
'Alsava Pov'
Kulihat didalam cafe Raefal memakan makanannya dengan santai
"Wah, benar-benar sahabat sejati'' batinku saat melihat pria yang tengah duduk dengan santai nya yang notabenya adalah sahabat Alva padahal temannya tengah marah-marah tak jelas
"Udah biasa tuh pasti"
"Aku heran, gimana cara nya dia betah bersahabat dengan pria semacam itu" batinku lagi penasaran
Akupun kembali melanjutkan pekerjaanku, tak lama kemudian kulihat pria itu kembali duduk ketempat asalnya dan memakan makanan yang telah dipesan
Kulanjutkan pekerjaanku kulihat sudah dua jam pria itu tetap tak beranjak dari tempat duduknya, bahkan sang sahabat sudah tak berada di tempat nya sekarang entah kemana, berganti dengan pria lain yang entah aku tak tahu siapa, tak lama kemudian kulihat ada lagi yang menghampirinya, disana terlihat dia sedang membahas yang kuyakini tentang pekerjaan
Jam menunjukkan pukul 16.43 kulihat lagi Alva tetap tak beranjak dari duduknya, bahkan sekarang kulihat dia tengah berkutat dengan laptop juga berkas-berkas nya
"Pekerja keras juga" gumamku
Tak kuhiraukan kegiatannya toh bukan urusanku, ku lanjutkan pekerjaanku bersama karyawanku sambil sesekali bersenda gurau
Tanpa terasa hari sudah mulai sore akupun pamit kepada karyawanku untul istirahat di belakang dan menjalankan kewajiban sore ku. Setelah menjalankan kewajibanku, bersih-bersih juga makan malam akupun kembali kedepan untuk mengawasi karyawanku
Zachery yang baru tiba langsung menghampiri kami yang sedang mengobrol, seperti biasanya dia menbuat candaan yang membuat kami tertawa terbahak-bahak karenanya. Bukan Zachery namanya jika dia tak mengeluarkan gombalan receh pada kami
Sampai pada waktunya dia kembali ketempatnya untuk mulai mengerjakan pekerjaannya.
"Tes tes" dia mengecek microfon miliknya
"Hm"
"Oke,, lagu kali ini gue tunjukkan untuk seorang gadis cantik yang tengah berdiri disebelah sana!" ucap Zachery sambil menunjuk kearahku membuatku membulatkan mataku
Tak ayal seluruh karyawan menyorakiku dengan semangat, sontak saja wajahku memerah karena malu. Tak kuhiraukan sorakan mereka aku tetap duduk santai ditempatku. Musik mulai berbunyi bait demi bait dinyanyikannya dengan sangat bagus, juga kulihat dia begitu menghayati lagu yang dinyanyikannya
Kuingat lagu itu begitu romantis, karena karyawanku terlalu semangat menyorakiku akupun jadi bertambah malu. Aku pun masuk kedalam dan pergi meninggalkan cafe lewat pintu belakang
Setelah kejadian dicafe semalam aku lebih memilih untuk tidak mengunjungi cafe dan pergi ke butik menemui Nara. Aku sibuk dengan desain yang sebelumnya belum sempat kuselesaikan. Ide yang tiba-tiba muncul berbagai desain berada dikepalaku
Ting
Kulihat ada notifikasi ponsel ku pertanda pesan, nama Zachery terlihat dilayar ponselku
"Alsava"
"Kamu nggak datang ke cafe?"
"Kenapa?"
"Kamu sakit?
