Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Kisah Lama


__ADS_3

"Kau benar-benar Ibu yang tidak punya hati Kinan ! Bisa-bisanya kamu biarkan Nadira sampai kecewa sedalam itu. Kau bisa menerima Abbas kembali dengan senang hati, lalu kenapa kau tidak bisa mengubah perasaan benci mu pada Nadira ? Dia anakmu Kin ! Kia darah daging mu ! Kamu yang sudah melahirkannya, kenapa kau buat orang lain yang menyayangi nya Kinan. "


Sebelum jauh kehilangan jejak, mbak Santi berlari mengejar Nadira. Ia berharap anak gadis itu belum terlalu jauh. Jika Nadira sudah tidak bisa di ajak kembali ke rumah itu, setidaknya mbak Santi bisa mengucap kata maaf atas kesedihan yang selalu Nadira dapatkan di rumah itu.


Sudah terlalu jauh Mbak Santi melangkah, tetapi tak juga melihat Nadira. Bahkan, ia sudah berdiri beberapa meter dari rumah Nurin, saudara kandung Rama. Perempuan galak yang selalu datang melabrak ke rumahnya jika ada sesuatu yang memojokkan Rama. Tapi, itu dahulu, jauh sebelum perceraian itu ada.


tok... tok... tok...


Dengan sangat hati-hati mbak Santi mengetuk pintu rumah Nurin. Tidak peduli bagaimana nanti responnya, ia hanya ingin memastikan jika Nadira memang sedang di sana. Entah masih dengan mata sembabnya, atau ia berpura-pura kuat untuk menahan diri tidak bercerita pada tantenya.


Ada sahutan dari dalam rumah. Jantung mbak Santi mulai terpompa. Perasaan takut mulai membayangi, bagaimana nanti jika Nadira tidak ada di sana ? Pasti hanya caci maki yang akan menyapa telinganya.


"Tante ?"


Gadis cantik yang ia cari sudah berdiri di di hadapannya. Mata sembab, tetapi raut wajahnya sangat berseri. Nadira memang gadis muda yang bisa berpikir dewasa. Ia pasti tidak bercerita pada Nurin, dengan ragam alasan yang ia punya.


"Siapa Dir ?" Teriak Nurin dari dalam rumah.


"Ini tan, ada tante Santi. "


Langkah kaki Nurin terdengar semakin mendekat ke arah Nadira dan mbak Santi. Hentakan sandal yang semakin kuat, dan nyaring di telinga.


"Ada apa San ?" Sapa Nurin dengan ketus.


"Tante Santi ngantar handphone Nadira yang tertinggal tan." Sahut Nadira sebelum mbak Santi salah menyebut alasan.


"Oh, ya sudah. Tante ada urusan sebentar ya Dir. Kamu ajak tante Santi masuk saja kalau mau bicara. "


"Iya tante. Terima kasih"


"Aku tinggal dulu ya San."

__ADS_1


"Emm, iya Nur. Hati-hati di jalan." ..


Sepertinya, Tuhan memang memberinya kesempatan untuk menjelaskan semua kepada Nadira. Dalam kondisi rumah yang sepi, dengan hati dan jiwa Nadira yang sudah mulai tenang. Meskipun sakit tak mudah untuk di hapus, kecewa tak gampang untuk di bendung, setidaknya mbak Santi bisa menyuarakan segala isi hati yang akan ia sampaikan kepada Nadira.


"Nadira buatan minum dulu ya tan, tante tunggu di dalam aja." Seru Nadira dengan wajah berseri. Seolah-olah tidak ada apapun sebelumnya. Meskipun mata sembabnya tak bisa berbohong, ekspresi wajah Nadira sungguh berusaha untuk menutupi semua kepiluan hatinya.


"Tidak perlu Dira. Tante ke sini, ingin bicara denganmu. Bisakan ?"


Mbak Santi meraih tangan Nadira. Menghentikan langkah kaki gadis itu. Membuatnya menautkan alis, seolah ingin mengatakan, bicara soal apa tante ?


"Kita duduk di sini saja ya." Mbak Santi menuntun Nadira, dan mengajaknya duduk di teras rumah Nurin.


Beberapa detik, mereka saling berpandangan. Membiarkan hati mereka saling bercengkrama. Memberi kesempatan untuk batin mereka beradu argument dengan diri masing-masing.


"Ada apa tante ?" Ucap Nadira memecahkan keheningan.


"Dira, tante tahu, kamu pasti sakit hati kan sama mamamu ? Kamu kecewa, dengan semua ucapan dia."


Masih dengan wajah tenang dan senyuman manis, Nadira menanggapi pernyataan mbak Santi. Meskipun matanya tak berani menatap, dua bola mata yang tengah mengajak nya bicara, tetapi Nadira menunjukkan kekuatan hatinya saat itu.


"Jangan di simpan sendiri Dir. Kamu butuh orang lain untuk berbagi cerita. Tante percaya, kamu gadis yang kuat, tetapi hati kamu tetap butuh seorang penenang."


