Jodohku Ternyata Dia

Jodohku Ternyata Dia
Halusinasi


__ADS_3

Banyak yang memandang kagum kearahku, Ah.. Mungkin karena kecantikan ku yang mereka bilang aku seperti bidadari, ckk lucu sekali perumpamaan mereka


Kulangkahkan kaki ku semakin mendekatinya, tapi mata ku begitu enggan untuk menatap wajahnya, kutundukkan wajahku sambil berjalan semakin dekat dengan nya


Hah.. Jantungku mulai berdetak sangat kencang didalam sana seolah akan keluar dari tempat nya


"Silahkan pengantin wanita mencium tangan suaminya" interuksi Mc


Mungkin karena melihat ku hanya terdiam saja sambil menundukkan kepala ku, Aaaa.. Apa peduliku, segera ku raih tangannya untuk ku cium, setelah nya dia pun mencium kening ku, kurang ajar batin ku ingin sekalu aku memukul nya. Mencium ku tanpa seizin dari ku dan di depan banyak orang, ahh... Malu nya aku, tapi... Kami sudah sah menjadi suami istri bukan kah tak apa, tapi tetap saja aku malu


Diraihnya tangan ku untuk memasangkan cicin pernikahan kami di jari manis ku, dan berbalik aku memasangkan cincin di jari manisnya, ku dengar lirih dia terkekeh saat aku memasangkan cincin di jari manis nya


'Apa yang dianggapnya lucu'


'Apa yang membuatnya tertawa seperti itu' batin ku


"Tidakkah kamu ingin melihat wajah tampan suami mu" bisik nya lirih di telinga ku


'Kurang ajar, kenapa dia senarsis ini' gerutu ku dalam hati


'Apa sebanyak ini populasi pria narsis di dunia ini' gerutuku lagi


Dengan kesal kudongakkan wajah ku untuk memandang seperti apa wajah suami ku yang dia bilang tampan itu


Tanpa sadar air mata ku berjatuhan menatap wajah di depan ku, segera kuhapus air mata ku karena lagi-lagi tak ingin aku terlihat rapuh di depan banyak orang di hari bahagia ku


"Maaf" ucap ku saat kulihat dia mengerutkan keningnya melihat ku menitikkan air mata


"Kamu cuma halusinasi Alsava" gumam ku lirih


"Kamu berhalusinasi" ucap ku menguatkan dengan kepala ku yang masih tertunduk


Aghh... Malu rasanya karena air mata ini tak mau berhenti mengalir dan terus membanjiri pipi ku yang sudah dipoles sedemikian rupa


Kupandangi sekali lagi wajah suami ku, namun lagi-lagi aku berhalusinasi menganggap dia pria yang sangat ku kenal


'Sebegitu rindukah sekarang aku'


'Sebegitu ingin kah aku bertemu dengan mu'


'Sampai sampai dia begitu mirip dengan mu' batin ku dalam hati

__ADS_1


Ku usap lagi pipi ku yang sudah berderai air mata, tapi sedetik kemudian tangan hangat menyentuh pipi ku, menghapus air mata ku yang berjatuhan


"Bahagia sekali pengantin wanita nya, sampai menangis seperti itu bertemu dengan suaminya" ucap salah seorang wanita yang ku yakini dari keluarga yang kusebut suami ku


"Iya..."


"Tangis bahagia memang tidak bisa digambarkan dengan apa apa lagi" timpal yang lainnya


Biarlah orang lain menganggap ku seperti itu, ada baiknya mereka tak tahu bagaimana perasaan ku sesungguhnya, ku lirik Mama yang duduk tak jauh di belakang Papa, Mama juga tengah menitikkan air mata nya, air mata bahagia tentu saja, anak gadis kesayangannya kini sudah menikah pasti itu yang difikirkan oleh Mama


Kulirik lagi disebelah Mama, terlihat sesosok wanita yang begitu cantik meski sudah termakan usia, yang kuyakini seumuran dengan Mama, tapi kecantikannya tak bisa ku gambarkan lagi, beliau juga tengah menitikkan air mata nya memandang ku dengan sangat dalam, apa yang difikirkannya aku tak tahu


Disampingnya terlihat sosok yang sangat tampan dan gagah meski usia nya juga sudah tak muda lagi, wibawa nya terlihat jelas dari raut wajah nya, ahh.. Itukah Papa mertuaku dan disamping nya ibu mertuaku, batin ku dalam hati


Kuyakinkah diri ku lagi, kupandangi sekali lagi sosok suami ku, kulihat dia juga tengah memandang lekat wajah ku


Tes...


