
Nadira POV
tut tut tut
"hahhhhh!!!! mama kemana siiiih!!!"
kali ini, aku merasa kesal sekali dengan mama . Seorang ibu yang sama sekali tidak bisa Aku jadikan panutan. Sikapnya sangat buruk, dan selalu membuatku muak . Durhaka ? seolah itu yang dia inginkan dariku .
"Sabar Dir . mungkin batreinya habis kali"
Anissa yang tidak mengetahui apapun angkat bicara . Ia sebenarnya hanya ingin menghiburku agar lebih tenang, tapi bagiku seolah memberiku umpan untuk marah .
Kulirik dia dengan tatapan maut , membuatnya bergidik dan menunduk untuk kembali fokus dengan buku didepannya .
Ku banting tubuhku ke kasur . Ingin sekali menjerit untuk meluapkan emosi yang ada, tapi aku malu jika tetangga menghampiri hanya karena suara ku yang tak bisa ku kontrol .
Hari ini, dunia ku seolah pecah , mama semakin kelewat batas . Kelakuan nya melebih ABG , aku yakin kali ini mama pergi bersama pacar gelapnya yang waktu itu aku lihat di rumah .
Jam berputar terus, hari semakin larut . hingga baterai ku tersisa 10% tak kunjung juga nomer mama bisa di hubungi .
"ngga belajar Dir ?"
__ADS_1
"iya bu . bentar "
Suara ibu yang sangat lembut menggugah lamunan buruk ku . Ku pandang wanita yang kulitnya semakin keriput itu, teduh sekali . aku benar-benar sangat nyaman melakukan kontak mata seperti ini dengannya, seolah masalah yang ada terbang terbawa hembusan angin malam .
Drrttt drrtttt
Mataku beralih cepat , menangkap nama yang terpampang dilayar ponselku . tertera jelas nama seseorang yang sedari pagi sudah ku tunggu .
"Kak, mama di depan nih ."
tutttt ....
"jadi mama ?"
"Mama ?"
Baru kali ini , aku bisa melewati detik dengan mesra bersama mama . Tiba-tiba saja, tubuhku tertarik memeluknya lama, bahkan sangat erat . Begitu juga mama dan Allena . Air mata ku tak terbendung, mengalir deras . 'benarkah aku sangat merindukannya?' perpisahan kali ini, mengajariku arti akan adanya dia , mama ku .
"Ayah mana ma ? Kenapa ngga sama ayah dan Kevin ?"
Di tengah obrolan mama bersama ibu, aku menyempatkan untuk bertanya tentang ayah . terlintas saja tentang tangisnya pagi tadi, nada bicara penuh kekecewaan . Bahkan, suara hati yang belum pernah beliau syairkan .
__ADS_1
"Ayahmu ngga ikut . Kevin kan sekolah Dir"
"terus , kenapa Ayah bilang kalau mama ngga izin kalau pergi ?"
"mmmm ....Mama izin, ayah saja yang ngga paham mungkin .."
"ponsel mama juga ngga aktif dari pagi "
"Sudahlah kak, mama udah jauh-jauh lo dari Surabaya buat temuin kakak disini . Sekali aja, buat mama seneng . Ngga perlu cari-cari alasan buat ngajak mama berantem"
Aneh, benar-benar aneh sekali mama ini . Wajahnya gelagapan tak berani menatap mataku lama . Lidah nya seolah keseleo mencari alasan yang tepat . Ia juga langsung membicarakan hal lain dengan ibu, saat aku hendak membuka mulut kembali .
"Bentar ya ma, buk . Dira sholat dulu "
"iya nak . mbak mau sholat juga ? masih ada mukena kalau mau jama'ah sama Dira "
Ibu sempat menawarkan waktu untuk mama . Mungkin, tujuannya untuk aku bisa lebih dekat dengan mama . Tapi bodoh, aku sama sekali belum pernah melihat bahkan merasakan sholat berjamaah bersamanya .tentu saja, dia mengatakan jika sedang berhalangan .Seolah menolak ku secara halus .
Di sujud ku pada roka'at terakhir, entah mengapa aku dibuat menangis . air mata yang tak ku tahu penyebab nya sudah deras membanjiri pipi bahkan mukena hitam yang ku kenakan .
"Sabar ya Dir, aku percaya ada hal besar yang Allah siapkan untukmu dan keluarga mu "
__ADS_1
tak kusadari, sejak kapan Anisa berada di belakang ku . tiba-tiba saja tubuhnya sudah hangat memelukku , seolah mengetahui apa yang sedang aku rasakan .