
'Nara Pov'
Setelah pernyataan yang menyebutkan bahwa akan memecatku menjadi Assisten maupun sahabatnya membuat nyaliku ciut untuk kembali menyinggung soal uang, Akhirnya aku berinisiatif untuk kusisihkan sebagian gajiku juga bonusku untuk kutabung.
Setelah beberapa bulan akhirnya tabunganku mencukupi. Kukumpulkan keberanianku untuk mengutarakan keinginanku. Aku sangat takut jika nantinya dia marah lagi padaku, tapi begitu tak menyurutkan niatku.
Tiga hari kupertimbangkan keinginanku, tiga hari pula kukumpulkan keberanianku untuk berbicara pada Alsa. Saat ini adalah waktunya pemberian bonus akhir bulan, saat semuanya sudah pulang dengan ragu ku panggil namanya yang masih fokus menggambar diatas kertas
"Mmmm... Sa" ucap ku ragu
"Kenapa, kamu nggak berencana buat balikin bonus dari aku lagi kan?" tanya Alsa menyelidik. Akupun seketika menggelengkan kepala
"Mmmm.... Tapi kamu jangan marah ya" tanya ku lagi, oke aku benar-benar takut
Alsa lalu menghentikan kegiatannya dan memandang ku bingung
"Kalau mulai besok kamu nggak jemput aku bisa nggak Sa" begitulah ucap ku dengan ragu
Alsa yang mendengar perkataan yang dilontarkan untuknya meletakkan pensilnya dengan kasar membuat ku terkejut, kulihat matanya memancarkan kemarahan,
'Inilah yang kutakutkan' batinku dalam hati
"Kenapa?" tanya Alsa datar
"Aku... Aku mau berangkat sendiri mulai besok, boleh kan?" jawab ku
"Kenapa?" tanya Alsa lagi
"Kamu udah terlalu banyak nolongin aku Sa,, aku mau mandiri, aku nggak bisa terus-terusan ketergantungan sama kamu, jadi aku.." Ucapan ku terpotong oleh pengakuan Alsa
"Kamu merasa nggak enak karena udah ngerepoti aku"
"Kamu nggak mau aku terus-terusan merasa kasian sama kamu"
"Kamu merasa nggak enak karena tiap hari aku antar jemput kamu"
"Kamu merasa nggak enak karena aku selalu nolongin kamu"
"Kamu merasa nggak enak karena aku selalu ngasih bonus kekamu"
__ADS_1
"Itu yang mau kamu omongi ke aku Ra?!" Tanya Alsa
"Udah berapa kali kamu bilang ke aku masalah ini, aku nggak suka Ra"
"Aku selalu bilang sama kamu kan, aku ngelakuin hal itu karena aku mau, karena aku sayang sama kamu, bukan semata karena aku mengkhususkan kamu dimata aku,"
"Semua aku anggap sama Ra, baik kamu, Kaila, tau yang lainnya juga" sambung Alsa dengan mata memerah menahan kesal
Seketika air mata ku jatuh mendengar pengakuan yang Alsa lontarkan padaku
"Aku nggak bermaksud Sa,," Ucap ku sesegukan sambil menggelengkan kepalanya
"Aku cuma nggak mau kamu kerepotan karena harus jemput aku jauh-jauh, makanya aku..."
"Terserah kamu kalau itu kemauan kamu Ra" potong Alsa dan berlalu meninggalkan ku yang masih menangis di ruang kerjanya
Sepeninggal Alsa akupun menangis sejadi-jadinya, tak pernah sedikitpun kulihat dia akan semarah itu padaku, tapi hari ini, aku melihaynya, bahkan dia memarahiku, ini untuk pertama kalinya.
Setelah beberapa saat aku sudah bisa menguasai diriku, aku keluar dari ruang Alsa dan menguncinya, serta mengecek keadaan butik dan menguncinya.
Kulihat mobil Alsa sudah tak ada lagi diparkiran, itu tandanya dia meninggalkanku, dia benar-benar menuruti perkataanku dengan tak mengantar atau menjemputku lagi.
Air mataku kembali berjatuhan, bahkan kali ini terasa lebih deras, dadaku terasa sesak, aku hanya mampu menangis didepan butik
'Kenapa kamu sebodoh ini Ra?'
'Dia udah bantuin kamu banyak hal'
'Dia udah membantu kamu hidup berkecukupan'
'Dia yang udah kasih kamu kepercayaan sepenuhnya'
'Tapi hari ini kamu menghancurkan semuanya Ra'
'Kamu bodoh Ra.. Bodoh' begitulah kataku dalam hati merutuki segala kebodohanku
Begitulah kata yang mampu menggambarkan diriku, kulihat waktu menunjukkan pukul 21.15 aku sampai dirumah, keadaan sudah sepi tandanya keluargaku sudah terlelap. Aku pun masuk menggunakan kunci cadangan yang selalu ku bawa setelah tadi aku pulang menggunakan ojek online.
