
Satu minggu sudah berlalu, menjadi hari-hari terpanjang yang harus Rama lalui . Tanpa adanya Kinanti, tanpa ketiga anaknya .
Mungkin jika hanya tanpa Nadira, Rama sudah terbiasa karena mereka tinggal berjauhan sudah cukup lama .Tapi, jika dengan Kinan, adalah mimpi terburuk dalam hidupnya.
Hampir setiap malam yang terlewat tanpa Kinanti, menjadi malam terpanjang yang Rama lalui. Beberapa hari berpisah, kepalanya semakin pusing dengan tumpukan pikiran-pikiran yang tak bermakna.
Bimbang, hanya itu yang menyelimuti hati. Setiap hari, Rama hanya bisa mondar-mandir keluar masuk rumah. Sesekali mendapat hiburan dari sang putri. Tetapi kembali larut lagi dengan nestapa ketika Nadira memutus sambungan telepon.
Tingkah laku Rama membuat ibunya ikut menangis. Meratapi kesedihan yang begitu terlihat oleh matanya. Ia mengakui, betapa dalamnya kebencian yang ia berikan untuk Kinanti. Tetapi, melihat anak laki-laki nya begitu menderita, Ibu Rama mulai tersentuh dengan rasa tak tega.
"Makan dulu Ram !" Ibu berusaha biasa di depan Rama. Bukan tidak bersedih, melainkan mencoba menghibur dengan raut tenang yang bisa ia perlihatkan.
Rama meraih sepiring nasi yang di sodorkan Ibu. Berusaha membalas senyuman manis perempuan itu dengan seutas senyum miris.
"Bu..."
Rama menarik pergelangan tangan Ibu, ketika ia hendak melangkah pergi meninggalkan Rama.
"Ada apa Le ?"
"Apa mungkin ya bu, Rama dan Kinanti bersatu lagi ? Kasihan anak-anak buk. "
Perlahan, Rama mulai melepas pegangannya pada pergelangan tangan Ibu. Semakin merunduk, membawa ketakutan yang lebih buruk.
Hatinya semakin hancur. Perasaan yang ia miliki terlanjur terkunci rapat di sana. Mengisi seluruh relung hati, hingga tidak menyisakan sedikit saja celah untuk berpikir lebih jernih.
Kinanti membutakan matanya, bahkan merampas seluruh kasih yang selayaknya ia berikan untuk Ibu. Namun, Rama terlalu bodoh untuk menyadari. Ia sama sekali tidak bisa melawan gejolak diri. Membiarkan dirinya terjerat dengan hati, yang tak mampu membalas sedikit pun rasa yang ia berikan.
__ADS_1
Ibu menghela nafas pelan. Sebisa mungkin, ia mencoba meredam amarah yang siap meluap kapan saja. " Makan yang banyak Ram ! Ibu mau ke kebun petik sayuran. " Jawab Ibu seraya berlalu meninggalkan Rama seorang diri.
Rama kembali berdiam, hatinya tengah bertengkar dengan logikanya sendiri. Banyak hal yang ia perdebatkan. Terutama dengan nafsunya yang enggan berpisah dengan Kinanti.
"Kinanti harus kembali padaku !" geram Rama dalam hati. Ia meletakkan piring di atas meja begitu saja. Seperti tengah di landa depresi, kakinya bergerak mengitari rumah. Menjamah seluruh sudut ruang. Rama berulang kali mengusap kepala, mengacak-acak rambutnya yang sama sekali tidak tertata.
"Sudah makannya Ram ?" Tegur ibu yang baru saja datang dengan membawa beberapa sayuran hasil ladang. Ibu Rama sangat senang bercocok tanam, bahkan kebun di samping rumahnya ia tanami ragam sayuran dan tanaman yang beraneka ragam.
Rama berbalik badan dengan cepat, ia buru-buru menghampiri Ibunya yang masih tercengang di depan pintu.
"Bu, bantu Rama buat kembali sama Kinanti ya bu. Rama tidak bisa hidup tanpa mereka bu. "
Ibu tercengang menatap Rama. Matanya tajam menatap anak laki-lakinya. Dengan nafas berat, Ibu beranjak dari hadapan Rama. Jelas terlihat sorot kesal yang menghias wajahnya. Ibu berlalu meninggalkan Rama, tanpa sedikitpun membuat mulut untuk menjawab pernyataan anaknya.
"Bu, Rama mohon bu..."
