Jodohku Ternyata Dia

Jodohku Ternyata Dia
Masih marah


__ADS_3

'Alsava Pov'


Pagi ini aku lebih memilih pergi kecafe dari pada kebutik. Setelah kemarin seharian aku berdiam diri di apartement rupanya membuatku bosan, jadilah sekarang aku ke cafe. Ya.. Sebenarnya aku masih merasa marah, bukan karena bermaksud untuk menghindar, tapi untuk saat ini aku lebih baik untuk tak bertemu langsung dengan Nara.


Meskipun perasaan ku sudah lebih baik karena malam itu Alva mengajakku untuk ketaman hiburan, serta aku bisa mengeluarkan segalanya yang mengganjal dihatiku.


Benar kata Alva, mengeluarkan segalanya akan menjadi lebih baik daripada harus memendamnya didalam hati. Meskipun aku sempat kesal karena dia tiba-tiba mengajakku untuk keluar malam dan tanpa persetujuanku, tapi sekarang aku sangat berterimakasih, karena usahanya aku sudah sedikit melupakan beban yang ada dihatiku.


Ya... Sekarang aku tak memanggilnya dengan formal, meskipun aku sendiri masih terlihat canggung padanya, mungkin karena malam itu aku terlalu terbawa suasana dan fikiranku terlalu larut dalam kesedihan hingga aku menyetujui untuk berteman dengannya mulai sekarang.


Ting


Bunyi pesan masuk dari ponsel ku, terlihat nama Alva dinotifikasi layar.


"Sudah lebih baik" Alva


"Sudah" Alsa


"Mmm... Terimakasih" Alsa


"Terimakasih untuk apa?" Alva


"Semuanya" Alsa


"Haruskah aku meminta bayaran dari usahaku kemarin malam?😎" Alva


"Cihh,,, tahu begitu aku tak akan ikut bersamamu malam itu" Alsa


"Benarkah? 🤔" Alva


"Tentu saja,, lebih baik aku dirumah dari pada harus ikut bersamamu" Alsa


"Tapi kamu terlihat bersenang-senang" Alva


"Siapa bilang 😤" Alsa


"Itulah faktanya" Alva


"Itu karena kamu yang memintaku untuk mengeluarkan semuanya" Alsa


"Tapi kamu juga bersenang-senang kan" Alva


"Perlu digaris bawahi, itu faktanya" Alva


"Aku hanya berteriak mengeluarkan beban di hatiku, aku tidak punya waktu untuk bersenang-senang" Alsa


"Oke oke.. Melihatmu yang sudah kesal itu tandanya memang kamu sudah lebih baik kan" Alva


"Tapi aku tetap meminta bayarannya" Alva


"Berapa memangnya uang yang kamu keluarkan sih,, akan ku transfer nanti" Alsa


"Hei... Aku tak perlu uangmu! Uangku banyak kau tahu!" Alva


"Tidak,, aku tidak tahu, bahkan aku belum pernah menghitung uangmu" Alsa


"Kkk... Mau membantu?" Alva


"Apa??" Alsa


"Menghitungkan uang yang ku punya haha" Alva


"Gila" Alsa

__ADS_1


"Jadi?" Alva


"Apa?" Alsa


"Bagaimana dengan bayaran ku" Alva


"Berapa yang harus kubayar?" Alsa


"Ckk, sudah kubilang, aku tak perlu uangmu, uangku banyak!" Alva


"Lalu?" Alsa


"Akan kufikirkan saat kita bertemu" Alva


"Tapi aku tak ingin bertemu denganmu" Alsa


"Kita lihat saja nanti" Alva


Kubiarkan pesan itu, dan berakhirlah percakapan kami yang tak masuk akal itu. Bagaimana bisa dia meminta bayaran dari apa yang dia usulkan sendiri..


Ku fokuskan mataku kelayar komputer yang ada didepanku, saat ini aku lebih memilih menyelesaikan skripsi ku untuk sekedar mengalihkan perhatianku. Tanpa terasa matahari hari semakin siang, rasa lapar menghentikan kegiatan jariku mengetik dikeyboard.


