
tarrrrrrr
"Astaga"
Nadira segera memunguti pecahan piring yang tak sengaja dia pecahkan . Matanya sudah berkaca-kaca entah takut atau memang hatinya sedang risau .
"Ya Allah Dir . kamu kenapa ?"
"Maaf Nis, aku pecahin piringnya . aku ngga sengaja "
"Iyaa ngga apa-apa. tapi kenapa kamu nangis ?"
Mendengar itu, Nadira seperti di kasih kebebasan untuk menangis . Isaknya semakin menjadi, wajahnya murung seketika .
Setelah menyelesaikan tugasnya, ia berlari ke dalam kamar . Hatinya sangat mengkhawatirkannya Rama . Seperti ada ikatan batin yang kuat, Sungguh . Hatinya merasakan perih yang tak terhingga
Annisa tak henti mengikuti gerak-gerik Nadira . ia hanya takut jika sahabatnya berbuat yang tidak wajar, karena memang semenjak pagi,gadis ini sudah terlihat gelisah .
"Kamu kenapa sih Dir ?"
"Aku sendiri ngga tau apa yang terjadi Nis . Entah kenapa hatiku tiba-tiba sakit, aku sedih dan gelisah"
"Coba telfon orang rumah ."
Nadira mengangguk .Memahami maksud dari kalimat singkat Nisa . ia mengotak atik ponselnya, untuk mencari nomer Rama .
"Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan ....."
__ADS_1
Hanya suara operator yang sedari tadi menjawab . berulang kali ia coba kembali, tetap saja sama .
"Ngga bisa Nis ..."
Nadira pasrah, ia meletakkan ponselnya dan kembali menunduk . Rasa yang tak biasa , ia tak bisa menebak apa yang sedang terjadi .
"Kenapa ngga coba telfon mamamu Dir ? Kali aja bisa "
Kali ini, Nadira hanya melirik sahabatnya . Seperti menolak, tapi mencoba memikirkan ulang .
"Sudah ...buang gengsi dan kesal mu !"
Anisa meraih ponsel itu, lalu menelfon Kinanti . Disadari sudah terhubung , Anisa menyerahkan ponsel kepada Dira.
"Halo kak, ada apa ?"
"Wa'alaikum salam. kenapa kak ?"
"Mama sehat kan ? "
"Sehat kok . tumben ...
Ayahmu pergi Dir ..."
Nadira dan Annisa kembali berpandang-pandangan . Keduanya berkomunikasi dengan mata . Ia sendiri bingung 'pergi' yang di maksud Kinanti seperti apa .
"Pergi kemana ma ? kerja ?"
__ADS_1
"Dir, ayah sama mama mau cerai . Dira setelah lulus pulang ya . ikut Mama "
Hal besar yang tidak pernah Nadira bayangkan sebelumnya . Ia sungguh kaget mendengar Kinanti mengatakan hal yang menggoncang jiwanya . Ponsel di genggaman tangannya sudah terjatuh ke lantai . Diikuti tubuh Nadira yang semakin lemas . Ia menangis sejadi-jadinya di sana . Mengulang kenangan indah yang sempat mereka lalui bersama-sama . Dan kali itu, sirna sudah . Semua hilang , Dunia berhenti . Dan semua gelap . Remang-remang ia hanya mendengar namanya di panggil-panggil .
--
"Dir ! Dira ..bangun !"
Nadira mulai mengerjap, sayup-sayup ia mendengar suara Annisa yang tampak khawatir . Entah , sudah berapa kali gadis itu menggoyangkan tubuh mungil Nadira . Memberikan minyak kayu putih di depan hidungnya .
"Syukurlah, kamu udah sadar Dir "
Anissa segera membantu sahabatnya untuk duduk . Membuat gadis itu pada posisi senyaman mungkin .
"Dir, kamu kenapa ? tiba-tiba pinsan, aku bingung"
Belum usai Nisa bertanya, Nadira sudah menangis sesenggukan . Ia menutup wajahnya dengan kedua jemarinya .
Namun, itu tak bertahan lama . Ia meluruskan badannya, dan menarik nafas panjang .
"Mama sama Ayah cerai Nis ...
mimpi buruk yang sama sekali tidak aku bayangkan sebelumnya "
Air mata Nadira kembali mengalir, dengan tenang Annisa memeluk tubuh sahabatnya . Penuh kasih, erat sekali . Tidak ada satu katapun yang dia ucapkan . Dia tak sanggup menasehati, karena sejatinya dia sendiri akan sangat rapuh jika menjalani penderitaan yang Nadira alami.
Tangis Nadira semakin menjadi saat ibu dan bapak Annisa datang, ketika mereka menanyakan apa yang terjadi dan ketika Nadira kembali bercerita .
__ADS_1
Wanita tua itu sungguh sangat menyayangi gadis ini, di peluknya tubuh itu penuh rasa cinta , melebihi pelukan dari mamanya sendiri .