
'Alsava Pov'
Sudah lebih dari dua minggu hubungan persahabatan kami merenggang, bahkan satu minggu terkahir aku tak mengunjungi butik walau hanya untuk pengecekan. Begitu pula aku tak bertemu dengan Nara. Dan setelah malam itu juga aku tak menjemput maupun mengantarkannya. Aku masih menulikan pendengaranku untuk tak mendengarkan saran Kaila untuk menghubungi ataupun menemui Nara meminta penjelasannya.
Brakk
"Cukup sa" kata Kaila marah membuka pintu ruanganku dengan kasar
"Wa'alaikumsalam" ujar ku santai menhentikan kegiatanku
"Assalamu'alaikum" ucap Kaila menghampiriku yang tengah duduk di ruang kerjaku
"Berhenti kalian diem-dieman kayak gini sa" kesal Kaila
"..."
"Kalian berdua bisa nggak sih ngomongin ini baik-baik ha!" kata Kaila yang masih kesal
"Kita itu sahabat sa, mengalah lah salah satunya" saran Kaila
"..." Akupun masih diam tak membuka suara walaupun satu kalimat
"Gue emang nggak tahu kenapa Nara minta berhenti buat berangkat atau pulang bareng sama lo, gue yakin dia punya alasan sa!" ucap Kaila
"Alasan??..." Kataku menahan amarah
"Alasan apa Ka?" tanya ku. Aku mencoba menengontol emosiku
"Alasan kalau dia nggak mau merepotkan aku lagi"
"Kalau dia udah nggak mau bantuan aku lagi"
"Supaya aku perlu nggak jauh-jauh jemput dia" Ucap ku menahan tangis
"Makanya ayo kita lurusin masalah ini, bukan malah diem-dieman,," kata Kaila yang geram karena melihatku diam saja
"Udah empat tahun Ka kita kayak gini"
"Oke,...Aku nggak apa-apa kalau kita baru kenal satu atau dua bulan Ka"
"Tapi kita udah kenal hampir empat tahun Ka"
"Gue tahu Sa!" ucap Kaila, ucapan Kaila terpotong
"Aku selalu bilang supaya dia nggak perlu sungkan atau merasa nggak enak sama kita apalagi aku Ka" kataku yang mulai berkaca-kaca
"Aku selalu bilang supaya dia nggak mempermasalahkan apapun apalagi tentang kendaraan, karena aku akan dengan senang hati antar jemput dia.. tapi kali ini, dia terang-terangan nolak aku Ka" aku pun mulai menangis
"Aku kecewa Ka,, Kecewa.. Hiks.." Kata ku dengan sesegukan
"Bahkan dia beberapa bulan lalu sempat mengembalikan bonus yang aku kasih Ka hiks!!" ucapku
"Aku nggak ada niatan apapun Ka, Hiks.., bahkan kalau kamu sendiri nggak ada kendaraan, hiks hiks ... aku juga bakal senang hati buat jemput kalian, Hiks hiks" kataku dengan air mata yang sudah tentu mengalir deras
"Aku... Aku juga pengen minta maaf Ka..."
"Aku juga pengen kita kumpul lagi kayak dulu hiks..."
"Aku pengen kita baikan Ka hiks"
"Tapi... Tapi.. Hiks" aku tak mampu menyelesaikan ucapanku,
"Tapi karena nggak ada yang mulai duluan" sambung Kaila
Akupun dengan sesegukan menganggukan kepala ku,,
Kaila yang melihatku, merasa iba, dengan sigap dia memelukku dengan erat, mengusap punggungku yang bergetar memberikan support padaku.
"Nanti gue bantu elo buat minta maaf sama minta penjelasan sam Nara ya" tawar Kaila yang lagi lagi hanya ku jawab dengan anggukan
Lama aku menangis dipelukan Kaila, tanpa sadar dibalik pintu seseorang menangis dengan sesegukan, Kaila yang menyadari ada orang lain yang menangis segera menoleh kesumber suara dan betapa terkejutnya dia.
