Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Pertikaian keluarga


__ADS_3

"Apa bedanya dengan Nadira ? Kenapa kamu sangat membencinya ? Kau juga yang melahirkan dia bukan ?"


Mbak Santi yang tak sengaja melintas dan mendengar amarah Kinanti langsung membuka suara. Ia menanyakan tentang sikap Kinanti yang membedakan Nadira, anak pertamanya. Anak yang terlahir dari hubungan terlarang antara dirinya dan Abbas.


"Aku juga menyayangi Nadira. Mbak tahu apa tentang mendidik anak ? Mbak belum pernah tahu bagaimana mendidik anak perempuan agar tidak neko-neko !"


"Jadi, mentang-mentang kamu sudah melahirkan nya, kamu yang paling paham bagaimana mendidiknya ? Kau tahu bagaimana perasaan putrimu itu ? Kau paham ?"


Kinanti bungkam, hatinya memang mengakui betapa ia sangat tidak suka saat melihat Nadira. Gadis itu memang tidak mempunyai salah padanya, tetapi saat mengandungnya lah semua menjadi berubah. Jalan penderitaan mulai terbuka lebar. Kekacauan-kekacauan mulai terjadi. Dan lagi, ia terpaksa harus menikah dengan Rama, laki-laki yang di lihat saja sangat tidak menarik.


"Bodoh !"


Kinanti benar-benar bodoh. Kalaupun mau membenci, seharusnya ia serahkan rasa itu kepada Abbas. Laki-laki b e j a t itu memang perlu di benci. Bukan Nadira, dia hanyalah anak yang terlahir tanpa dosa. Ia menjadi korban dari kesalahan orang tuanya. Dan tumbuh dengan beban yang menyesakkan dadanya.


"Kenapa kau diam saja Kinan ? Kelahiran Nadira, itu karena kebodohan mu sendiri, kenapa kau tidak menyukainya ? Semua yang ia lakukan menjadi salah di matamu ?"


"Nadira memang sudah waktunya di didik agar lebih disiplin dan sopan kepada orang tua Mbak ! "


"Kau sudah pikirkan kalimat mu itu ? Kau seperti itu sejak Nadira lahir, kau tidak lupa ingatan bukan ?"


"Kalau tidak ada Nadira, aku tidak mungkin se-menderita sekarang mbak ! Dia awal dari semua hal buruk yang terjadi dalam hidupku !" Amarah Kinanti telah memuncak. Ia menekankan setiap kata yang terlontar dari mulutnya. Meluapkan kebencian yang mudah tercium oleh orang-orang sekitar.


"Dia ? " Mata bulat mbak Santi membulat sempurna. Menatap Kinanti dengan tatapan tidak senang. "Semua salahmu dan laki-laki b a j i n g a n itu Kinan ! Kalau kamu tidak....."


"Sudah ! sudah ! Semua sudah terjadi, apa dengan kalian ribut akan kembali seperti dulu ?"

__ADS_1


Mbak Wulan mulai terganggu dengan keributan Kinanti dan mbak Santi. Suara dua saudara kandung itu menggema ke seluruh sudut ruangan, hingga benar-benar terdengar jelas dari kamar mbak Wulan.


"Kalian ini, memang mau ibu cepet mati , hah ? "


Suasana hening menyapa, meskipun belum saling puas dengan melempar kata. Bu wati yang mulai menangis sudah mendudukkan tubuhnya kembali. Mendengar suara yang saling beradu di depannya membuat ia lemas. Detak jantungnya berdetak lebih cepat. Amarah Santi, memang tidak pernah ia duga dari awal. Anak keduanya yang terkesan diam, meskipun sering membela Rama. Mbak Santi jarang sekali meluapkan apa yang ia rasakan. Ia juga tidak pernah se-marah sekarang ketika bu Wati memaksanya untuk berpisah dengan suaminya dulu.


Mbak Wulan yang merasa bangga karena berhasil membuat rumah kembali sepi, kembali memutar tubuh dan melangkah ke dalam kamar. Hentakan kakinya terdengar kasar, suara ocehannya masih saja nyaring di telinga ke tiga perempuan yang sedang menerka dengan angan-angan mereka.


"Aku gak ngerti Kin, sebenarnya apa yang kamu kejar ! Hatimu benar-benar mati !"