Rama berjongkok memeluk kaki Ibu. Menahan perempuan yang mulai menua itu agar mendengar rengekannya. Rama tidak peduli, seberapa kesal rasa Ibu yang terlihat begitu ia menyebut nama Kinanti.
Ibu mulai terisak. Ia sudah tidak sanggup menahan beban yang ia tahan-tahan dalam hati. Sayuran di tangannya berjatuhan di lantai. Tubuh Ibu Rama mulai lemas, seolah-olah protes dan terlepas dari bagian-bagiannya.
"Terserah kamu Ram. Ibu pusing mikirin kamu," ungkap Ibu dengan suara bergetar. Ia menjatuhkan tubuh di atas sofa panjang berwarna coklat di ruang kecil yang ia jadikan sebagai ruang keluarga.
Rama yang juga menangis, kini beranjak dari duduknya. Ia melangkah dengan cepat menuju dapur. Tak lama, Rama sudah kembali dengan membawa baskom yang telah ia isi dengan air. Entah, air apa yang telah ia ambil.
"Maafkan Rama bu..."
"Ampuni Rama..."
__ADS_1
Rama berulang kali membasuh kaki ibunya di sela permohonan maaf yang terlontar dari bibirnya. Sesekali, ia mengusap matanya yang mulai tak henti meneteskan air mata.
"Sudah berapa kali kamu melakukan hal ini Le ?" Ibu tak henti menangis. Ia mengusap kepala Rama. Mengingatkan anaknya, dengan hal yang sering ia lakukan.
"Ibu selalu mendoakan hal yang baik untukmu Ram. Ibu tidak pernah putus doa. Ibu sama sekali tidak membencimu, seburuk apapun tingkah mu kepada Ibu. "
Rama masih sibuk membasuh kaki Ibu. Menggosok-gosok bagian bawahnya, seolah-olah tengah larut dalam tangis penyesalan.
"Apa yang Ibu inginkan, itu untuk kebaikan mu nak !"
Setelah Ibu berhenti bicara, Rama langsung mengusap kaki Ibu dengan handuk kecil yang sudah ia sediakan. Tanpa menghentikan tangis, Rama langsung meneguk air cucian kaki Ibu itu hingga beberapa tegukan. Tanpa rasa jijik, ia hanya menyisakan sedikit air karena perutnya tak sanggup menampung air sebanyak itu.
Dada ibu terasa sesak. Seperti ada benda yang mendorongnya dengan keras. Menekan keluar, membuat nya tak betah berlama-lama berhadapan dengan Rama.
*****
*Di tempat berbeda
"Dir, nanti kalau sudah lulus, kamu mau kerja apa kuliah ?" Tanya Anisa. Mereka berdua berbaring di atas ranjang. Menyatukan kepala, dan menatap ke langit-langit kamar.
Nadira tersenyum getir, sebelum akhirnya ia melirik Anisa yang tak sedang menatapnya.
"Kerja lah Nis. Aku harus bantu ayah, adik-adik aku juga perlu biaya besar ke depannya." Jawab Nadira lirih. Nadira bangkit dari ranjang. Ia merambah turun, lalu duduk di kursi yang menghadap ke arah luar jendela. "Kamu pasti kuliah ya ?"
"Aku ? Tentu kerja lah." Celetuk Anisa yakin. Padahal, jika di lihat dari keluarga, dukungan yang ia dapat begitu besar. Orang tuanya cukup sukses dengan usaha yang mereka geluti. Bahkan, bisa di katakan Anisa adalah anak yang beruntung. Terlahir di tengah-tengah keluarga yang menyambutnya dengan hangat. Ia tidak akan pernah kekurangan kasih sayang. Apapun yang cita-citakan, sudah pasti tidak akan pernah mendapat penolakan dari keluarga nya.
"Sayang tau Nis. Kamu itu beruntung, bisa kuliah. Kalau aku jadi kamu, aku pasti sangat bersyukur karena bisa kuliah." Seru Nadira. Ia membalik tubuhnya, lalu menatap bola mata Anisa dengan jeli.
__ADS_1
"Kalau kata pepatah jawa, manusia itu "Sawang sinawang", jadi mana bisa kamu jadi aku dan aku jadi kamu." Anisa mengukir senyuman manisnya. Ia lalu bangkit, dan memeluk Nadira dengan erat.
"Aku yakin, kamu itu perempuan hebat !"