Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Laki-laki itu mencium ibuku


__ADS_3

"kak, kakak! Bangun, hei, jam segini kok tidur!"


Suara Kinanti memanggil Nadira larut kebawa dibawah alam sadarnya. Dia tak menyadari jika panggilan itu nyata, bukan mimpi.


Nadira mengerjap, dan bergerak merenggangkan otot-otot badannya yang dirasa kaku. Mungkin, karena dia tertidur disofa yang terlalu kecil dan keras.


"mama baru pulang?"


Dia duduk setelah menyadari Kinanti dan kedua adiknya pulang. Ia sempat memperhatikan Kevin dan Allena yang tertidur pulas di sofa sebrangnya. Bahkan, kedua bocah itu masih berseragam dan terlihat sangat lelah.


"iya, tadi mama ada urusan sama temen-temen mama. Jadi, sekalian keluar"


"sampe jam segini dan mama ngga pulang dulu? Kasian Kevin sama Allena dong ma. Mereka itu masih kecil dan perlu banyak istirahat. Apa lagi Lena, dia kan baru sembuh ma"


"udahlah Dir, mama capek. Bisa ngga?ngga usah ngajarin mama? Mama itu ibumu, mama ngerti tentang itu."


"kalau mama ngerti, harusnya mama ngga nglakuin kaya gini dong"


"kamu itu, makin besar bukannya makin sopan sama mama tapi makin kurang ajar ya?"


"bukan gitu ma. Kasian ayah, dia capek banting tulang pulang malem, tapi mama malah foya-foya, keluar ngga jelas. Coba dong mah hargai ayah"


" kenapa kamu yang mikir sih Dir? La wong ayah aja santai"


Adzan magrib berkumandang. Nadira memilih diam dan enggan meneruskan bicaranya. 'kurasa bicara soal ini sama mama itu sama saja dengan tidak bicara! Percuma'. Dia meninggalkan ruang tamu untuk mendinginkan hatinya.


"sampe kapan mama kaya gini?"


Nadira membuang pandangan jauh keluar rumah. Dia cermati rintikan hujan yang berirama diluar rumah. Tetesan air yang menempel di kaca jendela, seolah ikut menangis meratapi penderitaan Rama yang mulai dira rasakan.

__ADS_1


Kemudian, dia bergegas mengambil air wudhu lalu mengerjakan sholat. Disana, diatas sajadah itu, menjadi saksi bisu setiap rintih yang dia senandungkan. Menjadi wadah dari sekian keluh kesah yang tidak bisa dia suarakan. Disitu adalah tempat bercurah yang mampu membuatnya nyaman.


Melalui kaca jendela kamarnya, ada sorot cahaya yang masuk dan menarik perhatiannya. Nadira, berdiri dari duduknya dan mencoba mengintip dari celah.


Dengan seksama,dia memperhatikan seorang lelaki paruh baya yang berdiri diteras rumahnya. Tidak hanya lelaki berprawakan tinggi itu yang disana, tapi disana ada Kinanti juga.


Tidak jelas apa yang mereka bicarakan, tapi dari cari bicaranya terlihat sekali mereka sangat dekat. Kinanti juga tampak sering tertawa dan bergelut mesra kepada lelaki itu. Terakhir, yang Nadira lihat laki-laki itu memeluk Kinan dan..... Dia mencium keningnya.


"heh, mama? Ini yang mama katakan urusan dengan temen?"


Nadira menjatuhkan tubuh dilantai. Dia kembali menangis disebelah jendela sudut kamarnya. Hatinya hancur melihat kelakuan Kinanti. Sungguh, hatinya menangisi nasib Rama yang selalu buruk.


"kenapa mama setega ini? Ayah kurang apa ma"


Tok tok tok


"kamu belum makan kan dari tadi? Ayo makan"


Heh, wanita yang baru saja membuatnya terluka. Wanita yang ditakdirkan melahirkannya. Kini, berdiri didepan mata dengan rasa tak bersalah.


"ayo, mama tunggu diruang makan ya."


Kakinya dia seret dengan bangga. Seolah, dia manusia yang memang tidak bersalah. Tapi, percuma jika Nadira kembali menanyakan hal itu, ujungnya juga akan berdebat dan semua orang dirumah akan menyatakan Nadira anak durhaka. Begitulah...


--


Cekrek


" Assalamu'alaikum"

__ADS_1


"wa'alaikum salam...."


"Ayaaaahhhhhh"


Secara bersamaan, Kevin dan Allena menghampiri Rama. Keduanya memeluk Rama penuh kasih. Dekapan hangat yang selalu Rama rindukan.


"lagi pada ngapain sih?"


"makan yah."


"makan? Sama apa?"


"banyak yah, ada sate ada martabak telur. Pokoknya semuuaaa makanan kesukaan Lena"


Mereka hanyalah bocah. Tidak sadar jika ibunya telah melukai hati Ayahnya. Yang mereka tahu, hanya ada om baik yang memberinya makanan. Mengantarkan untuk keduanya, bahkan meninggalkan sedikit uang yang bagi Nadira adalah sogokan.


Allena menarik Rama sampai dimeja makan. Dua anak itu, tidak mengada-ada. Apa yang dia katakan memang tersaji disana.


"Ma, makanan banyak banget?" ~rama


"tadi ada om baik lo yah" ~lena


"om baik?" ~rama


"itu kurir yang nganterin. Dia ramah sama anak-anak. Jadi mereka bilangnya om baik" ~Kinanti


"ohh.. Jadi kamu beli ini tadi?" ~Rama


"tante Anna yang kasih yah" ~Nadira

__ADS_1


__ADS_2