Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Tangisan


__ADS_3

"Minta maaf ?"


Ayah tercengang, layaknya tak ada apapun sebelumnya. Ia menatap mataku dengan lekat, bahkan lebih dalam dari biasanya.


Aku tak mengerti kenapa Ayah seperti tidak paham dengan apa yang ku katakan. Aku justru terpancing, turut memandangi diri. Apa ada yang salah ? Ah tidak ! Semua terkesan biasa, seperti sebelumnya. Atau karena mataku yang sembab karena terlalu lama menangis ? Itu juga tidak mungkin. Ayah pasti akan langsung menanyakan padaku. Lalu....


"Apa perlu Ayah minta maaf ? Nenek juga sudah menyakiti mu nak."


Kali ini ganti aku yang tercengang. Sejak kapan Ayah begitu keras kepala dan egois. Ayah yang ku kenal tidak pernah memiliki sifat seperti ini sebelumnya.


"Yah, kalau Ayah tidak mencari masalah, Nenek tidak akan marah sama Nadira. Oke, Nadira tahu Ayah sayang sama Nadira, tapi cara yang Ayah lakukan itu salah yah. Ayah sudah menyakiti hati Nenek."


Ku usap lengan Ayahku penuh kasih. Aku juga berusaha untuk terlihat manis dan lembut meskipun sejatinya aku ingin marah karena Ayah berlaku seenaknya kepada Nenek.


"Ayah bisa lembut kepada mama. Kenapa kepada wanita yang seharusnya Ayah hormati, ayah begitu jahat ?"


Aku sengaja mengucapkan kalimat yang mungkin bisa membuat Ayah tersentuh. Tajam, dan memang sesuai apa yang akhir-akhir ini terjadi di hadapanku.


Yah, tentu Ayah tidak akan menolak apa yang ku pinta padanya. Ia mengangguk, lalu memutar tubuh dan berjalan ke kamar Nenek. Tanpa berpikir panjang, Ayah segera mengetuk pintu.


"Bu....Ibu..."


"Bu..."


Hingga beberapa kali Ayah mengucapkan panggilan itu. Ayah masih bertahan di sana, meskipun tak sekalipun nenek menyahuti panggilan Ayah. Ya, sebenarnya aku merasa kasihan padanya, tapi Ayah harus melakukan hal itu sekarang.


Langkah kakiku seperti tertarik untuk melangkah lebih dekat dengan Ayah. Terpanggil untuk turut merayu Nenek dari balik daun pintu. Heh, aku tersenyum miris, sambil terbayang wajah mama ketika ia sedang marah kepadaku. Dan rasanya tak jauh beda, seperti Nenek yang tiba-tiba ketus dan memasang wajah tidak suka terhadap ku.


"Kita tinggal dulu saja ya yah. Mungkin, nenek lagi butuh waktu untuk sendiri."


Aku dan Ayah beranjak dari depan kamar nenek. Kami berjalan beriringan, menuju halaman rumah. Duduk, di antara tanaman hias yang Nenek tata dengan indah. Bercengkrama, melepaskan kekesalan dengan canda.


Aku tertawa, tapi tidak dengan hatiku. Ayah ? ia juga terbahak, tapi aku tak tahu bagaimana dengan hatinya.


Yang membuatku tak bisa terlepas dari gelisah, hanya satu hal yang tak jadi Nenek ucapkan tadi. Aku terus saja terngiang detik itu. Seperti ada sesuatu yang di rahasiakan dariku. Tentang apa ? Entah, hatiku ingin sekali segera mengetahui. Namun, tidak mungkin juga aku tanyakan pada Ayah sekarang. Yang ada, Ayah akan mencari alasan agar aku tidak lagi membahas perihal itu. Ah, sudahlah ! Akan aku cari tahu sendiri kebenarannya tentang ini. Mungkin dari Nenek, atau siapapun yang mengetahui semua tentang diriku.


****


Air mata Ibu tak kunjung berhenti. Hatinya semakin teriris sakit ketika ia mendengar suara tawa Nadira dan Rama. Ia masih mendekap erat map yang berisikan sertifikat rumah ini. Terbayang jelas senyuman dari wajah laki-laki yang masih ia harapkan ada di sampingnya. Menjalani kehidupan bersama, hingga menua dan terlelap untuk selamanya bersama. Ya, itu yang selalu ia pinta meskipun takdir telah berkata lain. Laki-laki yang ia maksudkan adalah suaminya, dan ia sudah kembali kepada sang kuasa mendahului istrinya.


