
Hari sudah semakin siang kini Alsa tengah duduk di meja kerja nya, dengan lincah tangannya mulai mencoret-coret kertas kosong menjadi sebuah design yang indah. Ya alsa memang sangat terampil dibidang ini, dilihat dari mulai dia membuka bisnis di butiknya hingga sekarang tak jarang banyak juga karyanya yang sampai dibawa ke kancah nasional maupun internasional, seperti saat ini, Alsa tengah mempersiapkan karya nya untuk dibawa ke LA bulan depan bersama dengan rekan desainer lainnya.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasinya yang tengah mencoret-coret kertas kosong. Dilihatnya Nara masuk membawa laporan bulanan yang dimintanya beberapa saat yang lalu.
"Sa, ada yang nyari kamu diluar" ucap Nara
Alsa seketika menoleh kearah Nara dan menghentikan kegiatannya.
"Siapa?" tanya Alsa dengan bingung, karena seingatnya hari ini dia tak memiliki janji temu sama sekali
"Mmm, itu... Cowok yang pernah pesen setelan bulan lalu!" jawab Nara
"Terus?" Alsa justru bertanya
"Ya,, dia mau nya kamu yang melayani, didepan udah ada yang lain, tapi nggak mau katanya!" Ucap Nara ragu
"Aduh,, kenapa lagi dia nyari aku, apa mau minta pertanggung jawaban karena aku bikin dia babak belur waktu itu ya?" Ucap Alsa takut
"Nggak tahu, coba aja temui, dia udah disini 30 menit yang lalu, tapi masih kekeuh maunya kamu yang nemui" ucap Nara yang diiringi dengan mengangkat bahu
"Ya udah,, aku kesana,, kamu lanjut aja ke yang lain," ucap Alsa memberi tahu
Setelah beberapa saat, Alsa melangkahkan kaki nya menuju ruang VIP dimana ada tamu yang katanya sedang menunggu. Siapa lagi kalau bukan pria yang sempat beberapa kali bertemu dengannya Alvarendra
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Alsa menampilkan raut wajah seramah mungkin
"Aku hanya ingin kamu memilihkan beberapa setelan yang cocok untuk ku" Jawab Alva
"Beberapa?" tanya Alsa ragu
"Ya beberapa, aku ada beberapa acara yang ingin ku kunjungi, jadi aku butuh saranmu setelan mana yang cocok untuk ku gunakan" jawab Alva meyakinkan
"Baiklah, acara apa yang ingin anda kunjungi tuan?" ucap Alsa
"Ku kira kita sudah bisa menghilangkan pembicaraan kita yang formal ini, bisakah kita berbicara layaknya teman?" tawar Alva kemudian
Tak ada jawaban dari Alsa membuat Alva sedikit geram. Pasalnya dia benci sekali jika diacuhkan, padahal sendirinya banyak acuh pada orang lain, tapi dia merasa kesal jika gadis dihadapannya lah yang mengacuhkan dirinya.
Setelah Alva memberitahu kegiatan yang akan dikunjunginya dengan segera Alsa mengambilkan setelan yang cocok dipakai untuk pelanggannya itu.
.
.
"Cukup" ucap Alsa dengan kesal sambil menarik kencang dasi yang tengah dia pasangkan dileher Alva. Pasalnya beberapa yang dikatakan oleh Alva bukanlah beberapa yang difikirkan oleh Alsa.
