
'Alsava Pov'
Aaaaaaaaaaa
Jerit ku juga Kaila tak percaya.
"Ini beneran punya kamu Ra" ucapku yang masih tak percaya
"Iya" jawabnya meyakinkan
Aaaaa
Jeritku tak percaya, Akupun memeluk Nara dengan erat. Cukup lama kami berpelukan.
Tak pernah kupikirkan sebelumnya alasan Nara tak ingin diantar jemput lagi oleh ku, di depan kami bertiga terparkir sebuah motor matic yang sangat cantik, dan itu membuat ku sangat-sangat senang dibuatnya.
"Ini aku sengaja menyisihkan sebagian dari gaji aku juga bonus yang kamu kasih ke aku," ucapnya jujur
"Awalnya aku nggak mau buat terima bonus dari kamu melihat kebelakang kamu selalu bantuin aku, tapi kamu sempet marah, bahkan bulan lalu kamu juga marah"
"Jadinya aku tabung aja buat beli ini" kata Nara menjelaskan dengan menunjuk motor miliknya
"Aku nggak mau kalian terus-terusan antar jemput aku, kalian sendiri juga nggak kasih aku buat naik angkutan umum,, jadinya aku beli ini nggak apa-apa kan?" katanya yang masih dalam pelukanku
"Nggak apa-apa,! Ya ampun Ra,,, kenapa nggak bilang-bilang sih!" ucap ku gemas dengan mengeratkan pelukanku ke Nara
Ctakk
Keningku dijitak keras oleh Kaila
"Eh cantik,, yang marah-marah dulu siapa coba, gimana caranya si Nara mau ngomong ke elo" kata Kaila
"Hehe" ucap ku cengengesan
"Makanya, besok-besok kalau ada apa-apa diomongin dulu, kasih waktu kek buat jelasin masalahnya, bukan malah pake acara kabur-kaburan segala" sambung Kaila mencubit hidung kecil ku gemas
"Iya iya maaf,, habisnya kan aku kesel, tiba-tiba si Nara minta berhenti buat antar jemput aku, maaf ya Ra!" ucapku pada Nara
"Aku yang minta maaf Sa,, aku nggak jelasin masalahnya dulu ke kamu" jawab Nara yang memelukku dengan erat
"Oke,,, besok lagi kalau ada masalah diomongin baik-baik Sa, Ra,,, gue pusing lihat lo berdua diem-dieman"
"Yang satu pake takut mau minta maaf, yang satu kalau marah main kabur-kaburan" ucap Kaila sambil menyentil kening ku dan juga Nara
"Iya" jawab ku dan Nara berbarengan
"Jadi udah baikan kan sekarang?" tanya Kaila
Kamipun menganggukan kepala, setelah berlama-lama kami mengobrol didalam cafe, karena malam semakin larut akhirnya kamipun pulang kerumah dengan membawa kendaraan masing-masing
Kedewasaan itu bukan dilihat dari seberapa banyak umur yang kita punya, tapi seberapa banyak kita bisa menyelesaikan masalah yang kita hadapi, komunikasi adalah hal yang paling penting dalam sebuah hubungan, hubungan persahabatan, percintaan, maupun kekeluargaan.
__ADS_1
Meninggalkan atau menghidar dari masalah bukanlah sesuatu pemecahan masalah, tapi menambah masalah, jika kita tak mau mendengarkan penjelasan maka masalah akan tetap hidup bahkan akan bertambah besar
'Ternyata aku masih kayak anak kecil yang suka ngambek tanpa mau menemukan solusinya dulu' ucapku dalam hati
Akupun melajukan mobilku menuju apartement tempat ku tinggal
⭐⭐⭐⭐
"Selamat pagi..." Sapaku
"Mbak Alsava.....!?" Jerit seluruh karyawan kegirangan sambil memelukku
"Ehh.. Ehh,,, kenapa nih!" tanya ku membalas pelukan mereka
"Mbak Alsa kemana aja sih, kok nggak pernah dateng ke butik akhir-akhir ini" ucap salah satu karyawanku yang paling muda
"Mbak minta maaf ya,, mbak kemarin ada di cafe sibuk banget jadi belum sempet kesini!" bohong ku mencubit gemas pipi nya
"Oh iya, nih buat kalian dibagi rata ya, oke!!" kata ku memberikan aksesoris yang ku beli dari LA waktu itu
"Ihhh, cantik banget mba, dari mana ini, mbak Alsa abis jalan-jalan ya?" goda karyawanku yang lain
"Iya, jalan-jalan sambil kerja,!! ucap ku melenggang pergi
"Mbak Alsa!" panggil salah satu karyawanku, seketika akupun menoleh
"Eh iya,,, kenapa?" tanyaku saat sudah menghandle pintu ruanganku
"ehh, siapa?" tanya ku penasaran
