Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Kembali pulang ke rumah Ibu


__ADS_3

Rama duduk santai di teras rumah bu lek nya. Menikmati indahnya sore di kaki gunung Lawu. Udaranya yang masih sangat segar, menyentuh setiap jengkal kulitnya. Menyisir seluruh bagian tubuh. Rama bergidik, merasakan dinginnya udara yang jauh berbeda dengan kota Surabaya, begitu pula dengan desa kelahirannya.


Pandangan matanya jatuh pada dua perempuan yang tengah berbincang dengan suara berbisik. Kedua pasang bola mata itu sesekali melirik ke arahnya. Lalu menyunggingkan senyuman simpul kala menyadari jika Rama mengawasinya.


Rama tidak mengerti, bu lek langsung masuk ke dalam rumah setelah selesai berbicara. Ia memanggil Arya, dan memintanya mengantar perempuan yang sempat berbincang dengan bu lek tadi. Entahlah, Rama tidak tahu kemana mereka akan pergi. Yang jelas, mereka pergi dengan tergesa-gesa.


Rama hanya bungkam, memilih tak ingin terlibat dengan sesuatu yang belum tentu menyangkut dirinya. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada anak-anak kecil yang asyik bermain di halaman.


"Ar, mau kemana ?" tanya Rama ketika melihat Arya yang keluar dari rumah dengan jaket tebal yang biasa ia kenakan jika bepergian.


"Itu, nganterin Lek Ratmi, " ungkap Rama jujur.


"Kemana ?"


"Ke rumah saudara nya.."


Rama mengangguk. Entahlah, dia tidak mengerti apa yang sedang orang-orang sembunyikan. Semua bertingkah aneh, dan ada hal janggal yang Rama rasakan.


Arya dan lek Ratmi sudah melaju dengan sepeda motornya. Keluar dari desa, dan memasuki jalanan kota. Mereka saling membisu ketika di atas motor, hanya sesekali saja lek Ratmi memberi tahu kan jalanan yang harus Arya lewati.


Hampir satu jam perjalanan, Lek Ratmi menunjuk pada sebuah rumah yang cukup mewah. Ia meminta Arya untuk menunggu nya di luar. Dan Arya hanya mengangguk mengiyakan, karena nyatanya ia sendiri tidak tahu apa yang sedang lek Ratmi lakukan.


Sudah puluhan menit lek Ratmi berada di dalam rumah itu. Membuat Arya merasa jenuh karena hanya berdiam diri dan memainkan ponsel di halaman rumah. Ia menuruti apa yang perempuan paruh baya itu katakan, menunggu dan berdiam diri di luar.


Halaman rumah yang cukup luas, bahkan masih bisa untuk di dirikan satu rumah lagi. Terdapat kolam ikan dan Gasebo di sudut halaman nya. Tanaman hias menambah kesan nyaman di sana. Apalagi dengan kemricik suara air dari kolam itu membuat orang-orang terhipnotis dengan pesonanya.


Arya sibuk memperhatikan sekitar, hingga ia tak sadar jika Lek Ratmi sudah berada di dekatnya. Ia menepuk bahu Arya, membuatnya terperanjat kaget.


"Sudah lek ?"


"Uwis, ayo balik."

__ADS_1


Di perjalanan pulang, lek Ratmi juga tak banyak bicara. Entah karena sesuatu, atau karena malas berbicara dengan keras. Ya, anginnya cukup kencang, sehingga membuat pembicaraan mereka kurang jelas jika tidak berteriak.


"Itu tadi saudara dari sampean apa dari bapak e lek ?"


Arya tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Rasa penasaran yang sudah memuncak, membuat dirinya memberanikan diri meluapkan tanda tanya yang sudah ia tahan-tahan semenjak tadi. Hal-hal aneh cukup mengganggu pikirannya. Bagaimana bisa, ia di ajak bertamu, tetapi tidak di izinkan untuk masuk ? Bahkan sang pemilik rumah pun tidak memanggil nya agar masuk, walau hanya sekedar basa-basi.


"Ibu mu gak bilang to ?"


"Bilangnya ke rumah saudara sampean."


"Saudara dari Nabi Adam to ? Itu tadi mbah Miran, dia terkenal bisa meluluhkan hati seseorang. Ya, siapa tahu Rama bisa lebih tenang jika di usahakan lewat beliau."


Arya terdiam. Ia sekarang tahu kemana arah pembicaraan lek Ratmi. Ia juga paham apa tujuan lek Ratmi mengajaknya ke sana tadi.


