
'Nara Pov'
Namaku Nara kirania (22tahun) aku lahir dikeluarga yang sederhana, bisa melanjutkan kuliah adalah suatu kebanggaan untukku. Keuangan keluargaku yang kurang berkecukupan membuatku minder walau hanya untuk pergi kuliah. Tapi begitu keluargaku ingin aku tetap melanjutkan studiku. Aku tiga bersaudara dan aku anak kedua, aku memiliki kakak laki-laki yang kini hanya bekerja serabutan serta adikku yang masih disekolah menengah pertama.
Aku merupakan gadis yang kalem juga pemalu, karena itulah aku jarang memiliki teman, terlebih karena kondisi perekonomian yang ku alami.
Kalau bukan karena beasiswa yang kuterima, mungkin saat ini aku sama seperti kakak ku yang ikut bekerja serabutan dengannya. Mereka bilang aku adalah kebanggaan mereka, maka dari itu aku harus tetap berjuang untuk menyelesaikan study ku.
Disemester awal aku sama sekali tak memiliki teman seperti kebanyakan teman sekelasku yang lain, aku lebih memilih menyendiri dan melakukan hal lain. Kugunakan waktuku untuk belajar dan belajar, kadang pula membantu orang tua ku jualan dipasar saat aku tak memiliki jam kuliah.
Diakhir semester awal, kami memiliki tugas akhir yang mengharuskan kami mahasiswa menyelesaikannya sebelum ujian dimulai, saat itu aku satu kelompok dengan Alsava juga Kaila. Disinilah awal mula pertemanan kami.
Mereka berdua termasuk orang yang berkecukupan, memiliki otak jenius dan supel. Awalnya aku begitu minder saat kami dihadapkan dengan tugas yang sama. Ketangkasan dan kecerdasan mereka membuat nyaliku menciut, mereka seakan sempurna tanpa celah. Awalnya aku ragu saat mereka memintaku untuk berteman dengannya, mereka bilang kami sedikit memiliki kesamaan yang sama. Tapi mereka ternyata tak mempermasalahkan semuanya, mereka bilang berteman tak harus memandang status juga kedudukan, itulah yang kusuka dari mereka berdua.
Kaila merupakan gadis yang agak keras, banyak bicara, namun begitu dia begitu penyayang juga dewasa, dia selalu memberi kami saran, masukan maupun solusi dari semua hal yang kita hadapi.
Sama halnya dengan Alsava, dia merupakan gadis yang periang, royal, tak sungkan untuk membantu sesama teman yang membutuhkan. Dia yang kuyakini adalah anak orang berada, tapi dia juga anak yang sederhana.
Beginilah pertemanan kami dimulai, kami yang selalu menyelesaikan tugas bersama, berdiskusi bersama hingga semuanya dilakukan bersama-sama. Alsava memiliki usaha cafe yang buka pada awal semester 2 yang berdiri tak jauh dari lokasi kampus, katanya cafe itu hadiah ulang tahun dari kakeknya, mungkin bisa jadi hadiah ulang tahunnya berupa cafe, entahlah.
__ADS_1
⭐⭐⭐
Awalnya cafe itu hanya berisi lima orang, dua orang yang katanya pegawai kakeknya untuk membantu pekerjaan awal hingga dia memiliki pegawai sendiri dan tiga orang diantaranya adalah kami. Alsava juga ikut membantu melayani pelanggan.
Usaha cafe Alsava berkembang cepat hingga setelah dua tahun berdiri dia sudah memiliki dua puluh lima karyawan yang bekerja dengannya dan itupun dibagi menjadi dua sift, pagi dan malam. Karena memang cafe Alsa buka hingga jam 11 malam.
Akupun masih setia bekerja dengannya, begitupun dengan Kaila yang satu tahun setelah cafe dibuka dia diangkat menjadi assisten pribadinya, tak ada kata iri dalam diriku, karena memang Kaila orang yang cocok untuk membantu Alsa menghandle segala keperluan cafe. Alsava merupakan pemimpin yang baik, karena setiap bulannya dia akan memberikan gaji juga bonus pada setiap karyawannya. Untuk bonus memang bukan bonus yang besar sebesar gaji kami, tapi setidaknya hanya untuk membeli camilan untuk akhir bulan.
