
"Yah, lagi sibuk apa sih ?"
Nadira, yang baru saja pulang langsung menghampiri Rama yang terlihat sibuk mengotak-atik komputer milik Santi .
"ini kak ,Ayah mau bikin surat pengunduran diri .Gimana sih caranya ?"
"Surat pengunduran diri? ....
untuk apa Yah ?"
Rama memutar kursinya ia menatap sayu pada sang anak. bibirnya berusaha tersenyum.
"Kak, Ayah mau resign dari pabrik . kita pindah ke kampung ya ,kakak sekolah disana nanti !"
Nadira mematung, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dia sendiri pun bingung menyetujui atau harus menolaknya dengan amarah . Yang bisa dia lakukan hanya diam lalu meneteskan air mata.
"Tuhan, cobaan apa lagi ini ?"
Nadira menjatuhkan tubuhnya di kasur . Ia benar-benar terpukul dengan keputusan besar yang Rama ambil . Ia merasa kecewa, sebagai anak tidak pernah ikut terlibat dalam setiap pengambilan keputusan . 'Mereka benar-benar masih menganggapku anak kecil'
tok tok tok
" Dir, kamu ngga makan ?"
"Dira ngga lapar ma ."
" Mama mau bicara . kamu keluar ya"
"Dira capek ma ,Dira mau istirahat"
__ADS_1
" Kamu kenapa sih Dir ? Mama cuma mau bicara sebentar !"
--
"Kakak mana Ma ?"
Rama merasa curiga ,saat menemui Kinan datang seorang diri . wanita yang selalu memaksakan kehendaknya itu tidak membawa putri sulung mereka. Rama tahu, Rama saat memahami hati Nadira. gadis itu, gadis yang mulai beranjak remaja. Iya pasti sudah sangat paham dengan problem yang terjadi diantara keluarganya.
Dira pasti sangat kecewa dengan semua ini. jika dia mau jujur dan membicarakan isi hatinya, sudah pasti gadis itu merasa sedang tidak dianggap ada. tapi bagaimana Rama benar-benar merasa tertekan dengan pilihan yang semakin mendesaknya.
"dia capek katanya . paling juga marah " ~Kinanti
"marah? emang kalian sudah bicara hal ini pada dia?" ~Wulan.
"ya belum ada. Mbak Wulan ini nggak kenal diri aja, dasar anaknya aja Yang pembangkang "
"Mbak Santi mah sama aja kaya mas Rama belain aja terus si Dira. makanya dia berani nglunjak kalau dikasih tahu ."
"Kin, yang dibilang Mbak Santi itu bener. kamu dong sekali-kali yang harus bisa ngertiin dira, nanti lama-lama dia juga akan ngerti ke kamu"
"Heh, udahlah ! Mas ini jadi ngga sih bicaranya "
"iya ! Ibu itu banyak urusan, banyak kerjaan . ngga bisa lama- lama ngladeni kamu "
kurasa Kinanti memang sulit untuk bisa menjadi istri yang baik. apa yang dia katakan selalu saja dibenarkan sama Bu Wati, mamanya .
suasana semakin hening . memang sih, meja makan ini tidak memiliki cerita romantis. kalau nggak ribut ya pasti saling diam seperti ini.
Nadhira akhirnya memutuskan keluar dari istananya . satu ruangan yang bisa membuat dia merasa nyaman, damai, tenang.
__ADS_1
" itu kakak . Sini kak "
"apa sih mau Ayah bicarain? "
"kakak makan dulu ya nanti ayah akan lanjutin"
"Dira udah ngantuk yah kalau memang nggak penting Nadira mau tidur"
Rama tahu raut wajah putrinya itu menyimpan seribu luka. wajahnya kusut sekali. mungkin, dia merasa tertekan . anak seusia dia harusnya belum memikirkan problem serumit ini .Dia itu harusnya bisa tertawa , bersenang-senang dan bersenda gurau dengan teman-temannya .
"ya sudah! gini kak, Bu dan Mbak. aku, aku mau resign dari pabrik dan berencana membuka usaha kecil-kecilan di kampung halamanku,aku akan bawa anak-anak dan istriku" ~Rama
"Di kampung ? kamu gila Ram ! kamu yakin bisa ngehidupin mereka semua ,usaha apa kamu di kampung kecil gitu !" ~Bu Wati
"Bu, asal kita yakin aja Allah itu udah kasih rezeki kita masing-masing. termasuk untuk anak-anak juga" ~Rama
"halah ! Rejeki, kamu bisa apa sih Ram .emang kalau ngga kerja bisa dapet duti !" ~Bu Wati .
"Kinan udah setuju ma ..Kinan mau kok tinggal dirumah mas Rama" ~Kinanti
"kamu ini bodoh sekali jadi perempuan ! " ~Bu Wati .
perdebatan semakin gila. mereka saling beradu argumen mereka masing-masing. Nadira ? heh, dia bisa apa selain diam. sudah pasti suaranya tidak akan dianggap .
Santi sebenarnya membela keputusan Rama . tapi dia juga memilih diam . yah sebenarnya sifat Nadira itu banyak yang turun dari Santi. cuek, tapi sebenarnya mikirin. diem, tapi sebenarnya menolak.
mungkin sudah 10 menit, 20 menit, atau justru lebih dari setengah jam. saut-sautan kata kasar tak kunjung reda dari telinga Nadira. semuanya mampir membuat gadis itu muak dan memutuskan untuk beranjak menyusul kedua adik kecilnya yang sedari tadi berdiam di kamar.
" Kakak kenapa ?"
__ADS_1