
Cup dirasa Alsava mengecup kening Alva dengan lembut
"Maafkan aku Al"
"Aku harus pergi"
"Maaf karena aku menghianati cinta dan kasih sayang yang sudah kamu berikan padaku"
"Lupakan aku al"
"Lupakan semua apapun tentang aku, lupakan kisah cinta kita yang pernah tumbuh diantara kita"
"Jaga diri baik-baik"
"Semoga kamu bahagia walaupun tidak bersamaku"
"Dan semoga kamu lebih bahagia lagi dengan wanita yang telah dipilihkan oleh Nya" bisik Alsava lirih
Tes
Air mata Alva jatuh membanjiri pipinya, hatinya benar-benar sakit, kekasih hatinya pergi meninggalkannya dan memilih untuk menikah dengan pria lain, apa yang diimpikannya hancur sudah
Alva menangis tersedu-sedu dikamar ini, hanya dirinya disini, menangis tiada henti meratapi nasib percintaanya yang malang
Tak henti-henti nya Alva menitikkan air mata nya dan meraung raung
"KENAPA?" teriak Alva
"Kenapa...."
"Kenapa kamu tega meninggalkan ku Al"
"KENAPA"
"ARGGHH" Alva meraung-raung di kamar nya
Memecahkan semua yang ada di kamarnya, dan meraung raung lagi, siapa pun yang mendengarnya seolah tau kalau Alva sangat sangat bersedih, hatinya benar benar sakit
"Kenapa harus seperti ini"
"Kenapa semua ini terjadi" Alva lagi-lagi meraung raung, Begitulah keseharian Alva
__ADS_1
Alva menghilang bak di telan bumi, beberapa hari dia tak menampakkan dirinya, tak ada dikantor dirumah maupun tempat yang biasa di kunjunginya. Alva tetap berada di villa dimana yang dia datangi beberapa malam yang lalu bersama Alsava
Bagaimana dia, hatinya kini hancur tak berbentuk, Alva seolah menjadi pria yang lemah, seorang direktur dingin, kejam dan tak berekpresi seolah luntur, kini Alva menjadi pria yang begitu tak berdaya
Alva meringkuk di dekat tempat tidurnya, melamun, memandang keluar dengan pandangan yang kosong, jiwa yang yang sempat kembali seolah pergi bersama kepergian Alsava
Membayangkan indahnya masa depan bersama sang kekasih hati, tapi semuanya sirna, perjodohan itu membuat seluruh jiwanya hilang bersama dengan perginya alsava dari hadapannya, tak ada lagi tujuan dan tak ada lagi tempat untuk nya kembali
"Ikhlaskan semua nya Al" ucap Raefal lirih mendudukkan tubuhnya di samping Alva
"Semua sudah di takdirkan oleh yang di atas"
"Apapun itu, pasti semuanya yang terbaik untuk umatnya" nasehat Raefal
"Aku yakin, dengan kepergian alsava yang seperti ini, Allah sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik lagi dari pada alsava. Aku yakin itu" ujar raefal lagi
Alva tersenyum kecut
"Kenapa?" lirih alva
"Dunia seolah kejam"
"Hahahaha, dia menikah dengan orang lain"
"Bukan dengan ku"
"Haruskah aku mengiklaskan semuanya"
"Membiarkan semuanya" jujur Alva yang mulai melemah
"Baru pertama kalinya aku mencintai seorang wanita"
"Bahkan pertama kalinya aku mencintai dia begitu dalam"
"Tapi takdir seolah berkata lain"
"Kenapa?...."