Liburan semester 5, Alsa tiba-tiba memintaku untuk bertemu dengannya. Aku yang tak tahu apa-apa hanya menuruti permintaanya. Kami bertemu di cafe tak jauh dari komplek perumahanku. Bagai petir disiang bolong, Alsava memintaku untuk bekerja dengannya, aku yang bingung hanya mampu berdiam diri tak membuka suara
"Aku ingin membuka butik" itulah kata yang keluar dari mulut nya
"Aku mau kamu bantu aku buat membuka butik milikku" Sambungnya lagi
"Tapi sa?" akupun bingung apa yang ingin kujawab
"Kamu nggak perlu jawab sekarang, aku akan kasih waktu berfikir buat kamu, tapi aku berharap sih kamu mau bantu aku hehe" Begitulah permintaan yang Alsava lontarkan padaku
Setelah berhari-hari aku memikirkan tawaran yang diberikan oleh Alsava, akupun juga meminta pendapat pada orang tua ku. Baliau berkata jika tak mengganggu aktivitas kuliah mereka tak mempermasalahkan dimana aku bekerja. Akhirnya kuterima tawaran alsa dengan senang hati, dan kulihat Alsava tersenyum sumringah.
__ADS_1
Satu minggu setelah kuterima tawarannya, aku langsung diajaknya untuk terjun langsung bekerja dibutiknya. Tak habis pikir oleh ku, karena yang kukira semua ucapannya masih wacana, namun nyatanya sudah terencana dan terlaksana. Sudah banyak karya-karya nya yang terpasang dibutik saat itu.
Ya.. Alsava memang menjalani kursus kelas fashion desainer pada saat akhir semester 2, dan dia baru menyelesaikan studynya itu beberapa bulan sebelumnya. Sebenarnya, fashion adalah hobi nya, tapi karena tuntutan keluarganya yang mengharuskannya untuk mengambil study bisnis mau tidak mau dia harus menjalani itu semua.
Sama seperti usahanya dicafe, butiknya pun tak kalah sukses, bahkan karyanya sempat beberapa kali mengikuti fashion show dikancah nasional maupun internasional. Tak ayal banyak sekali yang menyukai karya-karyanya yang bagus dan bekualitas tinggi. Sekitar setengah tahun aku bekerja bersamanya dibutik, membuatku juga ingin mempunyai sertifikat fashion, dilihat dari aku yang sering membantunya membuat rancangan membuatku tertarik.
Setelah kuutarakan niatku pada Alsava dia sangat menyetujui permintaanku. Dengan sangat senang dia menanggapi keinginanku, kata ya dia tak pernah berfikir kalau aku akan tertarik didunia fashion. Alsa memilihkan tempat kursus untukku, tempat mana yang akan menjadi pilihanku. Akhirnya akupun mendaftar ditempat yang sebelumnya di ikuti oleh Alsava yang dibantu olehnya, dan aku mulai mengikuti kelas Fashion desainer hingga sekarang.
Kegiatan menjalani aktivitasku selalu kulakukan dengan senang hati, toh itulah yang kuinginkan. Menyelesaikan Study ku dikelas bisnis, mengikuti kursus hingga bekerja dibutik begitu menguras energiku sebenarnya. Tapi kebaikan hati Alsa kuhilangkan fikiran itu semua.
Entah sudah berapa banyak hal yang dia berikan padaku, aku selalu merasa tak enak hati karena terus-terusan merepotkannya, tapi dia selalu bilang kalau dia senang melakukan hal itu padaku.
Begitupula dengan kendaraan yang kugunakan, biasanya aku akan menggunakan transportasi umum untuk kugunakan kesana kemari, tetapi setelah aku berteman juga bersahabat dengannya, dia selalu menjemput maupun mengantarkan ku. Begitulah aku yang tak ingin merepotkannya
Pernah suatu ketika aku pergi kebutik menggunakan transportasi umum, karena tak tega harus menjemputku, padahal tempat tinggalku dari butik jauh, apa lagi butiknya berdiri tak jauh dari apartement nya, itulah yang membuatku sungkan. Saat itu juga dia memarahiku karena ada dia yang menjemput kenapa harus bersusah payah menghamburkan uang, itulah katanya.
Akhirnya aku mengalah membiarkannya terus mengantar dan menjemputku, kebutik maupun ke kampus. Suatu ketika Adikku sakit dan harus dilarikan kerumah sakit, saat itu aku kebingungan karena uangku tak mencukupi untuk membayar biayanya, saat itu Alsa dengan kelapangannya memberikan bantuan padaku, aku bilang akan segera mengembalikannya, tapi katanya tak usah, dan itu membuatku kepikiran.
Sampai akhirnya aku berinisiatif untuk tak menerima bonus akhir bulan yang diberikannya padaku. Namun apa yang ku harapkan nyatanya berbanding terbalik dengan yang ku pikirkan, dia justru terlihat marah padaku, dan akan memecatku menjadi assisten selakigus sahabatnya, akhirnya kuurungkan niatku.
__ADS_1