Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Bungkam


__ADS_3

Nurin berulang kali mondar-mandir di depan pintu kamar Rama. Kamar yang sudah sejak perdebatan kemarin sore tidak terbuka sama sekali. Ia sengaja tidak mengetuk pintu, atau membujuk Rama, berharap laki-laki itu sadar hal apa yang harus ia benahi dalam dirinya.


"Kamu gak pamitan dulu sama mas mu to Nur ?" Ibu yang baru keluar dari dapur memergoki Nurin yang gelisah di ruang keluarga.


"Kalau Nurin bujuk mas Rama untuk keluar kamar, sama saja Nurin mengiyakan apa yang membuatnya marah buk."


Ibu hanya mengangguk, entah paham atau sedang tidak ingin membahas hal yang hanya memancing pertengkaran. Baginya, melihat Rama sudah mau terpisah dengan perempuan yang tidak ia sukai sudahlah cukup. Meskipun anak laki-lakinya itu masih sering membuat nya kesal karena sifat keras kepalanya.


"Bu, Nurin pamit ya . Ibu jaga diri baik-baik ! Kalau ada apa-apa, langsung kabarin Nurin ya buk."


Nurin mendekap hangat tubuh rapuh sang Ibu. Seolah enggan melepaskan, ia terus mencium kedua pipi keriput Ibu. Tatapan sendu yang selalu ia rindukan, kasih yang hangat yang bisa ia rasakan, Nurin selalu tidak tega ketika hendak meninggalkan Ibu di rumah. Meskipun sekarang sudah ada Rama, tetapi rasa tak tega itu tetap saja hinggap saat ia melangkah semakin jauh meninggalkan rumah.


Ibu hanya melempar senyuman, seraya melambaikan tangan tanda perpisahan. Senyum sedih yang ia balut dengan ikhlas. Ia tahu, ia akan berpisah lama dari Nurin. Anak perempuan yang ia harapkan ada di sampingnya di sisa usianya.

__ADS_1


Semua sudah berbeda. Anak gadisnya telah berkeluarga. Ibu tidak mau menjadi orang yang egois. Ia sangat memahami bahwa Nurin sudah memiliki tanggung jawab yang lebih besar lagi jika di bandingkan dengannya. Ia tersenyum miris ketika hatinya mengingatkan itu.


"Buk...."


Ibu tak menyadari jika Rama sudah berdiri di belakangnya. Entah sejak kapan, cerita bagian mana yang bisa ia tangkap dari apa yang ia lihat. Ibu tidak tahu itu.


Panggilan dengan suara pelan itu tidak Ibu hiraukan. Bahkan untuk menoleh saja Ibu enggan melakukan. Ia justru berjalan menuju pekarangan rumah ketika Nurin sudah tidak lagi bisa ia tatap. Ibu pura-pura sibuk dengan sayuran yang ia tanam di sana.


"Ibu mau kemana ?"


Rama mengulang pertanyaan. Ia masih berusaha merayu Ibu, agar mau berbicara dengannya lagi. Tinggal berdua dalam satu atap, rasanya kurang nyaman jika saling bungkam.


"Gak ada si iso tak harapne selain sayuran iki Ram. Sepuluh ribu juga Alhamdulillah."

__ADS_1


Rama tercengang mendengar ucapan Ibu. Ada kata yang sengaja Ibu tekan, untuk menyindirnya. Rupanya, perdebatan yang terjadi kemarin begitu dalam membekas di hati Ibu. Apalagi perihal Kinanti yang meminta sejumlah uang untuk menggugat Rama.


Jika Rama tidak salah menerka, dari setiap kalimat yang sering Ibu ucapkan sejak dulu, sejak Rama dan Kinan masih berumah tangga, Ibu selalu mengajarkan kepada Kinanti agar menjadi perempuan mandiri. Tidak perlu menghasilkan uang besar dalam sebulan, tetapi menjadi perempuan cerdas dalam memanfaatkan peluang, cukup memberikan pelajaran kepada diri sendiri agar tidak selalu bergantung pada orang lain.


Rama merogoh ponselnya dari saku celana. Ada sebuah pesan singkat yang tertera di sana. Tersemat nama Nadira, putri sulungnya yang sangat mengerti isi hatinya.


"Ya, sebentar lagi Dira ujian. Doain Dira ya yah !"


"Selalu sayang. Kapan main ke rumah nak ?"


"Sabar Ayah. Tinggal dua bulan Dira lulus, Dira akan terus tinggal di rumah bareng Ayah, selama Dira belum bekerja."


Saling bertukar kabar menjadi rutinitas wajib bagi Rama dan Nadira. Di sela canda diantara mereka, menjadi obat yang paling ampuh untuk menyembuhkan rasa kecewa Rama. Nadira adalah satu-satunya orang yang di dengarkan oleh Rama. Setiap kata yang gadis itu lontarkan, dengan mudah akan Rama lakukan.

__ADS_1


__ADS_2