Nadira tersenyum getir, "Ada ayah, selagi ayah selalu bahagia, Nadira akan selalu kuat. Sekarang, hidupku hanya untuk ayah. Kevin dan Lena sudah pasti bahagia sama mama. Tapi Nadira ? Hanya ayah yang selalu ada untukku. "


Mbak Santi menarik nafas dalam-dalam. Seperti yang ia duga, Nadira mulai menunjukkan kemurungan. Air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata, masih saja ia tahan agar tidak menetes.


Keheningan kembali menyapa, bahkan lebih menakutkan dari waktu sebelumnya. Mbak Santi masih sibuk merangkai kata untuk berbicara kebenaran yang memang selama ini ia ketahui. Kebenaran yang belasan tahun tersimpan rapi, di balut dengan kepedihan.


"Dir, apa kamu ..mmm...apa kamu tidak memikirkan ucapan Kinan, tentang ayah mu ?"


"Ayah ? Ayah Rama, mama bilang apapun tentang ayah."

__ADS_1


"Bukan itu. Tapi kebenaran tentang ayah kandungmu."


"Biar waktu yang menjawab tante. "


Nadira mulai menangis. Ia mengingat, ketika ia membuka lembaran demi lembaran foto pernikahan sederhana yang pernah Rama dan Kinanti gelar. Buku nikah yang warnanya sudah mulai pudar dan kusam. Jauh sebelum perceraian terjadi, Nadira sempat membaca tanggal pernikahan Rama dan Kinan. Bahkan, ia menghitung jarak antara pernikahan itu dengan hari kelahirannya. Tidak ada 9 bulan, bahkan tidak ada 2 bulan lamanya jarak antara kedua tanggal penting itu.


Sekilas, Nadira bisa berpikir positif, tetapi kejadian-kejadian buruk dan kata demi kata yang menakutkan selalu membayangi langkahnya. Hingga tiba di hari ini, hari dimana Kinanti dengan lantang menyebutkan bahwa Abbas adalah ayah kandung nya.


Sontak, jiwa Nadira tergoncang karena hal itu. Hatinya hancur, bahkan berkeping hingga sulit untuk ia benarkan lagi.


Yang terlintas di benaknya sekarang adalah, jika hal itu benar adanya, lalu bagaimana bisa Rama menjadi sosok ayahnya selama belasan tahun ini ? Kalaupun jika itu salah, untuk apa Kinanti sampai memanggilnya datang ke Surabaya jika hanya ingin membuat lelucon yang sama sekali tidak mengundang tawa itu.


"Nadira..." Mbak Santi menggenggam tangan Nadira. Ia bisa merasakan betapa dalam ketakutan yang sedang di hadapi gadis itu. Tangannya menggigil, bahkan dapat ia rasakan getarannya.


"Nadira maaf, tante tidak bisa lagi menutupi kebenaran ini sayang. Kamu sudah dewasa, sudah waktunya kamu tahu semua. Tapi kamu harus janji sama tante, kamu jangan benci dengan Rama setelah ini."


"Apapun alasannya tante, Ayah Rama adalah orang yang paling sayang sama Nadira. Tidak akan ada kebohongan, yang mampu merusak rasa sayang Nadira untuk ayah."


Mendengar itu, mbak Santi ikut menangis. Anak ini, belum terlalu dewasa untuk berada di posisi seperti ini, tetapi cara dia berpikir sungguh membuat mbak Santi merasakan iri. Nadira, benar-benar memiliki hati yang putih, ia bisa menempatkan diri, dimana seharusnya ia tinggal.


"Dira, Rama....Rama memang bukan ayah kandungmu. Tapi, sayangnya sama kamu tidak pernah Tante ragukan. Dulu, Kinanti dan Rama kerja di 1 pabrik. Mereka sama-sama seorang karyawan. Kinan punya pacar, dan sudah lama berpacaran dengan pria itu. Hingga pada akhirnya, Kinanti bilang kalau dia hamil dengan pacarnya. Entah, sudah sampai ke berapa dia melakukan hubungan gila itu dengan pacarnya. Dulu, Kinanti seperti orang gila, karena harus bolak-balik minta pertanggung jawaban dari pacarnya. " Mbak Santi menarik nafas, karena dadanya sesak menceritakan kembali kisah itu.


"Lalu, kenapa mama bisa menikah sama Ayah Rama tante ? Kenapa bukan pacarnya yang tanggung jawab ?"


"Rama sudah lama mencintai Kinanti Dir. Dia sabar, menanti Kinanti. Pada akhirnya dia tahu, Kinanti hampir menggugurkan anak itu. Dan...dan... Rama dengan tegas mengatakan dia akan menikahi Kinanti, bahkan akan menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri. "


"Dan anak itu Nadira kan tante ?" tanya Nadira seraya meneteskan air mata.


"Iya...Dan Rama, sungguh menepati janjinya."


"Tapi kenapa tante, laki-laki bajingan itu kembali lagi setelah Nadira dewasa. Kenapa tante ? Kenapa dia merusak semua. Kenapa ?" Nadira menjerit histeris. Bahkan, ia sampai menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai.

__ADS_1


"Tante tidak tahu tentang itu Dira..."


__ADS_2