JODOHKU..

JODOHKU..
PERIKSA KANDUNGAN


__ADS_3

"Hari ini kan jadwal kamu periksa perkembangan anak kamu, bagaimana kalau sekalian periksa disini?" Usul Rudi.


Aku hanya diam menatapnya.


"Gimana? Mumpung kita ada disini." Tanyanya.


Aku hanya menuruti semua yang dikatakannya. Karena aku percaya semua yang dikatanya untuk kebaikanku. Aku dan Rudi berjalan menuju ruangan Dokter Kandungan. Sesampainya didepan ruangan tersebut, Rudi menyuruhku duduk diruang tunggu dan Dia pergi mengambil nomor antrian. Aku melihat sekelilingku, ternyata ada banyak calon Ibu yang antri memeriksakan sang buah hatinya yang masih didalam kandungan. Aku hanya tersenyum sembari mengelus ngelus perutku.  Tak sabar aku menantikan kehadiran buiah cinta aku dan Adi.


Aku ndan Rudi masih menunggu antrian dipanggil. Semakin lama aku dipanggil, hatiku semakin gelisah. Rudi menatapku dan mengerti bahwa aku sedang gelisah dan hatiku tak tenang. Rudi menggenggam tanganku erat.


"Kamu kenapa??" Tanya Rudi khawatir.


"Enggak. Aku nggak apa apa." Jawabku.


"Kamu terlihat tak tenang sepertinya. Ada yang kamu pikirkan?" Tanya Rudi dengan lembut.


"Enggak. Beneran aku nggak apa apa." Jawabku.


Rudi berhenti menanyaiku, karena dia tahu bahwa aku tak mengerti apa yang aku khawatirkan saat ini. Hanya perasaan itu ntiba tiba muncul dalam benakku. Rudi tetap menggenggam tanganku, dan aku tak berusaha melepaskannya. Karena genggaman tangannya itu sedikit membuatku lebih tenang.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya tiba giliranku. Aku meminta Rudi untuk menemaniku karena aku merasa takut. Dan Rudi menyetujuinya. Aku dan Rudi berjalan keruangan Dokter spesialis kandungan dengan tangan tetap saling menggenggam.


"Selamat siang! Ada yang bisa saya bantu?" Sapa dan tanya Dokter spesialis kandungan.


Aku hanya tersenyum dan melirik kearah dadanya dan membaca nama Dokter Spesialis kandungan tersebut. Disitu tertulisan nama Dr. Vanesa.


"Iya Dok, ini mau periksa kandungan sekalian USG agar tau perkembangan janinnya." Jawab Rudi.


"Silahkan berbaring disitu." Suruh Dokter Vanesa dengan menunjukkan tempat dimana aku harus berbaring.


Aku menurut saja. Setelah aku berbaring, Dokter Vanesa berjalan kearahku. Dan dia menyuruh Rudi untuk mendekat. Dokter Vanesa mulai memeriksa kandunganku.


"Kenapa perutnya tegang sekali. Apakah akhir akhir ini Anda sering mengalami stres?" Tanya Dokter Vanesa.


Aku tak mengangguk hanya menganggukkan kepala.


"Anda jangan terlalu stres, karena akan berakibat buruk untuk perkembangan janin. Anda harus menjaga kesehatan Anda." Suruh Dokter Vanesa.


"Apakah bayi saya baik baik saja Dok?" Tanyaku penasaran.


"Untuk saat ini baik. Tapi tetap jangan terlalu stres." Terang Dokter Vanesa.


Aku hanya mengangguk saja.


"Dan Anda jangan membuat istri Anda stres. Biasanya istri bisa sampai stres karena perilaku suami. Jaga kondisi istri Anda jangan sampai stres." Kata Dokter Vanesa memarahi Rudi.

__ADS_1


Mendengar perkataan Dokter Vanesa yang mengira Rudi adalah suamiku, aku menahan tawaku. Dan melihat Rudi hanya mengangguk angguk saja dengan wajah merasa bersalah, aku semakin ingin melepaskan tawaku.


"Ya sudah, sekarang saya akan melakukan USG." kara Dokter Vanesa menyiapkan alat untuk USG.


Dokter Vanesa memulai melihat perkembangan janinku. Aku sempat merasa takut jika janinku tak berkembang dengan semestinya. Melihatku merasa takut, Rudi memegang tanganku erat.


"Tak usah takut. Tenang saja." Bisik Rudi.


"Ini kandungannya berjalan 17 minggu ya. Untung saja janinnya berkembang dengan sangat baik. yang penting tetap diusahakan jangan sampai setres, jaga pola makan, perbanyak gizi dan vitamin lagi. Jangan terlalu setres itui hal yang paling penting. Jangan terlalu setres hanya karena suami." Terang Dokter Vanesa.


"Iya Dok." Jawabku.


"Ya sudah, Semua sudah selesai. Sebentar saya buatkan resep obat dan vitamin dulu." kata Dokter Vanesa.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Dokter Vnesa selesai membuatkan Resepnya.


"Ini resep obatnya yang harus ditebus ke apotik. Dan ini foto hasil USG hari ini." Kata Dokter Vanesa.