Ceklek


Akupun menoleh, disana Kaila menyembulkan kepalanya masuk mengintari pandangannya mencariku


"Mau makan siang disini atau diluar?" tanya Kaila


"Dibawa kesini aja" ucap ku. Kaila mengangguk dan meninggalkan ruanganku.


Setelah beberapa saat masuklah Kaila membawa nampan besar berisi dua piring makananku dan makanannya serta dua gelas jus jeruk sebagai minumannya.


"Gue nggak maksa loe buat cerita masalah lo sama Nara" ucap Kaila kemudian setelah menyelesaikan makan siang kami berdua


"Gue tahu lo butuh waktu buat menenangkan diri"


"Ingat, jangan lama-lama marahannya" ucap Kaila


"Gue harap besok lo udah baikan lagi sama Nara" sambung kaila sambil menepuk bahuku dan berlalu meninggalkan ruangan menyisakan aku yang masih tak bergeming dari tempatku


Kaila memang belum tahu masalahku dengan Nara, tapi kurasa dia cukup peka karena kemarin aku tak ada kabar sama sekali, dan aku yakin dia menghubungi Nara menanyakan keberadaanku


Lagi-lagi aku menangis karena mengingat kejadian malam itu. Entah mengapa aku terlalu keras kepala untuk bertemu sapa. Aku menulikan pendengaranku untuk meminta penjelasan dari nya, alasan mengapa dia memintaku berhenti. Kesal juga kecewa terlalu merasuki pikiranku saat ini.


⭐⭐⭐


Selama beberapa hari ini hubungan ku dengan Nara sama sekali belum membaik, sesekali aku kebutik karena kepentinganku yang harus segera menyelesaikan desain-desain yang sebelumnya telah ku buat.


Tak ada percakapan diantara kami berdua. Aku yang tetap menghindar saat bertemu dengannya, dia yang begitu tahu tentang aku, bahkan saat kecewa atau marah dia tak akan berani walau sekedar menegur sapa dengan ku. Kalau Kaila bilang aku akan tetap menjadi sekeras batu jika dipaksakan saat aku masih dalam mode marah, tapi akan menjadi selembut roti jika sudah bisa melupakan segalanya.


Biasanya mereka akan memberiku sedikit waktu untukku menyendiri, dan akan melupakan semua kejadian jika memang kondisi hatiku sedang baik, itulah aku kata Kaila beberapa hari yang lalu.


'Dingin banget sih ruangannya' begitu bisik-bisik dari pegawaiku. Aku seakan menulikan telingaku, tak peduli.


Mereka seolah tahu jika aku sedang dalam kondisi yang sangat tidak baik. Tak ada pembicaraan yang kuucapkan seperti biasanya. Aku yang tetap fokus merancang beberapa pakaian dibantu oleh karyawan yang biasanya bertugas merancang desain yang telah kubuat sebelumnya.


Sudah hampir dua jam kami bergelut dengan rancangan yang ada ditangan kami masing-masing, namun lama kelamaan seolah hatiku berkelut tak karuan, tak ada fokus yang ada difikiranku. Perasaanku campur aduk, ingin rasanya aku bertegur sapa, tapi ternyata aku lebih mengedepankan ego yang kupunya.


Brakk


Kursi yang kududuki terjatuh kebelakang saat aku berdiri dengan kasar. Seketika karyawan yang ada diruangan ini menghentikan aktivitasnya, Kulihat mereka terkejut karena ulahku, terlihat takut dari ekspresi wajah mereka.


"Kalian selesaikan semuanya, lusa sudah harus ada didepan, juga pesanan dari pelanggan didahulukan" Ucapku ketus

__ADS_1


"Jangan ulangi kesalahan seperti minggu kemarin"


"Ingat.... kepuasan pelanggan point paling penting yang kita punya"


Mereka yang takut hanya menanggapi dengan anggukan tanpa banyak bersuara. Akupun meninggalkan ruang rancangan dan pergi keluar dari butik.


