
Kinanti selalu terlihat cantik di mata Rama. Walaupun, berat badannya sudah sangat melambung tinggi. Aslinya juga sudah kelebihan, tapi kata Rama itu seksi. Apa lagi, saat dia berdiam diri, duuuhh hatinya langsung terpompa dengan kencangnya. Sungguh, menatap wanita itu sekarang masih sama saat awal-awal pertemuan keduanya. Mendebarkan.
Hari itu, Kinanti tampak mondar-mandir ke kamar mandi, dia bilang perutnya mulas. Dia serasa ketagihan buat buang air kecil.
"lebih baik, kamu bawa istrimu ke bidan, takutnya ada hubungannya dengan bayinya"
Mbak Wulan memang belum pernah merasakan hamil apalagi melahirkan. Dia hanya menduga karena memang perkiraan yang bidan katakan tinggal dua hari lagi.
Dirumah, keadaan sepi, hanya ada Rama, Kinanti dan mbak Wulan. Bu Wati sedang pergi mengikuti hasratnya, berbelanja dengan uang bulanan yang dikasih anak-anaknya. Termasuk juga dari Rama.
Dengan sangat panik Rama berlarian keluar, meminta bantuan pada tetangga yang memiliki mobil. Saat kembali kerumah, ia sudah mendapati istrinya meraung merasakan sakit. Semampunya ia mencoba memapah sang istri, merangkul dari samping dan membawanya kedalam mobil.
--
Rama POV
Selama diperjalanan Kinan terus saja menjerit dan menangis. Dia bilang tidak tahan. Yah karena aku tidak berpengalaman, aku tidak mengerti harus melakukan apa selain menenangkan dia dengan dekapan.
Jujur saja, aku sempat ikut menangis dan merasa kasihan padanya. Sudah sembilan bulan tidur pun tak nyenyak, dan sekarang dia harus merasakan sakit yang tak terhingga.
Saat sampai di klinik, perawat yang bertugas sangat sigap. Mereka membawakan kursi roda dan mendorongnya dengan cepat menuju kamar bersalin. Mungkin juga karena sudah terbiasa, dan hampir setiap hari mereka melakukan ini.
"sudah sudah! Kamu tunggu diluar saja. Biar ibu sama Anna yang nemenin Kinan di dalam"
"tapi buk, Rama juga mau nemenin Kinan, dia kan istri Rama"
"sudahlah Ram. Lagian Kinan juga tidak mengharapkanmu ada didalam. Kamu hanya akan membuatnya kesal dan mengganggunya"
Bukan hanya ibu, Anna yang baru saja datang pun ikut melarangku menemani Kinan. Dia bilang, dia yang diminta Kinan buat nemenin proses lahiran.
__ADS_1
Sedih sekali rasanya. Aku sebagai seorang lelaki dan suami benar-benar tidak ada harganya dimata mereka. Ibarat botol minum aku ini hanya tutup agar air yang ada didalam botol tidak tumpah. Sudah, itu aja!
Sudah satu jam lebih, aku tak kunjung mendengar tangisan anakku. Tidak ada bidan ataupun perawat yang keluar juga. Sudah berapa ratus kali itu pintu aku pandang, tetap saja masih tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda ada yang mendekati.
"ini Ram, kopi. Biar kamu lebih tenang"
Entah kenapa! Mbak Wulan sehari ini baik banget sama aku. Dia lebih respect dan tidak kasar lagi. Dari awal dia memang terlihat lebih acuh dibanding yang lain.
"makasih mbak"
"udah tenang. Pasrahin aja sama Allah, doa yang penting"
"iya mbak, aku cuma khawatir aja sama Kinan"
"kenapa tadi ngga ikut masuk aja?"
"ngga dibolehin sama ibu. Katanya Kinan ngga mau ada aku disana"
"kalau itu, aku juga ngga bisa bantuin Ram"
Kembali, aku dibuat bingung dengan kata-kata nya. Dia mengatakan itu dengan berdiri lalu keluar dari ruang tunggu.
Mataku masih saja asyik memandang punggungnya yang semakin menghilang. Aneh sekali rasanya, apa mbak Wulan juga merasa tertekan dengan sikap ibu? Ah, apa sih? Aku tidak boleh berprasangka buruk.
--
Kinanti POV
"buuuk, ini sakit sekali buk. Kinanti ngga kuat"
__ADS_1
Aku terus saja menarik semua benda yang ada disekitarku. Ku gigit ujung bantal untuk menghilangkan sakitnya jalan bayiku. Guntingan yang dokter lakukan itu sangat terasa sekali. Ngilu, perih, ah semua rasa jadi satu.
Aku mendengar tangis seorang bayi yang baru saja bidan ambil dari bawahku. Teduh sekali dihati. Suaranya menghipnotis, hingga jahitan ditubuhku bagian bawah pun sama sekali tak terasa.
"selamat ibu, anaknya cantik dan sehat"
Langsung saja, bayi itu diberikan padaku. Dan dia langsung merayap memelukku lembut sekali. Tidak lama, bidan mengambilnya lagi untuk dibersihkan.
--
Dari luar ruangan, nyaring sekali bayi itu menangis. Suaranya kencang seolah berteriak memanggil ayahnya. 'maafkan ayah nak, ayah tidak ada didalam bersamamu' batinnya menjerit walau kini bibirnya menunjukkan sekilas senyum.
Rama merunduk, menjatuhkan tubuh keatas ubin. Dia berulang mengucap syukur dan bersujud atas nikmat yang Allah berikan padanya.
Setelah bidan dan perawat keluar, Rama bergegas memasuki ruangan untuk bertemu dengan anak dan istrinya.
"Kinanti, Alhamdulillah semua berjalan lancar?"
"sama saja, ini juga sakit"
"tapi setidaknya kita bisa lihat anak kita kan?"
Kinanti masih merasakan nyeri, dia mengangguk pasrah karena enggan berbicara. Sementara Bu Wati, dia sibuk mengomentari setiap gerakan yang Rama lakukan.
"Kinan, anak perempuan mu mau kamu beri nama siapa? Dia cantik sekali, sama sepertiku"
Anna memamerkan wajah nya. Dia merasa bangga karena banyak yang memuji akan kecantikan wajahnya.
"kamu ini bisa saja. Aku mau kasih nama dia Nadira Zulfa secha, bagaimana menurut kalian? Gimana mas?"
__ADS_1
Kesannya Kinanti ini seperti meminta timbangan dari Rama. Tapi, percayalah ketika Rama melontarkan pendapat nya dia akan di hakimi oleh Kinan dan bu Wati. Apalagi ada Anna disana, Rama hanya memilih mengangguk mengiyakan.