"Nara" ucap Kaila yang masih memelukku, aku yang kaget juga langsung melihat kearah luar pintu ruanganku
Benar saja, disana Nara terlihat menangis sesegukan, yang ku yakini dia mendengar semua ucapanku dengan Kaila beberapa saat yang lalu
"Aku..."
"Aku minta maaf Sa Hiks" kata Nara dengan sesegukan
__ADS_1
"Aku salah Hiks" sambungnya lagi
Kaila segera menghampiri Nara yang menangis, menuntunnya masuk dan duduk disebelahku
"Maafin aku Sa" ucap Nara
"Kamu bener Sa" ucap Nara lagi, aku yang masih sesegukan hanya mampu mengerutkan kening karena bingung dengan pengakuannya
"Apa yang kamu omongin bener Sa"
"Aku bener-bener minta maaf"
"Aku selalu merasa jadi beban buat kamu Sa" akunya
"Aku selalu bikin kamu repot Sa, Ka"
"Aku selalu merasa kalau kalian terlalu berbuat banyak buat aku"
"Aku nggak bisa memberikan semua yang kalian kasih ke aku"
"Hiks... Aku merasa kalau aku cuma merepotkan kalian dengan semua keadaan aku"
"Kalian udah banyak banget bantu aku, terutama kamu Alsa," Ucapnya sambil memegang tangan ku
"Kamu udah banyak banget bantu aku juga keluargaku"
"Apalagi tiap hari kamu selalu antar jemput aku"
"Aku nggak enak Sa!"
"Aku merasa nggak enak tiap kali aku bareng kalian"
"Aku merasa minder sama kalian, kalian sama aku berbeda,, aku punya banyak kekurangan"
"Aki nggak bisa bantu balik kalian kalau kalian lagi kesusahan hiks"
"Bener kata kamu kalau aku merasa sungkan sama kalian"
"Aku... Aku bahkan berterimakasih karena aku dikasih kepercayaan sama kalian"
"Tapi... Tapi kali ini hiks"
"Maaf Sa,,, kalau aku bikin kamu kecewa,, hiks hiks,,, aku nggak bermaksud Sa, aku minta maaf"
"Kenapa Ra?" tanyaku
"Kenapa??... Aku selalu bilang sama kamu aku senang nglakuin itu semua"
"Aku ikhlas bantuin kamu Ra"
"Kamu sahabat aku, kamu udah aku anggap seperti saudaraku sendiri, begitu juga sama Kaila."
"Kamu nggak perlu sungkan sama aku"
Ceklekk
Kaila masuk membawa tiga cangkir coklat panas ditangannya yang dibawa di atas nampan
"Gue emang kecewa sama elo Ra,," kata kaila
Tukk tukk tukk
Kaila meletakkan coklat panas dimeja dihadapan kami.
Sebenanya aku ingin bertanya sejak kapan dia keluar dan membuat coklat panas, tapi melihat kondisi yang sekarang akan lucu jika aku menanyakan hal itu
"Lo sama sekali nggak kasih penjelasan sama kita terutama ke Sava" Sambungnya yang kemudian duduk bersebrangan dengan kami
"Gue emang nggak tahu apa alasan lo bilang ke Sava buat berhenti antar jemput lo lagi"
"Kalau alasan lo emang bener lo merasa nggak enak karena bikin repot kita berdua,..."
"Gue yang ikut kecewa sama elo Ra" katanya diakhiri dengan helaan nafas panjang
"Aku minta maaf" kata Nara lagi
Hhhhh
Kudengar helaan nafas dari Kaila
__ADS_1
"Oke, nih minum dulu" Kata Kaila menyodorkan minum ke kami berdua
"Kita emang butuh penjelasan dari elo" katanya lagi
"Gue perlu lo cerita panjang lebar masalah lo ke kita, jangan sampe ada yang ketinggalan satu katapun" ucapnya Kaila penuh penekanan
"Jadi sekarang mending lo minum dulu" dengan nada suara melemah
"Gue yakin tenggorokan kalian berdua kering karena abis nangis bombai" katanya yang diselipkan dengan candaan
Aku yang memang haus dengan segera menyesap coklat panas yang kini telah hangat bahkan mendekati dingin untuk membasahi tenggorokanku yang kering.
