
Alva menggeliat malas mengedarkan pandangannya, dia celingukan mencari seseorang karena tak ada siapapun diruangan itu
"Udah bangun" ucap Alsava dari arah pintu keluar
"Hmm" jawab Alva masih setengah mengantuk
"Kamu dari mana?" tanya Alva dengan suara serak khas bangun tidur
"Nih, beli bahan makanan" jawab Alsava menenteng barang belanjaannya
"Kok nggak bangunin aku," Ucap Alva menghampiri Alsava yang tengah memasukkan bahan makanannya kedalam kulkas
"Kamu tidur pules banget, aku nggak tega" ucap Alsava
Alva lalu merengkuh Alsava dari belakang membuat Alsava merasa risih
"Apa sih Al, udah Ah mandi dulu sana" tolak Alsava mendorong tubuh besar Alva
"Aku masih rindu Al, sebentar saja" kekeuh Alva sambil mengeratkan pelukannya
"Sebentar dari mana, kamu kalau udah kayak gini pasti lama"
"Manja pengen peluk terus" tolak Alsava
"Huhft" Alva mengembuskan nafasnya kasar, dia berjalan meninggalkan Alsava dan masuk kekamar yang biasa dipakai Arkana
Setelah beberapa menit Alva keluar dengan tubuh yang lebih segar dari sebelumnya, terlihat Alsava tengah memasak juga Arka yang sedari tadi tak dilihatnya tengah berbaring dengan ponsel ditangannya yang Alva yakini tengah bermain game
Alva berjalan menghampiri Alsava yang tengah memasak, Alva lalu mendudukkan tubuhnya di meja makan sembari menunggu Alsava menyelesaikan masakannya
"Kamu kenapa?" tanya Alva membuat Alsava terlonjak kaget, karena dilihatnya Alsava yang tengah memasak sambil sesekali melamun
"Heh, kenapa apanya" jawab Alsava gugup
"Kamu nggak apa-apa kan?, ada yang sakit" tanya Alva sekali lagi, dia mendekati Alsava dan meletakkan punggung tangannya dikening Alsava
"Aku nggak kenapa kenapa kok" jawab Alva menarik tangan Alva dari keningnya
"Udah yuk makan, aku siapin semuanya dulu" Alsava mengalihkan perhatian
Alva mempercayai perkataan Alsava dan membantunya menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga
Ya.. Selama Alva berpacaran dengan Alsava kini Alva lebih sering mengunjungi Alsava dimanapun Alsava berada, dia rela mengantar jemput Alsava walaupun Alsava menolak nya
__ADS_1
Alva juga sering memasak dan makan bersama dengan Alsava, dia menganggap hal kecil seperti ini dapat membangun komunikasi nya terhadap Alsava lebih baik lagi, dan lagi Alva bisa berlama-lama berdekatan dengan sang kekasih
Bahkan hubungannya dengan adik sang kekasih Arkana juga sudah mulai membaik, Arkana bahkan lebih menempel kepada Alva dari pada Alsava, karena saat senggang Alva bisa diajak bermain game, itulah yang disukai Arkana
⭐⭐⭐⭐
Dikantor
Alva tengah sibuk dengan berkas-berkas nya yang menumpuk, banyak meeting yang harus dia hadiri terlebih meeting dengan beberapa client nya membuat Alva sedikit kesal
Dengan pekerjaan yang menumpuk seperti ini akan lebih sedikit waktu yang akan diluangkannya dengan sang kekasih, apalagi Alva tak cukup jika hanya satu atau dua jam saja berdekatan dengan Alsava
"Apa jadwal ku kali ini" tanya Alva pada Raefal
"Satu jam lagi akan ada meeting dengan para pemegang saham"
"Malam nya akan ada pertemuan dengan client diresto xx" jawab Raefal membacakan jadwalnya dengan rinci
"Bisakah ditunda?" tanya Alva
Raefal menggelengkan kepalanya membuat Alva merasa kecewa, karena faktanya, hari ini Alva tak bisa menemui Alsava sama sekali
"Kapan ada jadwal kosong?" tanya Alva tiba-tiba
"Maksud nya bos" tanya Raefal tak paham
"Dalam satu minggu kedepan tidak ada jadwal kosong bos, karena proyek dibandung harus segera diselesaikan secepatnya" Raefal menjawab dengan jujur
"Huft" Alva mengembuskan nafasnya kasar
"Lalu kapan" Alva masih bertanya tentang jadwal nya