"Mmmm, nggak tahu, tapi orang nya ganteng, tinggi, putih, gagah, mirip oppa-oppa korea gitu" katanya
"Cowok!!" kataku yang semakin penasaran
"Ya cowok dong mba, kan tadi udah aku bilang, ganteng,.. Tinggi... Putih... Gagah.. Mirip oppa kore lagi.!" Katanya mendeskripsikan
"Masak cewek sih,!!" gerutu nya
"Ihhh, muka kamu merah banget!!" kataku menyentuh pipinya
"Kamu suka ya!" goda ku sambil menyenggol lengannya
"Iiihhh, apa sih mba,, suka lah orang ganteng begitu mana ada yang nggak suka, sayangnya dia nggak suka tuh sama aku, suka nya sama mba Alsa!" katanya cengengesan
"Apasih!" sanggahku
"Iya,.... kemarin dia kesini, eh kemarin, kemarin sama kemarinnya lagi juga kesini" katanya
"Terus?" kataku
"Ya alasannya sih beli setelan jas, tapi nggak tahu nya yang ditanyain mba Alsa mulu, oh iya...." katanya lalu berlalu meninggalkanku yang masih kebingungan
__ADS_1
"Apaan sih ni anak" ucapku menggelangkan kepala
Cklekk
Pintu ruangan ku terbuka
"Kemarin dia nitip ini ke saya, katanya buat mba Alsa" ucapnya memberikan dua paper bag padaku
"Eh apa nih" tanya ku menerima paper bag yang dibawanya
"Nggak tahu lah mba,, mba Alsa lagi marahan ya sama pacar nya?" tanya nya dengan menaik turunkan alisnya menggoda ku
"Apa sih,, nggak ada pacar pacaran, udah sana balik lagi kedepan, tapi makasih ya" usir ku menyuruhnya keluar dari ruang ku
Dengan rasa penasaran tangan ku meraih dua paper bag yang berada diatas meja ku, kubuka paper bag berwarna coklat, kubuka dan kuraba penasaran isi didalamnya
"Aaaa" aku terpekik kaget saat kurasakan tanganku menyentuh bulu halus berwarna putih bersih
"Apa sih ini?!" aku yang penasaran dengan cepat mengeluarkan isi didalamnya, kulihat sebuah boneka kucing berwarna putih bersih nan imut seperti anak kucing berada dalam genggamanku
"Hah, boneka" ucapku heran
Ternyata ada note kecil berada dalam paper bag tersebut
'Ini kubeli saat kita berada di farmers market, aku lupa memberikannya padamu, kulihat dia sangat imut, mirip dengan mu berwajah imut dengan hidung yang kecil, Alva'
Begitu isi tulisan note kecil itu, seketika membuat pipiku memerah karena tersipu malu
"Imutnya" kataku mengelus bulu lembut boneka yang kupegang
Disampingnya masih ada paper bag berwarna biru, dengan penasaran kubuka isi nya
"Olaf?" kataku penasaran aliskupun sepertinya terlihat menyatu bak garis lurus
Benar saja, didalam nya masih ada note kecil sama seperti sebelumnya, karena penasaran dengan segera kubaca isi tulisan dalam note kecil itu, terlihat disana
'Olaf yang ceria, Oh... hidung wortelnya yang panjang mengingatkan ku padamu, siapa tahu dengan selalu berdekatan dengannya, hidungmu tak tertinggal lagi saat menabrakku dilain waktu, kkk, Alva'
Karena kesal kurobek-robek note yang telah kubaca sebelumnya, kupukul hidung panjang boneka didepanku karena gemas
"Arghh,, Al menyebalkan, bisa-bisa nya membelikan semua boneka ini karena mengingat hidungku yang kecil, menyebalkan.. Menyebalkan" kesal ku memukul olaf, kenapa dia yang kupukul, karena dia yang hidungnya paling mancung. Mungkin jika dia bisa merasakan semua pukulanku ku yakin dia akan protes karena ketidak bersalahannya menjadi korban kekesalanku
Kubuka paper bag terakhir berwarna merah, kurasakan lebih berat dari sebelumnya, kubuka kasar pembungkus yang membungkus isi didalamnya
"Coklat" kataku yang masih kesal
Diatasnya juga berisi note yang bertuliskan
'Aku yakin sekarang kau sedang marah dengan kedua boneka itu, maka dari itu ku beri sekotak coklat untuk menenangkan amarahmu kkk, jangan lupa untuk dimakan, Alva'
"Argggh,, bisa nggak sih ni orang nggak bikin aku kesel,, adaaaaa aja tingkahnya, awas aja nanti" ucapku dengan kesal
__ADS_1