
"Nggak baik anak gadis diluar malam-malam" Ucap pria yang memberikan jaketnya pada Alsa
Alsa yang melihat pria itu duduk disampingnya dengan segera menyeka air mata yang masih membanjiri pipinya
"Kenapa disini?" tanya Alsa yang masih sesegukan
"Harusnya aku yang bertanya kenapa kamu disini?" tanya pria itu
"Ada masalah?" tanya nya lagi
Alsa hanya mampu menggelengkan kepalanya.
"Apa rasa kesalmu tadi siang berlanjut membuatmu menangis malam ini" canda pria itu
Ya... Alvarendra yang tengah murung tak bisa memejamkan matanya akhirnya memilih untuk keluar mengendarai mobilnya untuk menghirup udara kota dimalam hari. Entah mengapa dia ingin ke taman untuk menenangkan diri disana. Tanpa sengaja dia justru melihat gadis yang membuatnya bingung, tanpa berfikir panjang Alva pun melangkahkan kakinya mendekati gadis yang tengah duduk dibangku taman, namun dia terkejut mendapati bahwa gadis itu tengah menangis sesegukan,, melihat udara yang semakin malam Alva meyakini bahwa gadis itu pasti kedingingan, jiwa lelakinya memberontak hingga dia mau melepaskan jaket nya dan menyisakan sweater untuk menyelimuti gadis itu.
Mendengar ucapan pria itu membuat Alsa memukul pelan lengan Alva, membuat Alva terkekeh pelan
"Al" panggil Alva
"..."
Tak ada jawaban dari Alsa membuat Alva kesal. Tapi dia juga tak bisa berbuat banyak, dia yakin gadis itu sedang dalam masalah dan dia tak bisa mencampuri urusannya. Hening. Malam semakin sunyi, tak ada percakapan yang dimulai dari keduanya, Alsa yang masih melamin, sedangkan Alva memberi waktu Alsa untuk berdiam diri.
"Al" ujar Alsa kemudian
Alva yang merasa dirinya dipanggil menoleh, dia juga merasa senang, karena gadis itu sekarang memanggil namanya, senyum terukir dibibirnya
"Apa aku salah jika aku membantu temanku" ucap Alsa
"Dalam bentuk?" tanya Alva
"Apa aku salah jika aku ingin membantu nya,, aku melakukan itu dengan senang hati"
"Apa salah kalau aku menjemput atau mengantarnya pulang"
"Apa aku salah kalau aku membantu memberikan pekerjaan padanya"
"Apa aku salah kalau aku memberikan bonus padanya"
"Apa aku.. Hiks... Aku hiks...." Air mata Alsa seketika jatuh tanpa dapat sicegah lagi
"Aku hanya ingin membantunya hiks.. Aku hanya ingin supaya dia tak perlu bersusah payah naik angkutan umum hiks.."
"Tapi kenapa, semua yang aku lakukan dianggapnya menjadi beban, hiks hiks.."
"Kenapa dia merasa tak enak hati hiks.."
__ADS_1
"Aku hiks hiks hiks....." Alsa yang sesegukan tak dapat meneruskan kalimatnya.
Melihat Alsa yang menangis membuat Alva bingung tak tahu berbuat apa, dengan segera direngkuhnya badan mungil Alsa kedalam pelukannya.
Dibiarkannya Alsa menangis menumpahkan isi hatinya. Baju yang terasa basah tak dipedulikan oleh Alva. Alsa pun yang tanpa sadar mengeratkan pelukannya kepinggang Alva sambil sesekali mencengkram pinggiran baju Alva. Dengan sabar dia menemani Alsa yang tengah menangis sesegukan, tangannya terulur mengusap rambut panjang Alsa
'tak apa-apa'
'semuanya akan baik-baik saja'
'semua ada solusinya'
Itulah kalimat yang mampu ia keluarkan dari mulutnya.
Hampir 30 menit Alsa menangis dipelukan Alva. Merasa bisa menguasai diri dan sadar akan posisinya saat ini segera melepaskan pelukannya dan menjauh dari Alva
"Maaf" ucap Alsa menundukkan kepalanya
"Sudah lebih baik?" tanya Alva dengan sabar
Alsa hanya menganggukan kepalanya, dia menundukkan kepalanya hingga rambutnya menutupi wajah sembabnya, dia malu benar-benar malu, bagaimana bisa Alsa menagis dipelukan pria yang tak dikenalnya dengan baik itu.
