
"Kak, saya benar-benar minta maaf ya. saya gak sengaja, saya gak - gak .." Nadhira terus memohon penuh penyesalan. Ia merengek di sebelah lelaki yang kini duduk di bangku utama di restoran mewah tersebut. Dia sudah kehabisan kalimat permohonan. Sudah tak bisa lagi melanjutkan ucapannya karena tenggorokannya terasa sakit menahan diri untuk tak menangis.
"Kamu pikir, semua selesai dengan kata maaf !" bentak lelaki terang menembus relung hati Nadhira.
Nadhira menundukkan kepalanya. Ia tak bisa menahan air matanya agar tidak menetes. Sedih, malu dan kesal bercampur menjadi satu di hatinya. Rasanya ingin sekali ia menghilang dari hadapan orang-orang saat itu juga. Karena tak sedikit pasang mata yang menatap ke arahnya. Memperhatikan harga dirinya yang kini sedang di jatuhkan oleh seseorang yang sama sekali tak dia kenal.
"Nangis ?" lelaki itu menyeringai, ia mencebikkan bibirnya.
"Dhira, ini ada apa ?"
Ghea, yang baru menyadari bahwa yang tengah menjadi pusat perhatian adalah teman kecilnya segera berlari menghampiri.
"Ghe - Ghea, aku - aku tidak sengaja menabrak kakak ini Ghe," Nadhira meneteskan air mata.
"Kak Ken ? " Ghea menyipitkan mata. Ia mengenali laki-laki yang kini tengah menghakimi Nadira karena hal sepele itu.
__ADS_1
"Ghea ?" tanya Ken tak kalah kaget.
"Kakak kehias banget sih . Dhira ini teman Ghea kak ! jangan di perpanjang kenapa sih, Ghea yakin kok Nadhira engga sengaja." Ghea berusaha memberikan penje pada Ken, karena ia sangat tahu karakter keduanya. Ken adalah kakak kandung Ghea, dan Nadhira adalah teman dekat Ghea saat SMP.
"Sudah ya kak ! Masalah ini ku anggap selesai, dan kakak tidak boleh mengintimidasi Nadira lagi. " Ghea tak lelah membela Nadhira. Ia meraih jemari Dira, dan membawanya pergi dari hadapan Ken.
"Dasar bocah, tapi wajahnya menggemaskan saat ketakutan seperti tadi." Batin Ken.
Ghea hendak membawa Ken kepada teman-temannya tetapi Nadhira menahan tangan Ghea agar berhenti.
"Kenapa Dhir ?" tanya Ghea penasaran.
"Dhir, kamu bicara apa sih ? Memangnya dulu dulu, ada diantara kita yang membeda-bedakan karena penampilan ? engga kan ?" .
"Itu dulu Ghe. Sekarang pasti sudah beda."
__ADS_1
"Yang beda caramu berpikir Nadhira. Semua masih sama, kita tetap kita yang dulu." Ghea berusaha meyakinkan Nadhira agar ia mau berkumpul bersama teman-teman yang lain.
"Maaf Ghe..." Nadhira berjalan meninggalkan Ghea. Ia tetap pada pendiriannya. Ia tidak akan hadir dan bergabung karena merasa akan merusak acara.
Ghea mengikuti Nadhira sampai di luar restoran, tepat di dekat mobil Ghea, ia berteriak memanggil Nadhira.
"Ghe, kamu ikutin aku ya ?" tanya Nadhira.
"Biarin saja. Aku juga gak mau kumpul sama yang lain, kalau kamu juga gak mau." Ucap Ghea.
"Ghe..."
"Gini deh, kalau kamu gak mau kumpul karena penampilan, aku bisa kok rubah kamu agar tak kalah cantik dari yang lain."
Ghea menarik tangan Nadhira dan membawanya ke dalam mobil. Ia tak peduli penolakan dari Nadhira. ia mendorong tubuh Dira secara paksa ke dalam mobi. Memilah-milah pakaian yang cocok untuk Dhira, dan memaksanya segera mengganti baju. Ghea juga memoles sedikit wajah Nadhira.
__ADS_1
"Perfect .." puji Ghea setelah melihat hasil akhirnya.
Nadhira tampak begitu cantik dan anggun. Gaun biru muda, dan polesan natural memberikan kesan menarik pada Nadhiraa.