
Raefal kini dibuat bingung, pasalnya bos sekaligus sahabat nya terlihat murung sejak kepulangannya dari luar, terlihat perasaan kecewa dari raut wajahnya.
"Ada sesuatu yang tak sesuai rencana bos" tanya Raefal pada bosnya
"...."
"...."
Raefal yang ikut bingung hanya mampu berdiam diri sambil menunggu atasannya itu memeriksa juga menandatangani berkas yang dia bawa sebelumnya
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan keheningan mereka berdua
"Maaf direktur mengganggu waktunya, meeting akan segera dimulai, direktur diminta agar segera datang keruang meeting" ucap Bimo sekertaris Alva menginfokan dengan sopan
Alva hanya mengangguk dan meminta Bimo untuk kembali ketempatnya. Dengan malas Alva menuju ruang meeting.
.
.
.
Brukk
Alva menghepaskan tubuhnya disofa.
"Apa apaan ini semua Al?" tanya Raefal penasaran
"Untukmu" jawab Alva
Ya, saat ini Alva tengah berada di apartement Raefal dengan membawa beberapa pasang pakaian formal yang dibelinya di butik Alsa.
"Kamu menemui gadis itu" tanya Raefal
"Bagaimana kamu tahu" ujar Alva
"Kamu pikir semua ini dari mana kalau bukan dari butik gadis itu" ucap Raefal menunjuk paper bag didepannya
"Jadi ini alasannya kamu murung hari ini, heii, bukannya kamu bertemu dengannya, lalu apa yang membuatmu murung" kesal Raefal
"Aku mengajaknya keluar" kata Alva
"Lalu" Raefal penasaran
"Dia menolak" ucap Alva dengan kecewa
Sontak perkataan Alva membuat Raefal tertawa, dan hal itu membuat Alva bertambah kesal karena sahabatnya tak menanggapi keluh kesahnya
__ADS_1
"Kau gila Al,, kau ditolak oleh gadis itu, tapi seluruh karyawanmu yang kena imbasnya" kata Raefal
"Hei, aku memarahi mereka memang karena mereka tak melakukan hal dengan baik, aku hanya mendisiplinkan mereka" sanggah Alva
"Jadi kenapa kamu malah memberikannya padaku, bukankah kamu sudah membelinya." Tanya Raefal
"Aku tidak benar benar berniat membelinya, aku hanya ingin bertemu dengannnya," ucap Alva
"Alibi kuno" desis Raefal
"Jadi kamu sudah mengakui kalau kau jatuh cinta pada gadis itu hm?" tanya Raefal dengan menaik turunkan alisnya
"Aku...."
"Mungkin...... iya!" jawab Alva jujur
"Bagus, segera dapatkan dia, dan ajaklah menikah jika sudah mantap, jangan terlalu lama, nanti dia diambil orang kau akan menyesal" saran Raefal
"Tidak secepat itu Rae!" ucap Alva ragu
"Apa lagi yang masih mengganjal Al," tanya Raefal
"Aku belum yakin" ucap Alva ragu
"Apa lagi yang kau ragukan Ak, lihat dirimu, tampan, berwibawa, sukses dan matang" ucap Raefal
"Aku hanya belum yakin, apa dia akan menyukai dan menerimaku, kau tahu, setiap kali kami bertemu bahkan dia selalu kesal apapun keadaannya" jelas Alva
"Pikirkan baik-baik sebelum bertindak lebih jauh" ucap Raefal berlalu dengan membawa paper bag yang diberikan sahabatnya sebelum sipemberi berubah pikiran, rezeki siapa yang menolak batin Raefal senang
⭐⭐⭐
Alsa tengah menikmati coklat panasnya, tak ada ide yang bisa dituangkan dikertas kosongnya dia benar-benar buntu. Terdengar lantunan Adzan berkumandang, dengan segera dia mengambil wudhu untuk menjalankan kewajibannya untuk shalat isya, tak lupa Alsa membubuhkan beberapa doa untuknya juga untuk orang-orang terdekatnya, setelah selesai dia kembali dengan kertas-kertas kosong yang belum terlukir diatas meja
Ceklek
Tanpa mengetuk Nara masuk kedalam ruangan Alsa, diiringi dengan karyawan lain dibelakangnya. Ya hari ini adalah pembagian bonus akhir bulan untuk karyawannya seperti biasanya. Alsa yang sempat terlupa dengan segera memberi kan beberapa amplop untuk dibagikan kekaryawannya dengan senang hati mereka menerimanya. Tak lupa juga Alsa memberikan motivasi juga dukungan kepada mereka. Karyawanpun bubar untuk pulang karena memang butik sudah mereka tutup lebih cepat dari biasanya, tinggallah Alsa juga Nara didalam ruangan
