
Kinanti kembali masuk ke dalam rumah. Kali ini, rasa kecewanya membawa dia tidak penasaran akan isi surat yang baru saja dia terima. Ia menyimpannya ke dalam laci,menutupi dengan tumpukan buku lalu meninggalkannya begitu saja. 'nanti akan kubaca saat hatiku sudah tak sakit karenamu' begitu lah yang tersirat dihatinya.
"siapa Kin Orang tadi? serem banget. Kamu punya utang?"
Lagi dan lagi, mbak Santi membuat Kinanti tersentak. Kedatangannya selalu tiba-tiba dan tanpa permisi. Bahkan tapak kakinya pun terdengar ditelinga Kinan.
"mbak itu, terbang apa sih? Ngagetin mulu dari tadi"
"hahaha, sorry Kin. Bukannya mbak yang terbang, tapi kamu aja yang nglamun"
Kinanti kembali merenung. Ia seperti menahan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
"hello, Kinan?"
"eh, sorry Mbak. Aku ke dapur dulu ya, mau bikin susu buat Dira"
"ini anak! Meslek kali ya otaknya"
Kinan berlalu, dia meninggalkan Santi yang masih asik dengan ocehan nya.
--
"Ram, kamu ngga lembur?"
__ADS_1
"engga Dir, aku mau pulang. Semangat ya lemburnya"
Rama menepuk pundak Diro lalu cepat-cepat melangkahkan kaki keluar dari area pabrik. Sehari penuh dia memang tampak tak semangat, padahal dia tidak kena omel walaupun terlambat datang. Entah, beban apa lagi yang membuat dia lesu tanpa gairah.
Dia kembali mengayun ontel tuanya. Menggerakkan dengan sisa-sisa tenaga yang masih dia miliki. Perutnya mulai keroncongan seirama dengan putaran kakinya.
Dia memang hanya sarapan roti tadi pagi, siang juga tidak makan karena tidak membawa bekal. Mau keluar pabrik pun memerlukan waktu yang lama karena warung sangat jauh. Biasanya, dia selalu beli ketika berangkat, tapi keterlambatan bangun pagi tadi membuatnya tergesa-gesa dan tidak memikirkan perut.
Tok tok tok
Rama mengetuk pintu dengan lembut, beberapa kali sampai ada suara yang menyahuti dari dalam,lalu membukakan pintu untuknya.
"kamu ngga lembur Ram? Anak udah diluar makin males-malesan aja kamu itu. Harusnya makin rajin dong! Mau dikasih makan apa anak istrimu"
"Rama capek banget hari ini bu jadi ngga lembur"
"memangnya jagain Dira itu ngga capek? Baru juga punya anak dua hari udah ngeluh aja kerjaannya!"
Duh, gemes deh. Sepertinya Rama salah jawab lagi. Bukannya dibaikkin, cepet dipersilahkan masuk terus suruh istirahat nah ini? Malah tambah disemprot! Ngga capek apa ya ngomel mulu setiap hari.
'coba aja Aladin itu temenku, tinggal aku gosok-gosok itu tekonya udah deh keluar duit, tinggal templokin dimulutnya emak-emak satu ini. Pasti diem' Rama hanya berani menjawab dalam hati. Dia memilih menunduk dan sekuat hati mencoba tak mendengarnya.
"ada apa sih buk? Orang baru pulang bisr masuk dulu kek, ngga malu apa dilihatin tetangga?"
__ADS_1
Mbak Wulan ini makin kelihatan saja sisi baiknya, ya walau suka angkuh dan cuek dengan keadaan, tapi setidaknya dia ini tipe manusia yang suka menyerukan kebenaran.
" biarin. Biar banyak orang tahu kalau Rama ini ngga pecus jadi ayah."
Untunglah,walau kalimatnya nyakitin hati tapi Bu Wati menjawabnya sambil masuk kekamarnya. Setidaknya bisa memberi waktu untuk Rama bernafas lega.
"ngga usah didenger Ram, ibuk ya suka gitu."
"iya mbak. Rama maklum kok"
--
"anak ayah kenapa nangis sayang? Kangen ya sama Ayah?"
Begitu masuk kamar, Rama disambut oleh jeritan tangis Nadira. Ya mungkin dia merasa takut karena ditinggal sendiri oleh Kinanti.
"sini sini, sama ayah yaa... Cup"
Tidak ada ikatan darah tidak menghalangi adanya ikatan batin diantara keduanya. Dira terlihat nyaman dengan dekapan Rama, terbukti dengan langsung diamnya begitu kulitnya bersentuhan dengan Rama.
Tak berselang lama, setelah Rama kembali menidurkan Nadira, Kinanti masuk kamar. Ia menenteng handuk dan rambutnya masih terlihat basah. Terukir senyum disudut bibirnya, dia juga menghampiri Rama untuk mencium tangannya.
Hati Kinanti memang masih Rama ragukan. Walau, wanita itu melakukan semua kewajiban nya sebagai istri. Bukan berarti dia bersungguh dengan semua. Dia tidak pernah mengatakan isi hatinya, perasaanya, dia juga tidak pernah membalas chat Rama saat dia menuliskan kata I love you. Tapi, Rama bertekad dengan rasanya, dia yakin wanita itu akan luluh seiring berjalannya waktu.
__ADS_1