Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Diamnya Nadhira


__ADS_3

...Hari yang menyakitkan itu sudah terlewat beberapa hari. Kisah lama yang harus terulang lagi ceritanya. Kisah lama yang mengusik ketenangan....


...****...


Nadhira berusaha tegar di depan Nurin dan Santi. Ia mencoba mengembangkan senyuman manisnya, meskipun sangat kaku dan menyedihkan. Ia mengulurkan tangannya, mencium punggung tangan orang-orang yang ia sadari begitu sangat menyayangi nya.


"Nadhira pamit ya Tante..." Ucapnya di iringi dengan senyuman terpaksa.


Nurin dan Santi hanya bisa saling menatap. Keduanya bergantian memeluk erat tubuh gadis mungil itu. Gadis yang usianya belum seberapa, tetapi harus menghadapi ujian kehidupan yang begitu berat.


sepanjang perjalanan, air mata Nadhira tak henti menangis. Nasib pilu yang Rama miliki, ternyata berawal dari penyelamatan akan dirinya. Iya, Rama merelakan dirinya demi menyelamatkan masa depan seorang anak dari laki-laki bejat yang belasan tahun Nadhira benci ! Abas, yang tak lain adalah ayah biologis darinya. Huh, sungguh memilukan memang.


Empat jam perjalanan terlewati begitu saja. Waktu yang terus berputar, di iringi deraian air mata yang tak kunjung mereda dari Nadhira. Jarak yang di tempuh tidaklah singkat, tapi tidak cukup untuk menenangkan hatinya. Bagaimana tidak ? Luka yang sudah bersembunyi lama, terkuak ketika nalarnya telah mampu menyerna segalanya.


"dek, sudah sampai ? tidak turun ?" sayup-sayup terdengar suara dari kenek bis yang ia naiki membuyarkan lamunan panjang Nadhira.


"ah, iya . Maaf bang." Nadhira mengusap air matanya. Ia segera mengemasi barang-barangnya lalu bergegas turun.


Kota ini, bukan lagi tempat asing bagi Nadhira, dan mungkin akan menjadi kota yang menggiringnya melewati masa demi masa hingga menua di sana. Dalam hati kecilnya, ia bertekad tak akan lagi tinggal lama di Surabaya. Hatinya telah tergores, lukanya cukup dalam hingga ia berpikir ia tak mampu menyembuhkan luka itu. Meskipun waktu telah bergulir semakin lama.

__ADS_1


Bukan salah Surabaya, tapi kota itu mengingatkan ia pada kekecewaan yang tak mampu ia lupakan. Kota yang membawakan kenangan pahit yang sulit ia telan. Kenyataan hidup yang tak pernah ia rindukan. Sebuah kisah nyata, yang sedikitpun tidak pernah ia terlintas di bayangannya.


***


Nadhira menghela nafas panjang ketika sampai di depan rumah Rama. Rumah sederhana yang terlihat asri di pandangan mata. Rumah yang tak banyak menyimpan rahasia tentangnya. Rumah, yang mungkin akan menjadi saksi bisu tentang cerita-cerita yang belum ia mulai kisahnya.


"Kak..."


Rama tiba-tiba sudah berdiri di depan mata Nadhira. Entahlah, sejak kapan pria berbadan kecil itu berjalan ke arahnya, yang ia ketahui laki-laki itu sudah mengembangkan senyuman manis seraya menyentuh lembut bahunya.


"Ah, ayah, maaf..."


"Ayo masuk nak. kenapa diam saja disini ?" Rama meraih koper kecil milik Nadhira, berniat membantunya membawa masuk, namun di tolak dengan lembut oleh putrinya, putri angkat lebih tepatnya.


"Nadhira bisa yah " Putri kecilnya itu melangkah mendahului Rama. Kesedihan yang di simpannya, ternyata sangat mudah di baca oleh Rama, laki-laki yang mengaku menjadi ayahnya sejak kecil, ternyata bukanlah ayah seperti yang selama ini Nadhira pahami. Tetapi meskipun begitu, Rama paham betul bagaimana sikap dan sifat Nadhira yang sesungguhnya.


Rama tak banyak bertanya, ia berpura-pura semua baik-baik saja. Ia memilih diam, di dalam perbedaan yang Nadhira tunjukan. Tidak ingin menambah beban putrinya, Rama tak ingin membebani Nadhira dengan rangkaian pertanyaan yang mungkin akan sulit Nadhira jelaskan. Ia hanya menunggu, berharap putrinya mau mengungkapkan isi hatinya tanpa kata tanya kenapa dan mengapa darinya.


Sudah berhari-hari Nadhira tak kunjung membuka bicara. Ia sungguh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Rutinitasnya sama, ia bangun pagi-pagi lalu membantu nenek setelah melakukan sembahyang pagi. Setelah selesai, ia akan mengunci diri di dalam kamarnya, dan keluar jika ada hal yang perlu ia lakukan saja.

__ADS_1


"Ram..."


"Ya bu ?"


"duduk !" titah Nenek pada Rama yang baru saja melintas di hadapannya. Ia merasakan ada yang beda.di antara Nadhira dan Rama. Tidak ada masalah, tetapi keharmonisan di antara mereka terlihat merenggang setelah Nadhira kembali dari Surabaya.


"Ada apa nak ? Mbok cerita sama Ibu !"


"Maksud Ibu ? Rama tidak kenapa-napa bu."


Nenek tersenyum, lalu mematikan televisi yang menghiburnya sejak pagi.


"Nadhira kenapa Ram ? Kalian tidak biasanya saling diam seperti ini ? "


Rama tersenyum miris, lalu menatap nenek lebih dalam lagi. Ia ingin sekali berbicara, tetapi biarkan waktu yang nantinya menjelaskan semua yang terjadi. Apa yang Rama pikirkan belum tentu kebenaran yang sesungguhnya. Ia baru bisa menebak, karena Nadhira sendiri belum berbicara apapun kepadanya. Rama hanya sedikit mendengar dari Nurin, ia mendapat cerita tentang Nadhira yang kembali bertemu dengan Abbas, bahkan tentang ucapan yang terlontar dari mulut pahit Kinanti.


"Tidak ada apa-apa bu. Nadhira lagi fokus belajar, banyak bahasa baru yang perlu dia hafalkan agar segera bisa terbang ke Jepang, sesuai yang ia inginkan." Terang Rama berbohong.


Nenek mengangguk paham, lalu kembali menyalakan televisi. Ia tidak puas dengan jawaban Rama, tetapi memilih memahami bahwa anaknya sedang tidak ingin berbagi cerita dengan siapapun. Meskipun hatinya bergejolak dan sangat ingin tahu, Nenek berusaha menahan diri. Telah banyak masalah kecil yang membuat ia dan Rama berdebat, sehingga Nenek tidak ingin hal seperti itu terulang kembali.

__ADS_1


__ADS_2