
"Huff, lelah sekali."
Nadira menghempaskan tubuhnya di atas single bed yang sudah lama tidak ia tempati. Ruangan sepetak, yang sejak kecil selalu menjadi saksi akan segala rasa yang berkecamuk dalam jiwa Nadira. Ruangan ini, ruang yang menjadi pelipur kala hatinya pilu. Penenang, kala telinga harus mendengar ribuan perdebatan yang selalu dan selalu terjadi di dalam keluarganya. Mungkin, sekarang sudah tidak ada lagi. Karena mimpi Kinanti untuk berpisah dengan Rama telah tercapai. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk segala keributan yang terjadi di dalam rumah peninggalan kakeknya, suami dari Nenek Wati.
"Oh iya, aku kan belum kabarin Ayah kalau aku sudah lulus."
Nadira kembali bangkit dari atas tempat tidur. Ia melupakan lelah yang menggerogoti tubuhnya. Kakinya, ia seret menuju meja belajar usang, untuk meraih ponsel miliknya. Jemarinya lincah bermain di atas layar ponsel, matanya jeli mencari ID dengan nama "Ayah tercinta" di barisan kontak yang ia simpan.
tut...tut...tut....
"Ayah kemana sih ?"
Tiga kali panggilan nampaknya tak dapat respon dari Rama. Ya, mungkin laki-laki itu sedang bekerja, atau sibuk dengan hal lainnya. Jika tidak, ia tidak mungkin menolak panggilan sang putri atau bahkan sengaja untuk tidak menjawabnya.
'Ya sudahlah, aku kirim pesan saja.' Batin Nadira. Ia kembali menatap layarnya, dan menuliskan sesuatu yang ingin ia katakan pada Rama.
"Kak...Kakak....."
Namun, belum sempat mengirim pesan, Nadira di kejutkan dengan suara Kinanti yang berteriak memanggil namanya. Suaranya histeris, terkesan sedang ada sesuatu yang menimpanya.
Nadira melempar ponselnya. Ia melupakan perihal pesan yang belum sempat terkirim. Dengan langkah cepat, gadis itu menghampiri sumber suara. Bersamaan dengan kedua saudara Kinanti yang juga kaget dengan jeritan Kinan.
"Ada apa Dir ? Kenapa Mamamu teriak-teriak ?"
"Dira juga gak tahu Tante. Lebih baik, kita segera samperin Mama..."
Nadira, Wulan dan Santi bergegas menuju sumber suara. Semakin dekat, semakin jelas jeritan Kinan. Isak tangis dan ia terus menyebut kata "Ibu".
"Ma, Nenek kenapa Ma ?"
"Ibu....."
Tubuh Nadira lemas ketika ia melihat Nenek Wati sudah terbujur di dalam kamar mandi. Perempuan paruh baya itu tak sadarkan diri dengan kepala berada di pangkuan Kinanti.
"Ibu jatuh...."
Teriak Kinanti seperti tak percaya. Mbak Wulan memeriksa denyut nadi dan nafas Nenek Wati.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un."
Tangis mbak Wulan pecah setelah ia mengetahui kenyataan bahwa Ibunya telah tiada. Melihat respon mbak Wulan, Nadira dan yang lainnya ikut menjerit. Tangisnya menggema, hingga mengundang orang-orang sekitar untuk datang ke rumah mereka.
Warga cepat tanggap dengan apa yang terjadi. Mereka merangkul tubuh anggota keluarganya, dan membawa mereka sedikit mundur agar memudahkan warga yang lain untuk mengevakuasi jenazah.
Di sini, tangis Kinanti yang tidak bisa di tahan. Anak bungsu dari tiga bersaudara itu, merupakan anak kesayangan Nenek Wati. Hingga, ialah yang paling terpukul begitu tahu Ibunya telah berpulang lebih dulu.
Beberapa kali Kinanti jatuh pingsan. Ia tak habis pikir, jika secepat itu ia harus berpisah dengan Ibundanya.
Nadira terus memeluk tubuh Kinanti. Meskipun hatinya juga hancur melihat kejadian itu, tetapi ia terkesan lebih tenang dari Kinan. Mungkin, karena ia tidak begitu dekat dengan Nenek Wati sejak kecil. Meskipun sedih, ia lebih legowo menerima kenyataan yang ada.