Dengan rasa kesal yang semakin menumpuk, Mbak Santi beranjak dari ruang makan.


Ia masuk ke dalam kamar untuk sekedar mengambil ponsel dan tasnya. Tidak lama, ia kembali keluar kamar dan pergi tanpa permisi.


Sementara itu, Kinanti dan Bu Wati yang masih tinggal di ruang makan saling melempar pandangan. Tatapan keduanya masih sengit, seperti musuh yang siap bertempur kembali.


Allena menarik lengan Kinanti dari samping. Suaranya pelan, seperti menahan tangis. Mungkin dia memang belum paham dengan apa yang dia dengar, tapi ia bisa merasakan ketidaknyamanan dan rasa takut mendengar suara-suara keras yang saling bersahutan.


"Iya nak, mama ambil tas sebentar ya."


Kinanti beranjak dari kursi untuk meraih tas yang sudah ia letakkan di lemari tv.


Sama seperti Mbak Santi, ia melangkah keluar rumah tanpa permisi, walaupun sekedar basa-basi dengan bu Wati.


Tidak ada kendaraan yang bisa meringankan langkah kaki Kinanti. Ia terus menggerakkan kaki meskipun jarak sudah cukup jauh ia tempuh. Banyak angkutan umum yang bergantian berhenti di sampingnya, tetapi ia hanya menggeleng lalu kembali melangkah dengan menggendong Allena.

__ADS_1


Biasanya, ia selalu mengajak putri bungsunya itu bercanda di jalan. Namun, tidak untuk kali ini. Ia terus saja bungkam dengan wajah kesal. Sesekali, Kinan terdengar menghembuskan nafas berat, bukan karena lelah, tetapi karena kehidupan yang sedang ia jalani.


Rasa-rasanya, ia sangat ingin berteriak. Namun, masih terkontrol karena lalu-lalang orang sekitar yang pasti akan menganggap nya telah gila.


Setelah sampai, Kinanti menurunkan Allena dari gendongan. Membiarkan putri kecil itu bermain di taman samping kantin. Banyak anak-anak yang merasa gemas melihatnya. Bahkan tak sedikit dari mereka yang sering menghampiri Allena lalu mengajaknya bermain.


Awalnya, Lena tampak malu-malu. Namun, setelah sering mengerti, ia merasa nyaman dan senang bermain dengan mereka. Maka dari itu, setiap kali mendengar bel masuk berbunyi, Allena langsung merengek dan menangis. Ia meminta ikut dengan murid yang ia anggap teman-teman barunya itu.


"Allena, jangan bikin mama marah ya ! Kamu tahukan, mama lagi sibuk sekarang."


"Tapi ma...."


"Kamu duduk, atau mama marah ?"


Kinanti meninggikan suaranya. Membentak Allena dengan satu kalimat. Putri kecil itu merunduk, menyembunyikan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.


Kinanti tidak peduli itu, ia kembali sibuk dengan pekerjaannya. Meskipun sang pemilik kantin memberinya waktu untuk membujuk Allena dengan lembut, Kinan justru dengan mudah melukai hati putri kecilnya. Ia tahu, Allena berpaling dari hadapannya dengan kecewa. Bentakan yang ia lengkapi dengan ancaman itu cukup tajam melukai hati Allena. Bodohnya, Kinanti acuh terhadap perasaan putrinya.


"Kin, kasihan Lena. Kamu diamkan dia dulu ya." Pemilik kantin itu prihatin dengan Allena. Ia terus-menerus mengusap wajahnya, meskipun tak terdengar suara tangisnya.


"Biarkan saja buk. Nanti juga diam sendiri. Allena itu sama kaya kakaknya, cengeng. "


"Cukup peluk sekali saja, Lena pasti mengerti Kin."


"Maaf bu, tujuan saya ke sini untuk bekerja. Jadi, urusan saya dan ibu hanya sebatas pekerjaan. Lena itu sudah menjadi tanggung jawab saya."

__ADS_1


Kinanti memang perempuan yang sangat keras kepala. Ia sangat sulit di nasehati, oleh siapapun itu. Hatinya keras, begitu juga dengan sikapnya. Tidak sedikit orang yang mulanya kasihan, tetapi berakhir dengan kesal karena jawaban Kinan yang seenaknya.


__ADS_2