
"Ibu, aku bisa jelasin pada Ibu. Aku dan Rudi tidak ada apa apa. Ibu percaya kan sama aku?" Kataku pada Ibu.
Ibu hanya diam tak mengatakan apapun. Tapi aku melihat dengan jelas, diraut wajahnya tampak sebuah kekecewaan yang sangat besar. Hatiku sangat gelisah dan takut jika Ibu tidak mempercayaiku lagi. Aku takut jika sampai beliau menyuruhku pisah dengan Adi. Membayangkan saja aku tidak berani.
"Ibu, maafin aku sudah membuat Ibu kecewa. Tapi benar Bu, aku tidak ada hubungan apa apa dengan Rudi. Ibu harus percaya sama aku." Kataku terus meyakinkan Ibu mertuaku.
"Kalau kamu merasa tidak bersalah, kenapa hatus minta maaf?" Tanya Ibuku dengan nada kecewa.
"Ibu salah paham sama aku. Aku takut Ibu membenciku dan menyuruhku pisah sama Adi." Kataku merasa takut.
"Tenang saja, Ibu bukan tipe orang yang egois dan memisahkan sesuatu yang bukan menjadi hak Ibu. Karena Ibu tau Adi sangat mencintai kamu, jadi Ibu tak ingin menghancurkan kebahagiaannya. Jika ada apa apa antara kamu dan Rudi biar Adi tahu sendiri. Ibu tidak akan ikut campur. Tapi kamu harus tau kalau Ibu sangat kecewa terhadapmu saat ini." Terang Ibu.
Mendengar perkataan Ibu mertuaku saat ini membuatku merasakan sakit hati yang sangat dalam. Aku tahu aku sangat mengecewakannya.
"Ibu ini hanya salah paham." Kataku frustasi.
"Entah itu salah paham atau tidak, tapi Ibu mendengar jelas perbincangan kalian. Dan itu bukan hubungan yang hanya sebatas teman biasa." Kata Ibu dengan nada marah.
Aku hanya diam. Suasana menjadi tegang sampai tak sadat Adi sudah pulang kerja.
"Aku pulang." Kata Adi.
Aku dan Ibu hanya diam. Tak ada yang menjawabnya. Mengetahui Adi sudah pulang, Ibu pergi ke kamar meninggalkanku. Adi yang melihat raut wajah Ibunya berbeda seperti biasanya menjadi bingung dan penasaran apa yang terjadi.
__ADS_1
"Ibu kenapa?" Tanya Adi.
"Enggak apa apa kok. Mungkin Ibu hanya capek." Kataku menutupi apa yang terjadi.
"Tapi raut wajah Ibu tak seperti biasanya. Dia terlihat sangat marah. Aku tau Ibu pasti sedang marah. Ibu marah sama siapa?" Tanya Adi penasaran.
Aku tak tau hatus menjawab apa, tapi tidak mungkin jika harus berterus terang kalau Ibu sebenarnya marah sama aku.
"Aku tidak tau. Setau aku Ibu tadi pergi kepasar. Aku kira Ibu hanya kecapean." Jawabku tetap berbohong.
Adi memahami perkataanku dan percaya. Dia mengangguk anggukkan kepalanya.
"Ya sudah kamu mandi dulu gih terus istirahat." Suruhku.
"Kamu mau ikut mandi?" Goda Adi dengan tatapan nakalnya.
"Ayolah." Ajak Adi menarik tanganku.
Aku berusaha menolaknya. Aku dan Adi tarik ulur tangan. Beberapa menit kemudian aku mendengar suara tangisan dari balik pintu kamarku.
"si kecil kita menangis." Kataku dengan tersenyum tanda kemenanganku. Adi melepaskan tanganku.
"Dialah malaikat penolongku." Lanjutku tetap tersenyum licik kepada Adi.
__ADS_1
"Yeach mengganggu saja." Gumamnya lirih.
"Hahahaha (tertawa) Aku bisa mendengarnya. Ya sudah kamu mandi dulu gih." Suruhku lagi.
Aku meninggalkan Adi, berjalan menuju kamar. Aku lihat si kecil sudah terbangun dari tidurnya.
"Kamu sudah bangun ya sayang ya? Bunda gendong ya." Kataku sambil mengambilnya untuk ku gendong.
Aku membawa si kecil keluar kamar. Dan tak sengaja aku mendengar Adi dan Ibu mengobrol diruang keluarga.
"Ibu kenapa? Kok kelihatan marah seperti itu?" Tanya Adi penasaran.
"Ibu tidak apa apa. Mungkin hanya capek saja." Jawab Ibu.
"Tapi Ibu terlihat marah." Kata Adi.
"Ibu tidak apa apa." Ibu berdiri meninggalkan Adi.
Ibu tiba tiba menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya kearah Adi.
"Kamu jangan terlalu percaya dengan apa yang kamu lihat. Karena belum tentu semua itu adalah kebenarannya." Terang Ibu.
"Maksud Ibu?" Tanya Adi tak mengerti.
__ADS_1
"Suatu saat nanti kamu akan tau sendiri maksud perkataan Ibu." Jawab Ibu.
Kemudian Ibu pergi meninggalkannya.