__ADS_1
"Usia, memang tiada yang bisa menebaknya."
*****
"Tiga panggilan tak terjawab ?"
Rama langsung membuka ponselnya. Sejak pagi, ia terlalu sibuk bekerja hingga tak sempat memegang ponsel.
"Nadira ? Ada apa ini, kok tumben sampai telepon berkali-kali."
Rama bicara seorang diri. Ia mencoba balik menghubungi Nadira. Hingga beberapa kali, namun tak kunjung ada jawaban. Ia juga mengirimkan pesan, tetapi juga belum ada respon dari Nadira.
"Ada apa kak ?"
"Maaf, tadi Ayah kerja."
"Kakak baik-baik saja kan ?"
Rama berulang kali melirik ponselnya. Jemarinya juga makin sering menekan tombol power, untuk sekedar memastikan jika putrinya baik-baik saja. Bahkan, sesekali ia mencoba menghubungi Nadira melalui sambungan telepon. Namun sayang, hingga pagi menjelang, Nadira masih juga tak ada respon.
Rama mulai gelisah. Hatinya berkecamuk tak karuan rasanya. Nadira tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia pasti selalu mengirimkan pesan, meskipun hanya sekedar ucapan semangat untuk sang Ayah.
"Kamu kemana sih kak ? Sejak kemarin kok tidak ada kabar."
Rama semakin risau. Ia hanya takut terjadi sesuatu yang buruk pada putrinya. Hati dan pikirannya tak berhenti memanjatkan doa. Ia terus dan menerus berseru kepada Sang Pencipta, untuk keselamatan anak gadisnya.
Sudah semalaman ia tidak bisa tidur, dan siang hari pun ketika bekerja ia tidak bisa fokus. Pikirannya terus di sibukkan dengan Nadira, yang hilang kabar setelah teleponnya tidak sempat Rama jawab.
Rama bergegas membereskan barangnya. Ia bersiap-siap untuk pulang ke rumah Ibunya. Sudah seminggu Rama menginap di tempat kerja. Mungkin, kalau bukan kegelisahan hatinya, Rama tidak akan memutuskan untuk pulang.
"Assalamualaikum Ibu."
"Wa'alaikum salam...."
Terdengar suara Ibu yang menjawab salam dengan sedikit berteriak. Mungkin ia sedang sibuk di belakang, jadi suaranya yang lebih dahulu menyahuti sebelum ia menampakkan batang hidungnya.
"Loh Ram ? Awakmu kok tumben pulang ?" Tanya Ibu begitu ia membuka pintu dan melihat ada Rama yang sudah berdiri di depannya. Wajahnya suram, cukup mudah untuk Ibu menebak keadaan hati Rama. Namun, untuk mengetahui apa yang terjadi, Ibu tidak bisa melihat hanya dari raut wajah putranya.
"Iya buk."
Seperti ogah-ogahan jalan, Rama menyeret kakinya untuk masuk ke dalam rumah setelah ia mencium punggung tangan Ibu. Wajah sendu itu, tak berhasil ia sembunyikan. Seutas senyum pun tak ia perlihatkan meskipun ia menatap bola mata sang Ibu.
"Hufff"
Rama menghempaskan tubuh di atas sofa ruang tamu. Ia melemparkan topi berwarna hitam ke atas meja.
"Ada masalah to le ?"
Ibu sudah kembali, dengan membawa secangkir teh hangat. Ia meletakkan di hadapan Rama. Dengan tenang, ia mencoba bertanya pada Rama dengan perlahan. Takut, seperti yang selalu terjadi. Rama bisa saja mendadak marah jika suasana hatinya sedang tidak menentu seperti sekarang. Kejadian ini, salam seperti saat Rama hanya menerima kenyataan tentang perpisahan nya dengan Kinanti, perempuan yang sempat membuatnya tergila-gila, hingga lupa harga diri seorang lelaki.
__ADS_1
"Nadira, apa menghubungi Ibu ?"
Rama menoleh ke arah Ibu. Di dalam sorot mata lesunya, tergambar harapan dari pertanyaan yang baru saja ia layangkan kepada Ibu.
"Tidak." sahut Ibu seraya menggeleng kepala. "Emangnya ada apa to le ?"