"Mau ice cream?" ujar Alva memecah keheningan
"Aku sedang tidak kesal, aku baru saja menangis , jadi aku tidak perlu ice cream" jawab Alsa yang masih menundukkan kepalanya
"Aku mau pulang" ujar Alsa,
Belum sempat Alsa beranjak dari duduknya tangannya dicekal agar tak beranjak dari duduknya.
"Dalam keadaan seperti ini, akan membahayakan dirimu sendiri" ujar Alva kemudian, Alsa yang tak paham hanya mampu diam
"Kamu baru saja menangis, bisa jadi nanti setelah dimobil dan berkendara aku yakin kamu akan menangis lagi, menangis membuat pandanganmu berkurang. Dan itu berbahaya." Jelas Alva panjang lebar
Alasan tak masuk akal menurut Alva, tapi sudahlah. Toh Alsa menuruti.
Alva lalu menarik tangan Alsa agar mengikuti langkah kakinya. Alsa yang bingung hanya mengikuti langkah kaki didepannya. Alsa dibuat terkejut karena saat ini dia diminta masuk kedalam mobil pria yang membawanya tadi. Melihat itu Alsa hanya diam walaupun pintu sudah dibukakan oleh Alva.
"Kenapa?" tanya Alva bingung
"Aku bawa mobil" ujar Alsa
"Nanti akan diurus oleh orangku" kata Alva meyakinkan.
Alsa yang ragu tetap tak bergeming dari tempatnya
"Aku tak akan berbuat macam-
__ADS_1
macam padamu, percayalah, aku hanya akan membawamu agar kau lebih baik" ucap Alva meyakinkan
"Tapi..."
"Aku punya agama yang harus kujaga,," Ujar Alva lebih meyakinkan lagi
"Baiklah" akhirnya Alsa menyerah, melihat dari sorot mata Alva dia tak menemuka kebohongan disana maka dari itu dia percaya dan ikut masuk ke dalam mobil Alva.
Setelah berkendara sekitar 20 menit Alva membelokkan mobil nya ke taman hiburan. Alsa yang masih dibuat bingung hanya menuruti turun dan ikut masuk kedalam mengikuti Alva
"Kita naik itu" kata Alva menunjuk salah satu wahana ditaman hiburan ini
"Aku sedang tak ingin bermain-main, aku cuma ingin pulang" ucap Alsa seraya menarik ujung baju Alva agar dia mengantarnya pulang
"Ctkkk,.... Sekali,, kita naik wahana itu sekali lalu pulang, bagaimana?" tawar Alva penuh penekanan
Alsa yang malas akhirnya menuruti permintaan Alva yang konyol. Sebenarnya dia tak punya keinginan untuk kemari, yang diinginkannya adalah segera pulang kerumah. Mereka berduapun akhirnya menaiki wahana yang di tunjuk oleh Alva sebelumnya
"Merasa lebih baik?" ucap Alva setelah turun dari wahana
"Apanya?" tanya Alsa bingung
"Kubilang teriakan semua keluh kesahmu, tak akan ada yang marah jika kau berteriak disini, atau kita mencoba satu wahana lagi hm" tanya Alva, yang diangguki oleh Alsa
Tak hanya dua wahana ekstrim yang mereka naiki pada akhirnya, karena Alsa terus meminta lagi dan lagi dengan alasan 'aku belum lebih baik' Alva hanya mengikuti dengan pasrah.
"Terimakasih" ucap Alsa malu-malu, saat ini mereka tengah menaiki bianglala
"Sudah lebih baik" tanya Alva, dan diangguki oleh Alsa
"Kau tahu,, mengutarakan keinginan dipuncak bianglala konon katanya akan keinginan itu akan terwujud" kata Alva saat mereka berhenti dipuncak bianglala
"Itu hanya katanya.. hei... Kita sudah sedewasa ini kenapa masih percaya" jawab Alsa malas
"Ya... Siapa tahu, mintalah satu keinginan siapa tahu benar-benar terwujud. Seperti Mmmm.... kalian bisa berbaikan lagi" ucap Alva ragu, seketika membuat Alsa menjadi murung kembali
"Cepat sebelum bianglala nya kembali turun" ujar Alva menginteruksi.
Mereka memejamkan matanya untuk membuat keinginan, dan keinginan itu hanya mereka lah yang tahu.
"Mau naik wahana sekali lagi" tawar Alva setelah turun dari bianglala
"Tidak" pekik Alsa
"Bisa-bisa aku muntah disini jika aku menaiki wahana ekstrem itu lagi" gerutu Alsa dengan kesal
Akhirnya mereka menyudahi kegiatannya di taman hiburan yang merek kunjungi saat ini.
__ADS_1