
'Author Pov'
Setelah kepulangannya dari cafe Alsava berencana mampir kemini market yang buka 24 jam untuk membeli beberapa kebutuhannya, setelah berkeliling cukup lama dan melihat keranjang belanjanya penuh dengan segala kebutuhannya Alsava menyudahi kegiatannya memilah dan memilih, dia bergegas menuju kasir untuk membayar semua barang belanjanya.
Dengan kesusahan Alsava membawa dua kantong besar barang belanjaan ditangan mungilnya, dia sangat kesulitan saat akan meletakkan barangnya dibagasi, akhirnya dia memilih untuk meletakkannya dijok belakang mobilnya
Alsava yang tengah mengendarai mobilnya menuju apartement merasa tak nyaman, pasalnya sejak dia keluar dari minimarket dia merasa diikuti.
Awalnya dia merasa biasa saja, Alsava mencoba menepis hal negativ yang ada difikirannya, dia mencoba bersikap santai sesekali dia melihat kearah spion mengamati pergerakan dibelakangnya.
Benar saja, mobil hitam terlihat tengah membuntutinya dari arah belakang, Alsava mencoba tenang didalam mobil, dengan beranggapan bahwa tujuannya sama dengannya
Dia mencoba berfikir positif, karena jalan yang dilaluinya tak hanya menunjukkan satu arah saja, Alsava yang masih dengan santainya mengendarai mobil yang akan membawanya keapartement
Saat membelokkan mobil nya ke area parkir yang tersedia di gedung apartementnya Alsava dibuat terkejut, pasalnya mobil yang sedari tadi mengikutinya ikut memasuki basement dimana tempat memarkirkan mobilnya
Alsava merasa ketakutan dibuatnya, dia berfikir bahwa selama ini dia tak memiliki musuh sama sekali, tapi kenapa ada yang membuntutinya sampai seperti ini, cukup lama dia berada didalam mobil berharap pemilik mobil segera meninggalkan area parkir atau apapun itu
Alsava berfikir jika ada yang macam-macam dengannya dia bisa langsung tancap gas dan pergi meninggalkan parkir meskipun harus menabrak orang tersebut, oleh sebab itulah Alsava tak berani keluar dari mobilnya melihat suasana yang begitu sepi saat ini
Menunggu hampir tiga puluh menit, si pemilik mobil tak menunjukkan adanya pergerakan bahwa akan keluar dari dalam mobilnya maupun mendekati Alsava, membuat Alsava setengah ketakutan
Dengan berbagai keraguan, akhirnya Alsava membuat keyakinan yang kuat dan mencoba berfikir positif bahwa tak akan terjadi apapun pada malam ini, toh selama ini dia tak memiliki musuh sama sekali dan dia merasa selalu menanam kebaikan, dia membuat keyakinan bahwa tak akan terjadi apapun pada malam ini
Alsava berdoa meminta perlindungan dan juga keselamatannya malam ini, cukup lama Alsava berdoa, setelah beberapa saat dia mencoba keluar dari dalam mobil dan berlari secepat yang ia bisa meninggalkan mobil juga belanjaanya yang dia beli di mini market beberapa waktu yang lalu yang masih berada dalam jok belakang mobilnya
Merasa sudah berada didalam gedung apartemennya Alsava merasa sedikit lega, tapi lagi-lagi kelegaan itu tak berlangsung lama saat Alsava menangkap sesosok pria berhoddie biru tengah berjalan kearahnya
Dengan cepat Alsava berlari kearah lift untuk segera mengantarkannya ketempat nya tinggal, namun bukannya kelegaan yang didapatkannya justru ketakutan yang semakin menghantui dirinya melihat seorang pria tadi justru berlari kearah tempatnya berdiri sekarang
Dengan segera Alsava memencet tombol agar pintu lift segera tertutup. Alsava kaget juga merasa lega karena pintu lift segera tertutup, tapi sebelum tertutup dia melihat bahwa pria yang membuntutinya tengah berusaha membuka pintu lift yang dia tempati sekarang. Alsava langsung memencet tombol 10 dimana lantai tempat apartementnya berada
Alsava yang merasa ketakutan berusaha untuk selalu berfikiran positiv, berada didalam lift sendirian ditengah malam seperti saat ini membuatnya begitu tampak ketakutan, ditambah insiden seseorang yang tengah mengikutinya tadi dibawah sana
Entah mengapa perjalanannya menuju lantai atas terasa lebih lama dari biasanya, waktu yang biasanya hanya memakan beberapa menit saja terasa berjam-jam didalam sana, Alsava begitu ketakutan dibuatnya
__ADS_1
Keringat terlihat membanjiri wajah cantiknya, bahkan jika dilihat baju nya pun terlihat basah karenanya, Alsava sangat ketakutan, benar-benar takut bagaimana jika terjadi sesuatu padanya
Banyak berdoa yang dilakukannya saat ini, air matanya tak terasa membasahi pipi mulusnya, dengan ketakutan terua dilafadzkannya ayat-ayat suci Al-qur'an untuk meminta perlindungan
Ting
Bunyi lift pertanda bahwa dia telah sampai dilantai tempatnya tinggal, dengan segera dia melangkahkan kaki nya keluar dari lift.