"Kenapa takdir begitu jahat"
"Sakit sekali rasanya Rae"
__ADS_1
"Sangat sakit" jujur Alva dengan berlinang air mata
Tak lama kemudia Alva jatuh tersungkur, Raefal begitu kebingungan melihat sahabatnya serapuh ini, dia terlihat seperti seorang pria yang sangat-sangat lemah
Raefal membawa Alva kerumah sakit yang paling dekat dengan villa, dokter mengatakan kalau dia kekurangan asupan nutrisi dan juga syok. Jiwanya sangat tidam stabil dan harus dirawat dirumah sakit
Ternyata selama beberapa hari Alva tak melakukan apapun selain merenung didalam kamarnya, tak ada nafsu untuknya makan, bahkan hatinya juga jiwanya seolah kosong tak ada kehidupan
Raefal tak mau memberitahu bagaimana keadaan Alva pada Mommy Alva karena takut mereka semua khawatir dengan keadaan anak kesayangannya, terlebih tak ada yang mengetahui keadaan Alva yang sebenarnya
Awalnya Raefal begitu kebingungan karena berhari-hari Alva tak menunjukkan batang hidungnya di kantor, dan bahkan tak ada pemberitahuan sama sekali kemana dia pergi
Raefal sebelumnya bertanya kepada Mommy Alva dan mengatakan kalau Alva belum pulang sejak dua hari terakhir, Raefal beralibi kalau dia lupa Alva sudah berangkat perjalanan bisnis dan Mommy percaya
Raefal mendatangi apartement Alsava berharap dia ada disana, namun nihil Alsava sudah pergi dari apartement dan kembali kerumahnya
Berkali-kali Raefal menghubungi Alva tapi selalu saja diluar jangkauan, tak patah arang Raefal mencoba untuk menghubungi nomor ponsel Alsava namun sama, Alsava juga tak mengaktifkan nomornya membuat Raefal begitu frustasi
Berbagai tempat didatanginya namun lagi-lagi hasilnya nihil, hanya satu tempat yang belum didatanginya yaitu villa pribadi Alva, awalnya Raefal begitu terkejut mendapati Alva yang tak seperti Alva biasanya
Kamar yang berantakan, yang Raefal yakini kalau Alva yang melakukan hal seperti ini, kamar yang seolah kapal pecah, gelap dan jangan lupakan Alva yang terduduk dilantai dengan pandangan kosong kedepan, Raefal begitu prihatin melihat keadaan sahabatnya yang sekarang
Dia yakin kalau Alva sedang bermasalah dengan Alsava, siapa lagi yang bisa membuat Alva menjadi pria yang seperti ini selain Alsava
Sepulangnya dari rumah sakit Alva kembali menjalankan aktivitas nya seperti biasa, bekerja dikantor dan bertemu dengan client sebagaimana aktivitasnya biasa
Tapi Alva,... kembali menjadi Alvarendra yang dulu, Alvarendra yang selama ini Raefal kenal, bahkan kali ini, Alva menjadi lebih parah dari sebelumnya, Alva yang hangat dan perhatian hilang bersamaan dengan hilangnya Alsava
Alva yang sekarang tak lagi memiliki tujuan hidup, Alva yang tak lagi memiliki kehangatan, Alva yang kembali menjadi dingin sedingin Es. Siapa pun yang melihatnya seolah tahu kalau tak ada kehidupan didalam diri Alva selama ini
Bahkan kini dia memiliki hobi baru, merenung di balkon Apartemennya berjam-jam bahkan hingga pagi menjelang
Alva yang sekarang lebih sensitif dari sebelumnya, marah itu sudah menjadi kesehariannya, hal biasa jika Alva memang seorang yang sering memarahi karyawannya jika mereka melakukan kesalahan, tapi kini bahkan untuk sekedar bertegur sapa pu semua karyawannya tampak sungkan
Raefal hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sahabatnya, tak ada yang bisa dilakukannya selain memantau keadaannya agar tak terjadi hal yang diinginkannya meskipun Alva bukan tipikal orang yang akan melakukan hal nekat, namun tetap sja raefal khawatir dengan keadaan alva saat ini
Tak berapa lama kemudian Alva memilih kembali ke New York, dengan alasan menyelesaikan proyek yang sebelumnya belum sepenuhnya selesai
Padahal Raefal tahu, Alva tengan melarikan diri, melarikan diri dari kenyataan yang menurutnya pahit. Alva ingin menenangkan fikirannya yang tengah kacau berharap semuanya akan baik-baik saja
Semua yang berkaitan dengan perusahaannya Raefal yang memimpin sementara Alva tak ditempat seperti biasanya
__ADS_1
Raefal hanya bisa menyetujui keputusan Alva, dia diminta untuk menghandle segala aktivitas kantornya
Apapun yang dilakukan oleh Alva, Raefal hanya bisa mengiyakan tanpa mau berkomentar, Raefal hanya berharap agar semua nya baik-baik saja