__ADS_1
"Kamu ingin membunuh pelangganmu disini?" ucap Alva terbatuk-batuk sambil melonggarkan dasi yang dipakainya
"Aku tak keberatan jika itu kamu" ucap Alsa berlalu membereskan kekacauan yang dibuatnya
"Inikah yang dinamakan beberapa?" tanya Alsa kesal
Alva yang melihat Alsa menggerutu seketika menyunggingkan senyumnya
"Aku hanya minta beberapa bukan?" Ucap Alva tanpa merasa bersalah
"Kamu sedang mengerjaiku kan?" selidik Alsa
"Tidak, aku memang sedang mencari setelan yang pas" sanggah Alva
"Baiklah,, bulan yang lalu kamu sudah membeli beberapa setelan untuk acaramu, bahkan setelan yang kamu pesan belum kamu ambil" ucap Alsa
"Dan hari ini kamu kembali lagi dengan membuat kacau butikku lagi, aku penasaran seberapa banyak acara yang kamu kunjungi?" tanya Alsa
"Jadi kamu mulai penasaran dengan kegiatanku Al" ucap Alva
"Al?" tanya Alsa bingung
"Tak bisakah aku memanggilmu dengan sebutan itu, kurasa kita sudah mulai dekat" kekeh Alva
"Cihh, siapa yang ingin dekat denganmu, dan siapa juga yang ingin tahu kegiatanmu" sinis Alsa
"Jadi" ucap Alva dengan mengangkat sebelah alisnya
"Tidak keduanya" kata Alva singkat sambil mendudukkan tubuhnya disofa
"Lalu" tanya Alsa
"Aku hanya menyukai karya yang kamu buat, semuanya nyaman untuk kupakai jadi lebih baik aku memilih banyak setelan untuk kegiatan ku kedepannya" jelas Alva
"Ya terserahlah, toh itu bukan urusanku" jawab Alsa
"Tetapi aku penasaran satu hal?" tanya Alva
"Soal apa?" tanya Alsa juga
"Beginikah sikapmu terhadap para pelanggan, sepertinya diawal kamu begitu sopan, tapi sekarang kamu bahkan berani memarahi pelangganmu " tanya Alva
"Tidak,!... hanya padamu, aku bahkan tidak masalah kehilangan pelanggan sepertimu, bukankah kamu juga sudah membeli banyak barang dibutikku" jawab Alsa
"Hei... Bukankah dari tadi kamu yang memintaku untuk menghilangkan pembicaraan formal kita, jadi kenapa kamu protes" kesal Alsa
Alva yang menyadari permintaanya hanya terkekeh geli,
__ADS_1
'Benar juga, sedari tadi aku yang memintanya untuk tidak berbicara formal' batin Alva terkekeh
"Jadi,... Setelah kamu tidak berbicara formal kamu melupakan kalau aku masih pelangganmu?" goda Alva
"Benar, hari ini aku benar-benar melupakan tata krama ku terhadap pelanggan" ucap Alsa
"Jadi apa itu hanya ditunjukkan padaku saja" Tanya Alva
"Cihh, sepertinya memang iya,, dan kamu benar-benar jago membuat orang marah" jawab Alsa
"Ya,, kuakui, hari ini kamu terlihat kesal, kalau boleh tahu ada apa?" tanya Alva ingin tahu
"Ya, kamu benar,, sebenarnya tadi pagi kondisi hati sangat sangat baik baik saja, tapi tidak saat kamu datang kemari" gerutu Alsa menekankan kata SANGAT seraya menatap Alva tajam
"Bukankah aku masih memiliki hutang padamu" ucap Alva,
Alsa yang kebingungan hanya diam saja sambil mengerutkan keningnya, dia sama sekali tak ingat jika pria didepannya memiloki hutang padanya
"Hutang apa?" tanya Alsa penasaran
"Berhubung hari ini kamu sedang kesal, mungkin saatnya aku membayar hutangku, bagaimana?" tawar Alva
"Hutang apa yang kamu maksud kan?" ucap Alsa yang masih kebingungan
Ctakk
Alva menjitak kening Alsa membuat siempunya mengaduh kesakitan
"Kau lupa, aku punya hutang untuk membelikanmu ice cream, berhubung hari ini kamu sedang kesal bagaimana jika kita keluar, kurasa kepalamu perlu didinginkan" ujar Alva
Alsapun kembali mengingat bahwa Alva pernah berencana untuk meminta maaf dengan membelikannya ice cream.
Melihat Alsa yang hanya diam ditempat dengan segera dia menarik tangan Alsa agar mengikuti langkahnya. Alsa yang kaget segera menepis tangannya dari genggaman Alva.
"Aku tidak akan membawamu seperti kedai kemarin, aku takut kamu salah paham padaku" jelas Alva setelah melihat keraguan Alsa
"Maaf" ujar Alsa
"Mmmm, hari ini aku tidak bisa pergi, ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan , dan lagi, kamu tidak berencana untuk kembali kekantor" sambung Alsa
"Selesaikan semuanya,, pegawaiku yang akan melajutkannya, jika perlu setelan yang lain, mintalah recomend dari nya" ucap alsa berlalu meninggalkan ruangan
'Apa aku ditolak hari ini,, mengejutkan,' batin alva kebingungan menatap punggung alsava yang meninggalkannya
Alsava yang tiba-tiba pergi membuatnya tak ada mood untuk melanjutkan pilihannya. Alva meminta pegawai yang melayaninya membungkus setelan yang sebelumnya telah di pilihkan untuknya
'Aku baru saja berusaha mendekatimu. Mencoba mendekatimu. Meskipun denga cara seperti ini agar aku bersama denga mu. Tapi belum sempat aku melangkah maju, kau sudah menolakku'
__ADS_1
'Usaha yang ditolak' Gumam Alva dalam hati
Setelah melakukan pembayaran dan membereskan seluruh setelan yang dia pesan Alva kembali kekantor dengan perasaan kecewa