Air mata ku berjatuhan lagi


'Jangan sekarang' gerutu ku dalam hati


"Hufht" aku mengembuskan nafasku kasar


"Lagi-lagi kamu berhalusinasi Alsava" gumam ku lirih


Kudengar lagi samar-samar dia terkekeh, menertawai aku kah, bolehkah aku memukul nya disini, ahh bisa gila aku, bolehkan aku pergi sesegera mungkin dari sini


Berbagai fikiran berdatangan di otak ku, tanpa sadar tangan hangat mulai menyentuh pipi ku, 'nyaman' itulah yang kurasakan


"Kamu bukan berhalusinasi Al sayang" ucap pria didepan ku lirih


Mendengar ucapan nya kudongakkan lagi wajah ku menatap wajah nya, berharap kalau semua nya memang benar bukan halusinasi


Aku menggelengkan kepalaku tak percaya, mana mungkin aku bukan berhalusinasi, ah.. Pasti yang di ucapkannya juga halusinasi ku semata, tak mungkin dia disini, lucu sekali keinginan mu Alsava sangat lucu, jangan lagi


Kualingkan wajah ku menatap yang lain, tapi dengan sigap dia mencegah ku dengan menangkup pipi ku dengan kedua tangan besarnya


"Buang semua yang ada di dalam fikiran mu"


"Sekarang tatap aku dengan lekat dan lihat siapa aku" ucap nya menuntunku untuk menatap wajah nya

__ADS_1


Aku mencoba tegar, dengan takut kupandangi wajah nya dengan lekat, namun lagi-lagi wajah yang sama yang ada di depan ku, wajah yang sangat ku rindukan kehadirannya, wajah yang sangat sangat ku kenal, ah.. separah inikah aku berhalusinasi


"Al... Alva" tanpa sadar aku memanggil nama yang sakral kuucapkan di hari pernikahanku


Dia terkekeh mendengar ku menyebut nama pria lain, apakah dia kecewa, tapi kenapa dia tersenyum dan tertawa kecil seperti itu


"Aku merindukanmu" bisiknya tepat di telinga ku


Tunggu, suara ini bukan halusinasi, wajah ini bukan halusinasi semua nya nyata, semua nya nyata, kupandangi seluruh tamu undangan disana,


'Kak Rae' gumam ku lirih


Dan disebelahnya lagi...


'Za' gumam ku lirih saat ku lihat Zachery juga hadir di pernikahanku, kulihat dia tersenyum saat aku memandangi wajah nya


Tunggu, jika mereka berdua disini, dan terlebih lagi kak Rae berada disini, itu artinya...


Kupalingkan wajah ku untuk sekali lagi memandang wajah pria didepan ku


"Al..Va" panggilku


"Hm.. Masih berfikir kalau pria didepan mu hanya halusinasi hm?!" ucap nya meyakinkan


"Alva" panggilku sekali lagi menahan air mata ku, aku tak mau semua nya hanya halusinasi ku semata, berharap kalau dia benar-benar ada disini tapi nyata nya orang lain, bukan dia


"Iya sayang, aku disini, bersama mu" ucap nya lagi lebih meyakinkan


"Aku... Aku.. I... I.. Ini bukan halusinasi kan" ucap ku meyakinkan


"Bukan, kamu bukan berhalusinasi lagi"


"Tapi ini nyata" ucap nya meraih tangan ku di bimbinganya untuk meraba wajah nya


Air mata ku tak bisa lagi ku tahan, aku menangis sejadi-jadi nya dan berhambur memeluknya dengan erat, karena tak percaya bahwa dia lah yang menjadi suami ku, aku butih penjelasan dengan semua ini tapi harus kukesampingkan dulu, Aku... Hanya ingin memeluknya, menumpahkan segala isi hati ku


Kurasakan dia menyambut pelukanku, sambil mengelus bahu ku yang bergetar sambil sesekali mengecup puncak kepalaku yang terbungkus hijab dengan lembut


Suara sorakan sangat riuh dibelakang sana, aku tak peduli sama sekali, yang aku mau aku ingin memeluknya, memeluk yang kini telah menjadi suami ku


"Hiks, terimakasih" ucap ku entah pada siapa

__ADS_1


__ADS_2