Seperti mendapat firasat, ponsel ibu terus berdering dan menampilkan nama Nurin di layarnya. Dengan tangan gemetaran, Ibu meraih ponsel. Membaca nama yang terlihat, lalu kembali meletakkan dengan sangat pelan.


Mana mungkin ? Ibu tidak akan membiarkan putrinya mengetahui kesedihan yang ia rasakan. Nanti, jika semua sudah baik-baik saja, ia pasti akan cerita tentang masalah yang menerpa.


"Rama, kamu kecil tak besarin, sudah besar kenapa durhaka sama Ibu nak."


Batin ibu berkeluh pada barisan foto usang yang ia pajang di tembok kamarnya. Seorang pria kecil, dan gadis kecil yang saling bergantengan yang terlihat tertawa ceria di antara dua orang dewasa.


Bait-bait doa yang selalu Ibu panjatkan di setiap detiknya. Lantunan harapan yang selalu ia senandung kan di sela doa harian nya selalu tercurah kepada kedua anaknya.


tok...tok...tok


"Assalamualaikum Bu dhe...."


Ibu menoleh ke arah pintu. Lamunan nya buyar seketika terdengar ada seseorang yang memanggilnya dari depan pintu. Suaranya tak asing baginya. Dengan cepat, tangannya segera mengusap air matanya yang tak kunjung mengering di kedua pipi.


Ibu bangkit dari tepi ranjang. Ia menyimpan sertifikat itu di bawah bantal, lalu segera berjalan ke arah pintu.

__ADS_1


cekrek


Senyuman manis sudah menanti di depan kamar. Kedipan mata yang sendu, namun begitu hangat menyentuh kalbu. Ranti ? ya, keponakan nya yang terkesan ketus itu sejatinya sangat lembut hatinya. Ia tidak bisa melihat kesedihan pada orang lain. Meskipun lidahnya tidak sibuk bertanya, tetapi cara ia melakukan orang lain menunjukkan betapa ia sangat perhatian dan menyayangi orang-orang terdekatnya.


"Bu dhe ndak enak badan to ?"


Ranti menggandeng Ibu Rama dari samping. Mengajaknya berjalan menuju ruang tengah. Arya, sudah terlebih dahulu duduk di sana.


"Bu dhe ndak apa-apa nduk. Ibumu ndak ikut ke sini toh ?"


Ibu berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia berusaha tegar di depan Ranti dan Arya. Berpura-pura menguap agar mereka percaya bahwa Ibu benar-benar sedang tidur tadi.


"Tak buatkan teh hangat ya bu dhe"


Ranti tersenyum, lalu meletakkan tas di atas meja. Langkahnya, ia seret ke dapur. Dengan penuh perhatian, ia meracik 5 cangkir teh hangat. Ia tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi, meskipun tidak tahu jelas karena apa perdebatan itu terjadi. Namun, Ranti berpura-pura biasa. Ia tidak ingin menyinggung masalah keluarga Bu dhe-nya jika mereka tidak memulai berbicara terlebih dahulu.


"Ini bu dhe, minum dulu ! " Ranti meletakkan secangkir teh di depan Ibu, ia juga memberikan teh ke Arya, suaminya.


" Jangan suka begadang bu dhe. Nanti sakit ! Sudah tua, pikirannya di buat senang aja."


Ranti menyeruput teh hangat dari cangkir nya. Ia tak sanggup melihat saudara ibunya terlihat begitu murung. Wajahnya lesu, di tambah mata yang sembab karena terus menerus menangis.


"Wong bu dhe ndak apa-apa kok nduk. Bu dhe tidur nya juga nyenyak kok."


Ibu Rama melakukan hal yang sama dengan Ranti. Setelah beberapa kali tegukan, ia kembali meletakkan cangkir itu di atas meja.


"Loh, Tante sudah lama toh di sini ?"


Nadira yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri Ranti. Ia mengulurkan tangannya, lalu mencium punggung tangan Ranti. Begitu pula yang ia lakukan kepada Arya.


