
"Ya sudah . Silahkan saja kalau mas ngga mau dengerin kata Nurin . Tapi inget ya mas, kalau ada masalah, ataupun mas ngga di terima lagi di sana , jangan datang lagi buat cari Ibu dan Nurin ."
Ocehan Nurin terhenti . Ia membanting pintu kamar sekencang yang dia sanggupi .
Tapi sayang nya, itu tidak mempan untuk menasihati Rama . laki-laki itu memilih pamit dan keluar rumah .Berjalan menelusuri jalan dengan sisa tenaga yang dia punya .
Setiap langkahnya tersemat doa dan harapan . Meminta agar Kinanti masih mau menerima nya kembali . Memulai segala proses kehidupan dengan jalan yang baru .
Nurin sempat mengintip dari balik jendela kamarnya . pelan-pelan ia keluar dan memperhatikan Rama . Tak sampai disitu, rasa tidak tega nya yang besar membawanya mengikuti Rama dari kejauhan . Ia hanya ingin memastikan jika semua baik-baik saja .
Rama masih jalan dengan tatapan kosong, kepalanya menunduk . Tak ingin berkeliaran menatap sekitar jalan yang dia lewati, bahkan orang-orang sekitar yang sebenarnya dia kenal .
"Loh, Ram ! mau kemana ?"
Seorang lelaki paruh baya, yang sedang asyik mencuci sepeda motor dihalaman sedikit kaget melihat kedatangan Rama . Seolah tak habis pikir dengan pilihan Rama, lelaki itu meminta Rama untuk berhenti dan berbincang sejenak .
Dia adalah ketua RT di lingkungan tempat tinggal Kinanti . Orang yang sangat paham sikap Kinan dan keluarga nya . Dari awal, ia adalah orang yang mendukung perceraian Rama, bukan karena senang melihat kesusahan orang lain , tapi justru dia tak tega melihat ketulusan Rama yang dipermainkan selama tinggal di rumah itu .
__ADS_1
" Kalau kamu mau dengerin bapak, lebih baik jangan Ram . gak usah mbalik meneh . "
"Saya hanya ndak tega sama anak-anak pak "
"itu cuma alasan nafsumu saja . Aslinya, kamu ndak rela to kehilangan Kinanti ? ...
wes toh,percaya o . kamu itu di bukakan pintu sama Allah . jalannya ya cerai ini "
Rama terdiam lagi, otaknya kembali bekerja hebat . Dalam hatinya, kadang rela kadang pun tidak . Dirinya sendiri saat ini masih di rundung kebimbangan .
"Setiap bangun tidur, aku selalu bisa berfikir jika dia bukan lagi jodohku "
Nah, Rama menjawab dengan kesungguhan hatinya . pak RT pun sempat mengatakan jika itu adalah petunjuk dan jawaban yang selalu Rama pinta di setiap sujud .
"Pulanglah. Bersabar dan ikhlaskan "
Pesan yang pak RT ucapkan sangatlah bijak . Rama kembali memutar arah kakinya . Keputusannya kali ini sudah matang, dengan cepat ia mengayun langkahnya kembali ke rumah Nurin .
__ADS_1
Di sana, adik semata wayangnya itu sudah menanti di ruang tamu .Masih setia dengan secangkir teh dan koran di tangannya .
Keduanya hanya saling bertatap, namun tak bertahan lama . Kini, Rama membanting tubuhnya dengan keras di sofa yang bersebrangan dengan tempat duduk Nurin .
Wanita itu sengaja untuk tidak menanyakan apapun kepada Rama. Karena sejatinya, ia sudah mendapat kabar dari pak RT .
"Dek, mas boleh pinjem duit ?"
Rama membuka obrolan .Seolah tak terjadi perdebatan sebelumnya .
"Buat ? Kinan ? "
"Tidak! Mas mau ke kampung lagi . sekalian buat Nadira di sana "
Nurin tersenyum dengan manisnya . Ia beranjak dan berpindah duduk di samping Rama .
"Kalau mas bisa ngelepas mbak Kinan, Nurin janji sama sampean . Selama sampean belum dapat pekerjaan yang tetap, biaya sekolah dan uang jajan Dira aku yang tanggung semua . Tapi sampean juga harus janji, bisa jaga pendirian sampean, itu aja ."
__ADS_1