"Sakit apa"
"Nggak parah kan"
__ADS_1
"Aku jenguk ya"
"Alsava"
"Kok diem aja"
"Aku khawatir"
Begitu pesan beruntun yang dikirimkannya, karena aku tak segera membalas pesan darinya. Tak kuhiraukan pesan-pesan yang dikirimkannya, aku terlalu canggung dan malu bila berhadapan dengannya, terlebih saat diresto dia pernah menyatakan perasaannya, tapi belum ku jawab
Tak terasa hari sudah mulai gelap, aku memutuskan untuk pulang ke apartement setelah berpamitan dengan Nara yang masih sibuk dengan desainnya juga aku berpamitan kepada karyawanku yang lain
Dengan lelah kuseretkan kaki ku menuju lantai tempat tinggal ku berada, namun aku dibuat begitu kaget saat tahu siapa yang tengah berdiri didepan pintu kamarku
"Arggh ngapain sih disitu," gumamku akupun bersembunyi dibalik tembok agar tak terlihat olehnya
Namun setelah menunggu hampir tiga puluh menit dia tak juga beranjak meninggalkan pintu apartement ku, dengan malas akhirnya aku keluar dari tempat persembunyianku dan berjalan menghampirinya yang tengah berjongkok didepan pintu
Aku berusaha menahan tawa saat melihat tingkah nya yang seperti anak ayam yang kehilangan induknya
"Lucu" batinku tertawa tapi masih kutahan
Dengan iseng aku mencari uang koin dari dalam tas ku karena biasanya kembalian saat aku membeli sesuatu kusimpan didalam tas. Kuambil dua koin seribuan dari dalam tas ku, kuraih tangannya dan kuletakkan dua uang koin ditelapak tangannya
"Kalau mau ngemis jangan disini bang, disini sepi, tuh di deket lampu merah pasti rame" ucapku mengejek
Dia mendongakkan wajahnya menatapku. Kulihat dia begitu kesal saat kukatakan dia seorang pengemis
"Awas minggir. Aku mau masuk" ketusku karena kesal dia tetap berjongkok dan tak bergeser maupun beranjak dari tempatnya
"Uang koin lah, nggak pernah lihat?" ucapku seolah tak paham
"Maksud nya ini apa?" tanya nya menunjuk uang koin ditangannya
"Nggak ada maksud apa-apa" ucap ku cuek
"Awas minggir" kataku meminta agar dia menyingkir dari depan pintu kamarku. Diapun bergeser beberapa langkah kesamping
Aku mendial password dipintu kamar ku,
"Apa hubungan kamu dengan pria kecil itu" tanyanya
Hawa dingin tiba-tiba datang menyelimuti seluruh tempat
"Siapa?" tanya ku membalikkan badan
"Zachery" ucapnya
"Pria kecil,?! wahh dia pria kecil bahkan kulihat dia lebih tinggi darimu, dilihat dari mananya dia pria kecil?" ucapku penasaran
"Cihh, dia hanya tinggi 1cm dariku" jawabnya kesal
"Ya udah, berarti dia bukan pria kecil" kataku. Tapi kulihat dia sedikit marah dengan ucapanku entah karena apa
__ADS_1
"Jadi kamu lebih memilih dia?" tanya nya memegang kedua lenganku
"Ngomong apa sih, nggak jelas deh" kataku menepis pegangannya
"Jawab Al" ucapnya dengan nada meninggi
"Aku nggak tuli, jadi nggak perlu teriak-teriak" Kataku kesal
"Lalu?" tanyanya
"Apa?" kataku dengan mata melirik tajam kearahnya
"Apa hubungan kamu sama Za?" tanya nya
"Hubungan apa, dia karyawan aku"
"Kamu nggak lihat dia jadi penyanyi dicafe ku" jawabku dengan malas
"Jadi kamu menerimanya kemarin malam Al" tanya nya dengan muka yang mulai memerah
Buukkk
Kulihat dia meninju tembok disamping tempatku berdiri dengan tangan terkepal, akupun membulatkan mataku antara kaget, heran juga tak percaya
Aku hanya berdiam diri tak bisa berbuat apa-apa, kulihat nafasnya naik turun memburu, juga wajahnya yang mulai merah padam, ada amarah terlihat jelas diraut wajahnya. Tangannya sedikit berdarah karena terlalu keras dia meninju, namun aku tak tahu harus berbuat apa
"Jawab aku Al, jadi kamu menerima perasaan Za kemarin malam?" tanyanya dengan mencengkeram kedua lengan dengan kuat membuatku meringis
"Jawab" bentak nya, karena aku tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Lepas" kataku memberontak mencoba melepaskan cengkeramannya
"Nggak ada urusannya sama kamu aku mau menerima dia atau enggak" jawabku yang masih berusaha memberontak
Buukk
Dia melayangkan lagi tinjuan nya ketembok bahkan semakin keras dari sebelumnya dan membuat tangannya semakin mengeluarkan banyak darah. Aku tak bisa berkata apa-apa, tanpa terasa air mataku mengalir dari sudut mataku
Aku menangis sambil menatapnya yang masih dipenuhi amarah
"Maaf" ucapnya yang tiba-tiba melembut dan merengkuhku kedalam pelukannya
Aku menangis didalam pelukannya entah keberapa kalinya, akupun tak tahu apa yang membuatku sampai menangis seperti ini. Setelah lebih tenang kuurai pelukannya dan menatap nya penuh tanda tanya
"Masuk" ucapku sambil menghapus bekas air mata dipipiku
Aku masuk terlebih dahulu yang diikuti oleh nya dari belakang, aku masuk kedalam kamarku
"Duduk," kataku yang sudah membasuh wajahku dengan membawa sekotak P3K dan ember air hangat ditanganku
Diapun mengikuti keinginanku, segera kuraih pergelangan tangannya untuk kuperiksa, disana terlihat darah masih sedikit keluar. Dengan segera aku membasuh pergelangannya dengan air hangat yang kubawa sebelumnya. Setelah itu akupun memberikan obat ditangannya yang terluka
Tanpa terasa air mataku mengalir lagi
__ADS_1
"Jangan berbuat seperti ini lagi hiks" ucap ku sambil menghapus air mataku
"Maaf" ucapnya sambil jari tangannya menyeka air mataku yang mengalir dengan sebelah tangannya lagi