Tidak ada lagi yang Arya lontarkan. Ia memilih bungkam dan tidak merespon apapun tentang kejadian ini.


******


"Sampean sudah makan mas ?" tanya Arya basa-basi.


"Sudah. Kamu kok cepat sekali ?"


"Loh, wes mulih to Ar ?"


Belum terlontar jawaban yang Arya siapkan, Ibunya sudah keluar dengan membawa dua cangkir kopi di tangannya. Ia segera meletakkan di atas meja, sebelum Arya mengangguk mengiyakan.


"Yo wis, kamu temani Rama minum kopi disek yo." Seru bu lek dengan menyentuh bahu Arya. Memberikan sebuah tanda agar menantunya itu mengikuti perintah nya tanpa banyak pertanyaan.


Lagi, lagi, Arya hanya mengangguk mengiyakan. Ia menarik kursi, lalu duduk berhadapan dengan Rama. Menyesap kopi hitam yang masih terasa panas.


"Ar, istriku tak bunuh e wae ya.."

__ADS_1


Arya meraih kopinya. Menyesapnya dengan perlahan karena masih cukup panas di lidahnya. "Nih kopi masih enak, gak usah cari-cari masalah." sahutnya seraya meletakkan kembali cangkir itu di atas meja.


"Perempuan di luar sana masih banyak mas, buat apa sampean seperti itu hanya karena perempuan yang tidak baik." imbuh Arya dengan tegas. Ia menatap tajam pada kedua bola mata sayu milik Rama. Berharap laki-laki berpostur tubuh kecil itu memahami apa yang sedang ia sampaikan.


"Iya ya ? Banyak yang lebih baik juga ya ?"


"Nah, itu bisa mikir. Lepaskan Mbak Kinanti, pasti pikiran sampean bisa lebih tenang."


Bu lek sudah datang. Ia tergopoh-gopoh menghampiri Rama dan Arya. Bertingkah biasa saja agar tidak membuat Rama curiga. Ia juga menyodorkan sepiring singkong goreng yang ia bawa dari rumah lek Ratmi untuk menutupi sandiwara yang sedang ia perankan.


"Lama di kota gak lupa sama makanan kampung to Ram ?" goda bu lek membuat Rama tersipu dalam senyuman.


"Yo endak to bu lek, Rama sering makan singkong di Surabaya juga."


"Woalah tak pikir nak lupa, yo wis ndang di maem, bu lek tak lanjut di dapur dulu yo."


******


Satu minggu sudah Rama menginap di rumah Bu lek nya. Hari ini, ia memutuskan untuk pulang karena merasa lebih tenang dari hari sebelum-sebelumnya. Ia juga memikirkan ibunya, yang ketika ia tinggal sedang tidak enak badan.


Bu lek meminta agar Arya mengantar kan untuk ikut bersama Rama. Berkunjung ke rumah saudara kandungnya, saudara tertua dari empat bersaudara itu.


Arya mengiyakan dan langsung menjalankan motornya dengan tenang. Ia mengikuti Rama dari belakang. Menelusuri jalanan, dan menembus jalan bebatuan yang sudah cukup rusak di tengah hutan. Arya terap tenang, meskipun ia merasa tak nyaman dengan kecepatan yang begitu lambat. Bagaimana lagi ? Motor yang Rama naiki sudah tidak bisa di laju dengan kecepatan yang tinggi.


Seperti biasa, ketika mereka bertiga sampai di rumah Rama, Ibu menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Senyuman hangatnya yang ia suguhkan di ambang pintu begitu mendengar suara deru mesin motor.


Rama dan Arya merebahkan tubuh di sofa depan televisi. Sementara bu lek, mencoba mencari celah untuk berbicara empat mata dengan Ibu. Ia berpura-pura menanyakan menu yang di masak Ibu, agar perempuan itu mengikuti nya berjalan ke arah dapur.


"Nanti nek Rama njaluk teh apa kopi, mbak pakai gula iki yo." Seru bu lek dengan suara berbisik-bisik, dan mata yang bergerilya mengawasi sekitar.


"Tadi, Ratmi di antarkan Arya ke rumah e mbah Miran, ngendikane mbah e , Rama wes terlanjur luka, jadi yo rodok suwi mungkin buat bikin dia ikhlas."

__ADS_1


Bisa di katakan, semua wes terlambat. Kabeh tergantung neng Rama dewe...." Imbuh bu lek dengan nada memelas. Rasa kasihan yang menggantung di hati membuatnya tak tega mengatakan semua dengan jujur di depan Ibu.


__ADS_2