apa pa." Suruhku meletakkan makanan didepannya.


"Aku tidak punya selera makan." Jawabnya menolak untuk makan.


"Jadi kamu mau sakit? Kamu gak kasihan sama aku dan Celine juga Bapak? Kamu boleh sedi, nangis juga boleh tetapi kamu juga harus mikirin kita semua." Kataku mencoba tetap lembut terhadapnya.


"Tapi Ibu?" Katanya menangis lagi.


"Aku tau kamu sangat kehilangan Ibu, kita semua juga kehilangan Ibu. Kalau kamu nggak bisa menguatkan hati kamu, bagaimana aku dan Celine bisa kuat?" Kataku ikut menangis.


Adi terkejut melihat tangisku. Dan diapun memelukku.


"Sayang! Maafkan aku. Aku seharusnya juga memikirkan kamu. Aku terlalu larit dalam kesesihanku hingga lupa ada kamu." Kata Adi memelukku.


"Kamu makan ya! Aku tidak mau kamu kenapa napa." Suruhku.


"Iya." Jawab Adi mlepaskan pelukanku dan mengambil makanan yang sudah aku siapkan.


"Ya sudah aku mau lihat Bapak dulu ya." Pamitku.


Adi mengangguk sambil makan.


Aku berjalan menuju kamar Bapak mertuaku.


Aku pelan pelan berjalan menuju meja tempat ku meletakkan makanan. Dan aku tersenyum lega karena Bapak sudah memakannya walau tak dihabiskan. Aku membiarkan Bapak untuk istirahat.


Aku membereskan rumah yang masih berantakan. Setelah selesai aku pergi mendi dan makan.


Hari sudah mulai malam, aku menuju kerumah tetanggaku untuk mengambil anakku.


(mengetuk pintu)


"tokk tookkk tokk"


"Iya sebentar." Suara dari balik pintu.


(Membuka pintu)


"Ohh kamu Vina. Ayo masuk. Anak kamu sudah tidur." Kata Bibi Atik


"Maaf ya Bi, aku merepotkan." Kataku meminta maaf.

__ADS_1


"Iya tidak apa apa. Anak kamu lucu jadi ku suka." Jawab Bibi Atik.


"Dan makasih ya Bi sudah menjaga Celine." Kataku.


"Iya tidak apa apa. Kamu jangan sungkan begitu." Jawabnya.


"Ya sudah aku permisi dulu ya Bi. Sekali lagi terima kasih." Kataku sekali lagi berterimakasih karena sudah menjaga anakku seharian.


"Iya tidak apa apa." Kata Bibi Atik sambil mengantarkan aku kedepan pintu rumahnya.


"Mari Bi " Pamitku.


"Iya." Jawab Bibi Atik.


Sesampainya dirumah, aku langsung menuju kamar. Adi tiba tiba ingin menggendong Celine tapi aku menolaknya.


"Eits! Kamu belum mandi Mandi dulu!" Larangku. Tanganku menepiskan tangan Adi yang hampir menyentuh anakku.


"Iya iya aku mandi dulu." Kata Adi agak kecewa.


Tanpa sepengetahuanku tiba tiba saja dia mencium pipiku. Aku terkejut dan mengelap bekas ciumannya.


"Itu hukuman katena sudah melarangku." Kata Adi melarikan diri kekamar mandi.


"Dasar." Kataku tersenyum lega karena dia sudah kembali. Meskipun aku merasa dia masih menyimpan kesedihan dihatinya. Tapi aku memakluminya. pasti sulit rasanya kehilangan seseorang yang sangat menyayanginya. Dan seseorang yang selalu ada untuk mendukungnya disetiap langkahnya. Tapi setidaknya dia sudah tidak terlalu larut didalan kesedihannya.


Selesai mandi, aku membiarkan Adi bermain dengan Celine. Mungkin dengan bermain dengan si kecil akan sedikit mengurangi kesedihannya. Ketika Adi bermain dengan si kecil, akhirnya aku melihat tawanya lagi. Aku ikut tersenyum melihatnya.


"Sayang! Lihat tu Bundamy senyum senyum sendiri." Kata Adi berbicara dengab si kecil dan melirikku.


Aku menahan senyumku. Dan mengabaikan omongannya. Tiba tuba Adi menyambar pipiku. Aku terkejut dan mendorongnya.


Adi mendekatiku, mencium bibirku dan **********. Tiba tiba si kecil menangis. Terpaksa Adi menghentikan aksinya. Aky tersenyum melihat ekspresi kecewanya.


"Terima kasih sayang! Untuk kesekian kalinya kamu menyelamatkan Bundamu ini." Kataku menggendongnya. Dia diam dalam dekapanku.


"Ahh mengganggu saja. Dia tidak akan membiarkan Ayahnya bahagia walau hanya sebentar saja." Gumamnya lirih.


"Aku mendengarnya." Kataku tersenyum mengejek kearahnya.


"Awas kamu. Nanti kalau dia sudah tertidur aku tidak akan mengampunimu." Ancam Adi.

__ADS_1


"Anakku kan tetap melindungiku. Dan aku tidak takut ancamanmu." Jawabku sambik tertawa.


Meski masih tampak jelas kesedihannya, tapi aku merasa lega melihat dia tersenyum berkat si kecil. Aku menggendong si kecil sampai dia tertdur. Setelah aku si kecil tertidur aku akan meletakkannya ditempat tidurnya. Dan aku melihat Adi yang lebih dulu tertidur dengan pulasnya.


__ADS_2