⭐⭐⭐


Kulajukan mobilku meninggalkan butik dengan keadaan kesal. Aku yang seolah mengeraskan kepalaku, terlebih Nara tak bergeming tetap mendiamkanku.


Ya... Aku yang meminta waktu untuk berdiam diri, tapi nyata nya aku justru didiamkan tanpa mencoba bertegur sapa.


Kulajukan mobilku dengan kecepatan sedang membelah jalan raya yang tak terlalu padat kendaraan. Tak ada tempat tujuan yang ingin ku kunjungi.


Cafe


'Kalau aku kecafe, Kaila akan mengajukan pertanyaan beruntun yang saat ini tak ingin ku dengar' batinku dalam hati


Ingin rasanya aku menaiki wahana yang pernah kunaiki sebelumnya. Setelah kuingat bahwa aku tak memiliki teman untuk kesana


Tanpa sadar kubelokkan mobil ku dikedai Ice Cream, fikiranku hanya ingin mendinginkan kepala ku yang memanas. Akupun memasuki kedai dan memilih tempat duduk disudut ruangan dekat dengan jendela dengan kaca yang cukup besar, disini aku bisa melihat banyaknya orang yang melewati kedai ice cream ini. Tak lama waite itu tersenyum manis kearahku lalu berlalu meninggalkanku.


Aku merutuki diriku sendiri saat sadar dimana tempat yang kusinggahi sekarang. Malunya begitulah gerutuku didalam hati. Bagaimana tidak, kedai ini yang pernah kukunjungi bersama Alva beberapa saat yang lalu. Tentu saja banyak pasangan juga keluarga maupun teman yang berdatang kemari. Sedangkan aku,, hanya sendiri.


Tak berapa lama pesananku pun datang dan dihadapanku tersaji beberapa macam ice cream dengan rasa dan toping yang berbeda seperti apa yang kupesan sebelumnya.


"Selamat datang kembali mbak!" ucapnya ramah


"Datang sendirian aja mbak" Ucap sang waitress sambil meletakkan pesananku kemeja


Akupun hanya mengangguk tak begitu menanggapi, karena fokusku teralihkan dengan ice cream yang sudah tersaji diatas meja ku


"Mbak nya nggak lagi marahan kan?" tanya nya penasaran


Kualihkan pandanganku menghadap sang waiteress dengan pandangan bingung


"Maksudnya" tanyaku bingung


"Soalnya mbak nya kesini sendirian"


"Mbak nggak lagi marahan kan sama pacarnya?" tanyanya ragu


'What, pacar, apa dikira banyak yang kesini bawa pasangan terus aku kesini sendiri dikira lagi marahan apa?, Pacar darimana coba?" gerutuku kesal dalam hati. Aku hanya menggelengkan kepala agar dia cepat pergi dan kembali bekerja


"Kami merasa beruntung lo mbak, bisa ketemu mbak lagi hari ini" katanya dengan mata berbinar


"Kenapa memangnya mbak?" tanyaku penasaran


"Karena mbak sama pacar mbak kedai kita makin rame" ucapnya


Aku yang tengah menikmati ice cream pun seketika tersedak


"Mak... Maksud nya gimana mbak?" tanyaku lagi


Si waitress tiba-tiba duduk dihadapanku yang bersebranga dengan meja dan menunjuk kesamping tempatku duduk dengan telunjuk jarinya


"Karena mbak sama pacar mbak jadi pasangan terfavorit yang dipilih oleh para pengunjung mbak"


"Makanya hari ini kami merasa beruntung karena mbak berkunjung lagi kemari"


Aku yang melihat arah dimana telunjuk si waitress membulatkan mataku tak percaya


"iii.. Itu kenapa di pasang disitu mbak?" tanya ku tak percaya

__ADS_1


"Pasangan teromantis dan terfavorit yang datang kekedai kami memang kami pasang di mading dan ini sudah mendapat persetujuan dari pacar mbak kok" ucapnya tersenyum lebar


"Wahhh" begitulah ucapku tak percaya


__ADS_2