"Baru mandi Tante. Maaf ya, Nadira ngga tahu kalau ada Tante di sini. Ayah gak ada ya Tan ?" Nadira celingukan mencari keberadaan Rama. Di ruang tengah hanya ada Neneknya, Ranti dan Arya. Rasanya aneh saja, jika ada tamu tetapi Rama masih duduk menyendiri di teras rumah.


"Gak apa-apa Dira. Ayahmu..."


"Gak usah peduli sama dia. Wong dia ndak mau peduli sama orang lain kok. " Sahut Ibu seraya kembali meneguk teh yang mulai dingin itu.


Ranti dan Nadira hanya melempar pandangan. Keduanya bungkam, tanpa menjawab sepatah katapun. Ranti tersenyum lalu merunduk, mencoba memberi kode dan menguatkan Nadira agar memaklumi apa yang Neneknya ucapkan. Untungnya, Nadira paham akan hal itu. Ia lalu berpamitan ke kamar untuk mengganti pakaian terlebih dahulu.


"Nadira itu baik ya bu dhe..."


Ranti kembali membuka obrolan setelah beberapa saat semuanya saling terdiam. Ia mencoba menasehati Ibu dengan cara yang lembut. Tak terlihat menggurui, ia hanya ingin menyatakan kekagumannya pada sosok gadis kecil yang hatinya begitu tegar.


"Baik ? Kalau dia baik, dia gak bakal tega minta Rama berpikir keras terus-terusan nduk."


"Berpikir keras ?" Ranti menautkan alisnya. Ia menggeser duduk, dan menghadap ke Ibu. Sorot mata penasaran, menanti jawaban tanpa memaksa.


"Wingi, Rama ambil sertifikat rumah dan tanah nduk. Mergo opo ? Mergo Dira minta sekolah bahasa agar bisa kerja ke Jepang. Wis paham Bapak e lemah, gak kerja, kok minta si neko-neko."


Ranti tersenyum simpul. Ia mengatur nafas dan kembali duduk menghadap ke depan. Bibirnya, masih asyik meneguk teh yang tinggal setengah cangkir itu. Otaknya masih berkeliaran, mencari kata yang mewakilkan harapan Nadira.


"Ranti rasa, Nadira hanya ingin mengangkat derajat orang tuanya bu dhe. Ia sudah paham, jika banyak orang yang tidak menginginkan nya, bahkan mamanya sendiri. Ranti pikir, Nadira hanya ingin menunjukkan bahwa Nadira bisa membahagiakan orang-orang yang ia sayangi."


Ibu memutar kepala, lalu memperhatikan raut serius dari Ranti. Arya yang sedari tadi sibuk dengan ponsel di jemarinya, turut tertarik mendengarkan Ranti.


"Bu dhe, mungkin waktunya tidak tepat untuk Nadira memutuskan hal itu. Tapi percaya sama Ranti, mas Rama hanya ingin membahagiakan satu-satunya harapan yang ia punya saat ini. Malaikat kecil yang tumbuh besar karena kasih sayang darinya. Mas Rama sedang berusaha bangkit bu dhe, dan Nadira yang bisa membuatnya bersemangat hidup sampai detik ini. "


"Ranti, kowe paham kan siapa Nadira ?"

__ADS_1


Ranti mengangguk seraya menyipitkan kedua matanya. Ia tahu betul kisah Rama, tentu ia tahu jika Nadira bukan darah daging Rama. Kedipan yang Dira berikan, cukup memberikan jawaban untuk Ibu Rama. Ia tak ingin berbicara tentang itu, karena jika Nadira mendengar semua akan menjadi semakin rumit. Nadira akan terpukul, bahkan bisa saja ia tidak lagi percaya terhadap siapapun.


"Bagaimana kalau sampai ia lupa ?"


"Lupa ?"


"Ya. "


"Maksud bu dhe, kebaikannya hanya sandiwara ?"


"Ya bisa jadi. Itu hanya caranya merayu. Nanti kalau wes sukses, heh mana ingat dia sama bapaknya."


