
"Sayang aku berangkat kerja dulu ya. Kamu jaga Ibu ya. Tapi kamu juga jangan capek capek. Jangan lupa makan. Aku nggak mau kamu kenapa napa." Pesan Adi sebelum berangkat bekerja.
"Iya." Jawabku sambil tersenyum.
"Ya sudah aku berangkat bekerja dulu. Kamu hati hati dirumah. Kalau ada apa apa langsung hubungi aku ya." Lanjut pesan Adi.
Aku hanya tersenyum kearahnya. Sebelum berangkat bekerja, Adi mencium keningku dan mencium si kecil.
"Ayah berangkat dulu ya sayang. Kamu jangan nakal ya dirumah sama Bunda." Pamit Adi kepada buah hatinya.
Adi keluar dari kamar dan menuju kamar Ibu untuk berpamitan. Adi masuk kedalam kamar Ibu.
"Bapak sudah berangkat Bu?" Tanya Adi.
"Sudah." Jawab Ibunya lemah.
"Adu juga berangkat bekerja dulu ya. Ibu jangan lupa minum obatnya biar cepat sembuh." Kata Adi beroesan kepada Ibunya.
"Iya." Jawab Ibunya.
Adi menjabat tangan Ibunya dan menciumnya lalu beranjak pergi keluar untuk bekerja.
Beberapa saat kemudian aku masuk ke kamar Ibu dengan membawa sepiring nasi beserta obat.
__ADS_1
"Ibu makan dulu ya. Lalu minum obat." Kataku.
Aku menyuapi Ibu mertuaku. Setelah makan 3 sendok Ibu mertuaku memintaku untuk menyudahi suapanku.
"Sudah. Ibu tidak bis makan bnyak banyak." Tolak Ibuku saat aku menyodorkan sesondok nasi untuknya.
"Sedikit lagi Bu. Biar Ibu punya tenaga dan cepat sembuh." Kataku.
"Sudah. Perut Ibu sakit jika makan terlalu banyak." Tolak Ibu mertuaku lagi.
"Ya sudah Ibu minum obatnya ya." Suruhku menyodorkan obatnya.
Ibu meminum obatnya.
"Setelah itu Ibu istirahat lagi ya. Aku mau mandiin celine dulu." Pamitku.
Aku tersenyum dan pergi meninggalkan Ibu mertuaku dilamar agar bisa beristirahat dan tidak terganggu.
Aku memandikan si kecil dan mengajaknya jalan jalan mencari udara segar . Sudah begitu lama aku tak merasakan udara segar dipagi hari.
Merasa matahari sudah mulai terik dan si kecilkupun tertidur pulas, aku pulang dan menidurkannya dikamar. Setelah menidurkannya aku pergi untuk melihat Ibu mertuaku apakah sudah bangun atau belum.
"Kenapa wajah Ibu semakin pucat kelihatannya." Bisikku kepada diriku sendiri ketika baru masuk kekamarnya.
__ADS_1
"Ibu! Ibu belum bangun?" Tanyaku berjalan kearahnya.
Ibu mertuaku hanya diam tak menjawab pertanyaanku. Aku mulai khawatir terjadi apa apa kepada Ibu.
"Ibu!" Panggilku lagi menyentuh tangannya.
"Kenapa tangannya dingin sekali." Pikirku dalam hati.
"Bu! Ibu! Bangun Bu!" Teriakku menggoyangkan lengannya.
Aku yang merasa takut dan khawatir, berlari ke rumah tetangga untuk meminta tolong. Beberapa saat kemudian banyak tetangga yang berdatangan. Salah satu tetanggaku mendekat untuk memeriksanya.
"Innalillahiwainnaillaihi roji'un. Ibu mertuamu sudah tidak ada." Kata Bapak Sholeh tetanggaku.
Mendengar ucapannya tanpa sadar aku melangkah mundur dan tubuhku terasa lemas tak berdaya. Tetanggaku yang lainnya mencoba menolongku agar tidak terjatuh. Airmataku mengalir dengan derasnya.
"Ibuuuuu!" Teriakku dengan keras dan berlari memeluknya.
Sebagian tetanggaku mencoba menghiburku. Tapi hiburan mereka tak berguna bagiku. Aku menangis tersedu sedu tak henti hentinya.
"Pak, tolong beritahu suamiku dan Bapak. Aku tak kuasa mengabarinya." Kataku dengan lemah.
Dan Aku menguatkan hatiku untuk memberi kabar kepada orangtuaku dirumah. Merekapun terkejut mendengarnya karena tak ada kabar apa apa sebelumnya.
__ADS_1
Airmataku semakin deras ketika Adi dan Bapak tiba dirumah secara bersamaan dan melihatnya yang merasa kehilangan seorang Ibu dan istri. Aku tak kuasa membendung airmataku.
Aku tak mampu menghibur Adi, karena melihat keadaanku sendiri yang begitu lemah tak kuasa melakukan apapun.