"Setelah proyek dibandung selesai"
"Hei Al, kamu nggak pernah menanyakan jadwal kosong mu, tapi kali ini kamu bertanya tentang jadwal kosong" tanya Raefal yang kini menggunakan bahasa persahabatan
"Ya,, aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Alsava" jawab Alva malu-malu
"Ya ku harap semuanya cepat selesai, agar direktur satu ini segera menemui kekasih hatinya" goda Raefal
"Kurang ajar kamu" kesal Alva melempari Raefal dengan pena dimejanya
***
__ADS_1
Benar saja selama lebih dari satu minggu tak ada jadwal kosong sama sekali untuk Alva, bahkan waktu untuk menemui Alsava pun tak ada membuatnya kesal, dia rindu dengan sosok Alsava yang selalu menghantui fikirannya
"Bagaimana dulu cara untuk melamar kekasihmu?" tanya Alva tiba-tiba pada Bimo sang sekertaris
Alva tidak ingin bertanya pada Raefal karena selain pria itu tak memiliki kekasih dia juga akan menggodanya habis habisan jika tahu kalau Alva akan melamar. Jadilah sekarang dia memutuskan untuk bertanya kepada orang lain
Tak ada orang lain yang dipercayanya dikantor, dan hanya bimo orang kepercayaan Alva selain Raefal sang sahabat, sebenarnya dia juga ingin menyelesaikan semua nya sendiri, tapi melihat Bimo yang beberapa bulan lalu telah menikah, dia penasaran dengan cara kebanyakan pria melamar sang kekasih hatinya
"Mak.. Maksud direktur?" sentak Bimo kaget mendengar pernyataan dari sang direktur
"Apa pertanyaanku kurang jelas" jawab Alva malas mengulangi pertanyaannya
"Ti.. Tidak direktur"
"Saya hanya mengajaknya makan malam dan langsung melamarnya" jujur Bimo
"Lalu" tanya Alva menggantung
"Lalu saya diterima" jawab Bimo
"Menurutmu apa semua wanita akan suka jika kita melamarnya langsung saat makan malam?" Alva bertanya
"Mmm.. Ya kebanyakan direktur" jujur Bimo bingung
"Menurutmu, bentuk lamaran yang seperti apa yang kemungkinan kecil akan ditolak" tanya Alva lagi membuat Bimo semakin bingung, dengan gugup dia memberanikan bertanya kepada atasannya pertanyaan yang langsung terngiang dikepalanya
"Apa direktur Alva akan melamar kekasih direktur" tanya Bimo hati-hati, dia begitu penasaran dengan pertanyaan direkturnya, tapi setelah melontarkan pertanyaan dia dihatui dengan ketakutan kalau dia akan langsung dipecat karena pertanyaan bodohnya
Namun beda dengan ekspresi yang dikeluarkan oleh sang direktur, bukannya marah justru sang direktur justru tersenyum malu dengan menganggukan kepalanya, suatu hal yang langka yang pernah dilihatnya selama dia bekerja disini
"Ah selamat direktur" ucap Bimo kegirangan
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku" kata Alva kembali memasang wajah dinginnya
Bimo menjelaskan apa saja yang biasanya di sukai oleh wanita, hal apa yang membuat wanita benci, dan lagi Bimo dengan antusias memberikan beberapa cara untuk melamar sang kekasih, yang Alva katakan kemungkinan kecil ditolak saat dilamar
Alva mendengarkan bahkan sesekali dicatat hal yang menurutnya bagus untuk diikuti, dengan perasaan yang sedang baik dengan senang hati Alva memberikan bonus untuk Bimo karena telah membantunya
"Tapi sebagaimana pun kita memberikan kejutan lamaran untuk kekasih kita"
"Jika kita saling mencintai hal yang dikhawatirkan direktur Alva tidak akan terjadi"
"Karena.. Kalau saling mencintai apapun yang kita berikan kata ditolak itu hanya kemungkinan kecil yang akan terjadi" Bimo memberi nasehat pada Alva
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, Bimo pamit undur diri dari ruangan Alva dengan perasaan yang amat sangat senang
"Sebentar lagi aku akan memiliki mu" ucap Alva kegirangan