Ranti mulai mencerna maksud bu dhe begitu keras menentang keinginan Nadira. Ada raut takut kehilangan yang tergambar di wajahnya. Hanya saja, ia sedang berkilah dengan itu. Ia menutup semua ketakutan dengan kata yang lebih kasar. Dengan perbuatan yang Ranti pikir, tidak akan pernah Nadira lakukan. Kecuali... kecuali jika ia kecewa ketika mendengar siapa dirinya.


Keadaan kembali sunyi. Semua sibuk dengan angan masing-masing. Ibu berpura-pura fokus dengan televisi, walau pikiran nya berkelana kemana-mana. Ranti, ia mengetuk-ngetuk gagang cangkir, sudah kehabisan kata untuk melawan kalimat Bu dhe-nya. Sementara Arya, ia kembali asyik bermain game yang ada di ponselnya. Entahlah, suasana terkesan mencengkeram. Membuat semua merasa tidak nyaman.


Rama berjalan masuk dengan langkah berat. Seperti nya beban yang selama ini ia coba buang berakhir sia-sia. Sejak perdebatan itu, ia kembali murung, dan banyak diam. Seperti nya, ia masing berusaha mewujudkan apa yang Nadira impikan, entah bagaimana caranya nanti.


"Mas, teh nya sudah dingin."


Ranti menunjuk teh di atas meja. Ia kemudian bangkit dari samping Ibu Rama, dan menyenggol lengan suaminya untuk mengajak nya meninggalkan Ibu dan Rama berdua.


"Bu..."


Ibu hanya melirik Rama, tanpa menjawab panggilan itu.


"Ibu masih marah ya sama Rama ?"


"Maafin Rama ya Bu. Rama cuma mau Dira senang, itu saja."


Rama memutar-mutar jemarinya. Ia hanya berani melihat bawah. Jantungnya berdetak, seperti sudah bersiap jika Ibu akan kembali murka kepadanya.


"Dengan cara membuat Ibu yang melahirkan mu kecewa, le ?"


Suara Ibu terdengar lembut. Nadanya, ia buat sehalus mungkin. Dua bola mata yang penuh kasih itu, kembali berkaca-kaca. Kekecewaan yang menerpa hati Ibu tak kunjung membaik rupanya. Kelakuan Rama, sungguh membuat hatinya tergores, bahkan lebih menyakitkan dari kehilangan suaminya kala itu.


Anak laki-laki yang ia gadang bakal bertanggung jawab terhadap masa tuanya, justru terus-menerus membuat hatinya susah dan marah. Selalu ada hal yang Rama lakukan, yang membuat emosi Ibu tersulut cepat.


"Maaf, Ibu. Rama tahu, Rama salah."


Rama berlutut di depan sang Ibu. Ia mendekap erat kaki Ibu. Terisak-isak di sana. Air mata sesal yang tak sanggup ia bendung, terus mengalir hingga membuat daster batik milik Ibu basah.


"Ibu, Rama tidak tahu bagaimana cara Rama menenangkan diri Bu. Cuma Nadira hiburan Rama bu, aku takut dia bersedih jika aku gagal mewujudkan mimpi-mimpinya."


Mungkin, apa yang Rama pinta sama dengan apa yang Ibu pinta kala anak-anaknya masih remaja. Ia selalu ingin yang terbaik, untuk anaknya, selalu berusaha keras untuk anaknya, apapun jalannya.


"Maafkan Ibu juga yo le . Ibu ndak bisa mengerti keinginan kamu."


Ibu meraih lengan Rama, ia menangis terisak. Kedua nya berpelukan dengan erat. Mendekap, saling melepas kesalahan yang ada. Ranti dan Arya ikut menangis, terharu dengan apa yang mereka saksikan.


Entah, sejak kapan Nadira juga mendengar perbincangan itu. Ia berlari, menghampiri Ayah dan neneknya lalu turut menghamburkan tubuh di antara mereka.


Semua menangis, semua terharu, namun tidak karena hal yang menyakitkan lagi.


"Rama, sayang sama Ibu...Rama juga sayang sama kakak."


Ah, setiap hati yang hidup pasti tersentuh akan hal itu. Sepenggal kalimat yang tidak pernah Rama ucapkan di hadapan sang Ibu. Sepenggal cinta, yang sedang ia janjikan untuk segera ia wujudkan.

__ADS_1


__ADS_2