Alsava bersender di dinding putih tak jauh ditempat nya yang baru saja keluar dari lift
Alsava berusaha menetralkan nafasnya yang tersengal-sengal, menetralkan detak jantungnya pula yang berdegup dengan sangat kencang, dia begitu sangat ketakutan, setelah beberapa menit dirasa dia bisa menguasai dirinya Alsava berjalan menuju tempatnya tinggal
Namun baru beberapa langkah Alsava akan meninggalkan tempat istirahatnya tadi terdengar suara lift sampai dilantai tempatnya tinggal, dilihatnya pria berhoddie yang mengikutinya tadi sampai kemari
Alsava semakin dibuat ketakutan, dengan cepat dia berjalan menuju apartementnya, pria itu tetap mengikuti kemana Alsava pergi, seolah benar-benar mengikuti Alsava
Dengan pikiran kacau dimencoba untuk menghubungi siapa saja yang bisa dihubunginya namun banyak nama yang ada didalam pikirannya saat ini
'Aku tidak bersalah'
'Aku tak melakukan apa-apa kan'
'Masuklah kedalam apartementmu'
'Apartement mu ada dilantai ini kan'
'Tolong jangan mendekat aku mohon, aku mohon*'
'Tolong jangan ikuti aku!' Mohon Alsava dalam hatinya yang masih dalam ketakutan
'Aku harus menghubungi seseorang' Yakin Asava panik
'Tunggu tapi siapa' Tanya Alsava bingung
'Kaila... Ya Kaila' yakin Alsava
__ADS_1
'Ah Tidak' ucap Alsava menghentikan aktivitasnya mendial nomor sahabatnya
'Kalau dia kemari dia akan dalam bahaya, aku tak mungkin membiarkannya dalam bahaya' ucap Alsava kebingungan
'Siapa lagi yang harus ku hubungi' tanya Alsava dengan air mata yang sudah bercucuran
'Alva,,,, mungkin dia mau membantuku, tolong Al aku mohon' dengan penuh harap dia memohon agar Alva mau membantunya begitu fikir Alsa, Hanya nama Alva yang saat ini ada dalam fikirannya
Dengan segera dia mendial nomor Alva namun lagi lagi sayang nomor Alva tak dapat dihubunginya membuat Alsava semakin frustasi dibuatnya
Perjalanan menuju tempat tinggalnya terasa begitu lama baginya, suasana yang sepi semakin menambah ketakutan dalam dirinya. Dilihatnya kebelakang pria tersebut terus mengikutinya dengan santai dengan tangan berada disaku hoddie nya. Membuat Alsava semakin ketakutan dibuatnya
Dengan cepat dia berlari kearah apartementnya, naasnya karena gugup dia salah memasukkan password pintu apartementnya. Berkali-kali Alsava berusaha memasukkan kode passwordnya yang lagi-lagi salah, dengan air mata yang terus mengalir dia berusaha untuk terus mendial kode password tempat tinggalnya
Pria itu semakin dekat dan semakin dekat, Alsava yang melihat itu tak dapat berbuat apa-apa, hanya tinggal beberapa langkah antara Alsava dengan pria itu, dia merasa semakin ketakutan tak menyerah dia terus mendial kode password nya hingga pria iti semakin memdekat kearahnya
"Aaaaaa" Jerit Alsava keras yang langsung terduduk lemas didepan pintu kamarnya
"Jangan mendekat Huuu"
"Jangan sakiti saya"
"Jangan sakiti saya" rancau Alsava dengan air mata yang terus mengalir dengan derasnya
"Saya mohon jangan sakiti saya"
"Saya tidak tahu apa salah saya, tolong jangan sakiti saya" tangis Alsava semakin pecah
"Pergi... Pergii...." Alsa menggelengkan kepalanya
"Mamaaaa"
"Tolong jangan sakiti saya" dengan ketakutan Alsava merancau memohon
Merasa pundaknya ditepuk yang dia yakini adalah pria yang mengikutinya membuat nyali Alsava semakin menciut.
__ADS_1
"Aaaaaa,, jangan tolong"
"Pergi... Pergi...."