Aku dan Rudi keluar dari ruangan Dokter Vanesa dan menuju ke apotik untuk menebus obat. Diperjalanan menuju apotik aku tertawa melihat Rudi. Rudi penasaran dengan apa yang aku tertawakan.


"Kamu kenapa? Melihatku tertawa seperti itu? Sebahagia itukah kamu sekarang?" Tanya rudi penasaran.


Aku tak menjawabnya , hanya saja tertawaku semakin keras. Rudi menarik tanganku dan memaksaku menjawab pertanyaannya.


"Kamu tertawa kenapa?" Tanya Rudi tetap penasaran.


"Oh itu? kamu gak tau betapa takut dsan terkejutnya aku tadi?" Tanya R$udi menunjukkan nkekesalannya.


Aku semakin menertawakannya. Melihatku masih menertawakannya, Rudi meraih melingkarkan tangan kanannya tanda kesal kepadaku. Aku tetap tertawa dan dia melingkarkan tangannya semakin erat.


"Aduh aduh sakit!" Erangku.


Mendengar eranganku, Rudi melepaskan lingkaran tangannya. Tak sadar aku dan Rudi sudah melewati apotiknya.


"Ehh kita mau kemana?" Tanyaku bingung.


"Apotik lah." Jawab Rudi.


"Apotiknya sudah terlewati. Itu apotiknya disana." Kataku dengan menunjuk kearah apotik.


Melihat wajah Rudi yang tersipu malu, aku kembali tertawa. karena rasa malunya, Rudi buru buru meninggalkanku menuju keapotik untuk menebus obat dan vitaminku. Setelah selesai menebus obat, aku dan Rudi kembali keruang tunggu yang ada didepan ruangan Adi dirawat.


"Makasi dan maaf ya untuk semua. Makasihnya buat kamu yang selalu ada buat aku dan selalu nolongin aku. Dan maaf sudah banyak ngerepotin kamu. Gara gara aku kamu harus mengesampingkan semua urusanmu." Kataku merasa bersalah kepada Rudi.


"Kamu ngomong apa sih? Harus berapa kali aku ngomong? Aku senang bantuin kamu. Dan aku tak merasa terbebani sedikitpun. Aku justru senang bkarena aku bisa selalu ada buat kamu." Terang Rudi.

__ADS_1


"Tapi tetap saja, aku merasa tak enak sama kamu." Kataku lagi.


"Hei hei, aku baik baik saja. Aku senang kamu butuhin aku. Dan aku ikhlas ngelakuin ini semua." Kata Rudi.


Aku hanya tersenyum, dan Rudi membalas senyumku.


"Lain kali jangan merasa bersalah seperti ini lagi. Aku tidak suka kamu seperti ini. Aku lebih senang kamu repotkan. Kamu ingat itu. Oke?" Kata Rudi menegaskan.


Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Tangan Rudi mengelus kepalaku dengan lembut, sembali bibirnya tersenyum dengan begitu manis didepanku.


"Kita makan dulu yuk, kamu ingat kan kata Dokter lagi? Jangan bilang kalau kamu lebih suka aku dimarahin seperti tadi." Kata Rudi.


Aku hanya tersenyu tak menjawabnya. Dan Rudi hanya menatapku dengan tatapan tajam.


"Iya iya ayo cari makan." Ajakku.


Aku dan Rudi pergi kekantin Rumah Sakit untuk mencari makan.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Adi.


"Terserah kamu saja." Jawabku.


Rudi datang dengan membawa dua piring nasi beserta lauk dan 2 gelas air minum. Kurang lebih setengah jam aku dikantin bersama Rudi.  Setelah selesai makan, aku dan Rudi kembali keruang tunggu untuk menunggu Adi. Tiba diruang tunggu, aku melihat orangtua Adi sudah ada disana.


"Bapak Ibu kapan kalian sampai disini? Tanyaku.


"Kami baru saja sampai. Kalian sudah makan?" Tanya Ibu mertuaku.


"Sudah Bu. Aku dan Rudi baru saja selesai makan."  Jawabku.


"Kamu pulang saja, biar Bapak dan Ibu yang gantian nunggu disini. Kamu juga harus istirahat. Kamu sekarang sedang hamil muda." Suruh Ibu mertuaku.


"Tapi Bu..'Kataku belum selesai.


"Sudah nggak usah tapi tapian. Pokoknya kamu harus istirahat dirumah. Aku nggak mau kalau sampai kandunganmu kenapa napa." Kata Ibu mertuaku Khawatir.


Aku membenarkan perkataan Ibu mertuaku.Jadi aku menurutinya.


"Tapi tadi Bapak Ibu kamu sudah pulang. Katanya ada urusan." Lanjut Ibu mertuaku.


"Iya Bu, tidak apa apa." Jawabku.


"Kamu berani kan dirumah sendiri?" Tanya Bapak mertuaku.


"Iya Pak, nggak apa apa. Ya sudah aku pulang dulu ya. Assalamu'alaikum." Pamitku.

__ADS_1


Aku pergi meninggalkan Rumah Sakit, dan Rudi mengantarkanku pulang kerumah.


__ADS_2