"Mmmm... Sa" ucap Nara ragu
"Kenapa, kamu nggak berencana buat balikin bonus dari aku lagi kan?" tanya Alsa menyelidik. Narapun menggelengkan kepalanya
"Mmmm.... Tapi kamu jangan marah ya" tanya Nara lagi
Alsa lalu menghentikan kegiatannya dan memandang Nara bingung
"Kalau mulai besok kamu nggak jemput aku bisa nggak Sa" ucap Nara ragu
Alsa yang mendengar perkataan yang dilontarkan untuknya meletakkan pensilnya dengan kasar membuat Nara terkejut
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Alsa datar
"Aku... Aku mau berangkat sendiri mulai besok, boleh kan?" jawab Nara
"Kenapa?" tanya Alsa lagi
"Kamu udah terlalu banyak nolongin aku Sa,, aku mau mandiri, aku nggak bisa terus-terusan ketergantungan sama kamu, jadi aku.." Ucapan Nara terpotong
"Kamu merasa nggak enak karena udah ngerepoti aku"
"Kamu nggak mau aku terus-terusan merasa kasian sama kamu"
"Kamu merasa nggak enak karena tiap hari aku antar jemput kamu"
"Kamu merasa nggak enak karena aku selalu nolongin kamu"
"Kamu merasa nggak enak karena aku selalu ngasih bonus kekamu"
"Itu yang mau kamu omongi ke aku Ra?!" Tanya Alsa
"Udah berapa kali kamu bilang ke aku masalah ini, aku nggak suka Ra"
"Aku selalu bilang sama kamu kan, aku ngelakuin hal itu karena aku mau, karena aku sayang sama kamu, bukan semata karena aku mengkhususkan kamu dimata aku,"
"Semua aku anggap sama Ra, baik kamu, Kaila, tau yang lainnya juga" sambung Alsa dengan mata memerah menahan kesal
"Aku nggak bermaksud Sa,," Ucap Nara sesegukan sambil menggelengkan kepalanya
"Aku cuma nggak mau kamu kerepotan karena harus jemput aku jauh-jauh, makanya aku..."
"Terserah kamu kalau itu kemauan kamu Ra" potong Alsa dan berlalu meninggalkan Nara yang menangis di ruang kerjanya
Alsa keluar butik nya dengan perasaan kesal sekaligus berasalah. Dia benar-benar tak habis pikir karena sahabatnya berpikir terlalu jauh padanya, padahal niat hati dia dengan senang hati membantu Nara.
Sampai dimobil tak dapat dibendung lagi air mata yang sedari tadi dia tahan, Nara memang seorang yang selalu tak enak hati, namun begitu Alsa selalu menguatkan Nara kalau dia ingin melakukan hal itu tanpa perasaan bersalah sama sekali.
Alsa dengan senang hati menjemput juga mengantarkan Nara, karena dia juga tak ingin membuat Nara jadi boros karena harus membayar angkutan yang mengantarkannya sampai kebutik, jadilah dia selalu menjemput maupun mengantarkannya, nara memang selalu bilang merepotkan Alsa, namun dengan alasan Alsa ingin dijalan ada teman untuk ngobrol agar dia tak sendirian.
Tapi hari ini, dengan Nara meminta untuk tak menjemputnya lagi membuat hati Alsa sakit.
Segera dia meninggalkan butik dalam keadaan Nara masih disana, Alsa seolah tak peduli bagaimana nantinya Nara pulang, Alsa benar-benar kecewa, dia sangat marah, bagaimana mungkin Nara berfikir seperti itu.
Alsa memberhentikan mobilnya didekat taman, alsa yang sedang kecewa duduk dibangku taman yang jauh dari keramaian. Disana dia hanya menangis sesegukan teringat percakapannya dengan Nara beberapa waktu yang lalu.
Udara malam semakin menusuk kedalam kulit Alsa, namun begitu tak membuatnya beranjak dari tempat duduknya, Alsa yang melamun dengan masih sesegukan, air matanya membanjiri wajah cantiknya
Tukk
Terasa hangat menyelimuti badan Alsa, membuat Alsa menoleh
__ADS_1
"Nggak baik anak gadis diluar malam-malam" ucap pria yang memberikan jaketnya pada Alsa