Kulihat Nara juga melakukan hal yang sama denganku.
"Oke... Jadi?!" tanya Kaila yang menuntut penjelasan dari Nara
Nara yang masih menengguk minumannya seketika menghentikan kegiatannya dan meletakkan cangkirnya kembali ketempat semula
"Aku emang berencana ngomongin ini kekalian sejak jauh-jauh hari"
"Aku berencana ngomong hal ini ke Alsa duluan karena dia yang selalu aku repotin"
Mendengar itu Kaila menajamkan alisnya tak suka dengan kalimat yang dilontarkan Nara
"Aku udah berpikir selama beberapa hari sebelum malam itu Sa!" katanya
"Jadi lo emang sengaja nglakuin ini semua Ra?" ucap Kaila dengan marah. Nara hanya mengangguk
"Tapi aku punya alasan lain!" sanggah Nara
"Aku tahu kalau aku bilang sama Alsa, pasti dia akan marah sama aku kayak biasanya"
"Aku coba buat ngomong secara baik-baik waktu itu"
"Tapi aku nggak pernah menyangka, karena keputusanku, Alsa jadi marah besar sama aku"
"Aku sama sekali nggak menyangka kalau hubungan kita jadi renggang karena aku"
"Aku minta maaf Sa" jelas Nara bertubi-tubi
Aku yang sedari tadi diam sebenarnya benar-benar marah, sebisa mungkin aku tak menampilkan wajah marahku karena aku ingin semuanya berakhir malam ini.
Meminta penjelasan sejelas-jelasnya, itu yang aku mau malam ini. Alasan mengapa Nara melakukan hal itu. Aku ingin kejelasan yang sejelas jelasnya.
"Sebenarnya,..."
"Cukup bertele-tele Ra, gue bukan orang sabar sesabar Sava" Kata Kaila dengan nada naik beberapa oktaf
"Jadi mending sekarang lo jelasin ke kita alasan lo,.. " Geram Kaila
"Sebenarnya ada yang mau aku tunjukin ke kalian"
"Dan ini juga alasan aku kenapa aku minta Alsa buat berhenti antar jemput aku" ucao Nara
Kami merasa bingung dengan penjelasan yang diberikan Nara, belum sempat kami menemukan kebingungan yang melanda dengan cepat Nara menarik tanganku juga Kaila untuk mengikutinya.
Kami bertiga menuruni tangga untuk turun kelantai satu, disana ternyata seluruh karyawan sudah bubar dan tak ada satu orang pun di cafe
'Jam berapa ini, kok udah sepi?!' tanyaku dalam hati
Nara kemudian menarik tangan kami untuk keluar dari cafe dan berhenti di parkiran disebelah cafe
"Mmm... Ini alasan aku nggak pengen merepotkan kalian lagi" ucap Nara ragu
Kami berdua hanya saling pandang tak paham dengan ucapan Nara yang baru saja dilontarkannya.
Aku kemudian tersadar dengan apa yang diucapkan Nara sontak terkejut begitu pula Kaila yang sudah membulatkan mata nya
"Ini....?!" Kataku tak percaya
"Ini... Maksudnya apa Ra?" tanya Kaila yang masih tak percaya
"Ini alasan aku Sa, Ka" ucapnya meyakinkan
"Ini serius?" tanya ku kebingungan
"Heemh" jawabnya diikuti dengan anggukan
Aaaaaaaaaaa
__ADS_1
Jerit ku juga Kaila tak percaya.