"Kemarin, Nadira telepon Rama buk, tapi gak sempat Rama jawab karena Rama masih kerja. Terus pas malam, Rama telepon balik berkali-kali tidak ada jawaban. Pesan yang Rama kirim juga belum di baca sampai sekarang. Rama takut buk, Rama takut terjadi sesuatu sama kakak."
Rama memberikan penjelasan panjang lebar. Jemarinya menggenggam tangan Ibu. Ibu bisa merasakan betapa dalamnya ketakutan Rama. Tangannya sangat dingin, wajahnya pucat, matanya sayu. Sudah pasti Rama belum makan sejak kemarin. Ia pasti sibuk memikirkan Nadira, hingga lupa dengan kebutuhan nya sendiri.
"Mungkin Nadira ada tugas le. sopo ngerti, memang di larang sama gurunya. Gak boleh pegang hp. Wes, Gak usah mikir si elek. Ibu yakin, Nadira baik-baik saja sekarang."
Ibu berusaha membuat Rama tenang. Ia mengusap punggung putranya, seraya mengatakan hal yang bisa melegakan hati Rama. Meskipun ikut bingung, tapi Ibu mencoba tenang. Tidak ingin menambah beban Rama.
"Tapi bu, kalau memang seperti itu, Nadira tidak pasti memberi tahu sebelumnya."
"Nadira kan sudah berusaha menghubungi mu le. Tapi, pas awakmu lagi sibuk. Sudah, kamu jangan mikir yang aneh-aneh ! Ibu siapkan makan ya, pasti awakmu belum makan."
Ibu beranjak dari atas bangku. Langkahnya menuju dapur, menyiapkan sajian lezat kesukaan Rama. Ibu tahu betul, Rama begitu suka dengan opor ayam. Kebetulan, ia memiliki stok di ayam di dalam kulkas. Ia dengan cekatan menyiapkan aneka bumbu dan sesegera mungkin masak untuk Rama.
Sementara itu, Rama masih terpuruk di ruang tamu. Ia berulang kali melirik ponselnya. Berharap Nadira segera memberi kabar. Berharap, putrinya memberi kabar baik untuknya. Meskipun ia berusaha keras untuk berpikir positif, tetapi hatinya tetap saja tidak bisa di bohongi. Rama sangat sangat gelisah memikirkan Nadira.
"Ram...."
"Rama...."
Aroma menggoda sudah tercium dari arah dapur. Ibu berteriak-teriak menyebut nama putranya. Rama memejamkan mata, menikmati lezatnya aroma masakan sang Ibu.
"Ayo Ram, makan dulu."
Ibu sudah berdiri di samping Rama. Tangannya menyapu lembut rambut sang anak. Merayunya, agar putranya itu mau untuk menyuap nasi meskipun hanya beberapa sendok.
"Rama belum lapar bu." elak Rama.
"Kamu ndak kasian to sama Ibu ? Ibu wes capek-capek masak buat kamu lo."
Rama menatap lekat wajah Ibunya. Wajah yang sering membuatnya tenang. Keriput-keriput halus, yang membuatnya tak tega untuk kembali menyakiti hatinya seperti dulu.
"Ya sudah, Rama makan. Ibu masak apa sih ?"
Dengan senyuman paksa, Rama mengukir di bibir indahnya. Ia bangkit, lalu merangkul sang Ibu dan berjalan beriringan menuju ruang makan. Di sana sudah tersaji lengkap menu favorit Rama. Ada opor ayam, tahu bacem dan sambal tomat terasi yang selalu membuat Rama ketagihan untuk pulang.
"Wah, kalau seperti ini Rama pasti makan bu."
Rama menarik kursi, begitu pula dengan Ibu. Dengan cepat, Rama membuka piring, mengisinya dengan dua centong nasi, dan semua lauk yang tersaji di atas meja.
Rama melupakan sekejap tentang Nadira. Ia makan sangat lahap, seperti seseorang yang sedang kelaparan. Ah, itu benar ! Rama memang kelaparan karena sejak semalam, ia sama sekali tidak menyuap nasi.
"Enak kan le ?"
__ADS_1
Rama menutup sendok, lalu meneguk air putih. Satu piring penuh ia makan dengan cepat. Bahkan ia sampai sendawa karena kekenyangan.
"Enak sekali buk. Ini yang buat Rama selalu ingin pulang." Puji Rama, yang di sahuti senyuman bahagia dari sang Ibu.