Kujatuhkan tubuhku kekasur, tanpa diduga airmataku kembali berjatuhan, sekian lama aku menagis hingga tanpa sadar aku tertidur tanpa membersihkan diri telebih dahulu.
__ADS_1
Adzan subuh melebarkan telingaku untuk segera bangun dan menjalankan kewajiban pagiku. Lagi-lagi aku menangis meratapi kebodohanku. Setelah selesai akupun bersiap untuk berangkat ke kampus karena hari ini ada jadwal bimbingan skripsi.
Disana aku hanya bertemu dengan Kaila tanpa Alsa disampingnya. Aku merasa kecewa, 'dia masih marah padaku' begitulah pikirku
Setelah menyelesaikan bimbinganku aku kembali ke butik untuk menghandle semuanya yang ada disana. Tak kulihat mobil Alsa disini, dia tak mengunjungi butik. Ku hubungi Kaila menanyakan keberadaan Alsa dan berharap dia baik-baik saja dan berada disana, namun naas Alsa tak menunjukkan dirinya dibutik, akupun tambah khawatir karenanya.
Tak mungkin untukku menghubunginya saat ini, karena kuyakin dia akan semakin marah padaku, dan akirnya ku urungkan niatku untuk menghubungi dan menanyakan keadaanya, dan yang pasti dia sedang tak baik-baik saja.
Benar saja, selama beberapa hari ini tak ada kabar apapun tentangnya, Alsa sama sekali tak mengunjungi butik walau sekedar pengecekan seperti biasa.
Kulihat seorang pria yang pernah dilayani oleh Alsa berkunjung kebutik meminta Alsa untuk melayaninya seperti biasa, dengan sopan ku beritahu bahwa Alsa sedang tidak ada ditempat, pria itu hanya mengangguk setelah memilih satu pasang setelan beserta dasi juga sepatu yang senada dengan jas yang dibelinya.
⭐⭐⭐
Hubunganku dengan Alsa benar-benar tak membaik, pernah sesekali dia berkunjung kebutik dan dia salalu mengacuhkan keberadaanku, tak dihiraukannya panggilanku, dia berlalu ke ruang kerjanya dan selalu mengunci pintunya. Hingga beberapa kali keadaan ini terus berlanjut.
Alsa adalah orang yang akan melupakan kejadian dengan sendirinya, tapi disaat dia marah dia akan berkepala batu dan tak mengindahkan orang-orang sekitar.
Sebanyak apapun berusaha mendekat ataupun menjelaskan kalau dia belum benar-benar melupakan kejadian itu dia tak akan menghiraukan, oleh sebab itulah aku memilih menghindar dan memberinya waktu untuk sendiri. Jika nantinya keadaan membaik aku alan menjelaskan keadaan yang sebenar-benarnya, begitulah pikirku.
⭐⭐⭐
Hari ini Alsa mengunjungi butik tapi lagi-lagi aku masih diacuhkannya, kali ini kami para perancang diminta untuk segera menyelesaikan rancangan yang sebelumnya telah didesain olehnya.
Ruangan begitu mencekam, itulah yang kurasakan, Alsa yang masih tetap diam seolah paham dengan keadaan bosnya yang dalam keadaan yang sangat tidak baik membuat mereka ketakutan juga karyawan lain yang tak berani untuk membuka suara, kami fokus pada pekerjaan kami masing-masing.
'Dingin banget sih ruangannya' begitu bisik-bisik yang kudengar dari pegawai yang lain.
Brakk
Kursi yang diduduki oleh Alsa terjatuh kebelakang saat dia berdiri dengan kasar. Seketika karyawan yang ada diruangan ini menghentikan aktivitasnya, Kulihat mereka terkejut karena Alsa, terlihat takut dari ekspresi wajah mereka.
"Kalian selesaikan semuanya, lusa sudah harus ada didepan, juga pesanan dari pelanggan didahulukan" Begitu ucap Alsa ketus pada semua oranh yang ada disini
"Jangan ulangi kesalahan seperti minggu kemarin"
"Ingat.... kepuasan pelanggan point paling penting yang kita punya" Begitu ucap Alsa dengan nada marah
Mereka yang takut hanya menanggapi dengan anggukan tanpa banyak bersuara. Seketika Alsa meninggalkan ruang rancangan dan pergi keluar dari butik.
__ADS_1
Hatiku tiba-tiba sakit,
'Sebegitu marah dan kecewa kah Alsa padaku sekarang' tanyaku dalam hati