
Klunting
Ponsel Nadira bunyi, ia yang sedang fokus membaca kamus besar yang berisi bahasa asing, negara yang akan ia tuju segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas bantal.
Tertulis sebuah pesan dari "Mama".
"Mama ? Tumben."
Batin Nadira, seraya membuka pesan tanpa menunggu lama lagi.
"Apa Kabar kak ? Mama kangen sekali sama kamu."
Sepenggal kalimat. Ya, hanya menjadi dua baris dalam layar ponselnya. Namun, entah mengapa membuat Nadira begitu senang. Ia tersenyum, lalu mata nya mulai fokus memperhatikan jemarinya mengirim pesan balasan.
"Alhamdulillah, sehat ma. Mama apa kabar ? Dira juga kangen sama mama"
Begitu balasan yang Nadira kirim. Ia juga menyertakan emoticon hati dan perasaan penuh kasih. Sudah berbulan-bulan Nadira tidak mendapat perhatian dari Kinanti, perempuan yang sangat ia sayangi. Entahlah, seburuk apapun sikap Kinan kepada Rama dan Nadira, itu tak membuat Nadira membenci Kinanti. Ia tetap menyayanginya, apalagi jika mengingat, Kinanti telah berjuang agar Nadira bisa melihat dunia ini.
"Mama baik kak. Adik-adik mu juga baik. Mereka sangat merindukan mu, seperti mama. Kakak kapan main ke Surabaya ?"
"Akhir Minggu ini, Insya Allah Nadira lulus ma. Nanti, kalau sudah bisa pulang, Nadira akan pulang ke rumah Mama."
"Mama tunggu sayang."
Pesan yang selalu Nadira tunggu. Panggilan kasih yang sangat menyentuh hatinya. Ia tersenyum manis, begitu Kinanti menulis sayang kepadanya. Tak pernah ia dengar sebelumnya. Apalagi, setelah Nadira memutuskan untuk tinggal bersama Rama.
Mungkin, ini jalan yang baik. Nadira akan bisa lebih dekat dengan Kinan, jika Nadira mengutamakan Kinan untuk saat ini. Begitulah yang sedang ada dalam pikirannya.
Satu hari, dua hari, tiga hari, Nadira tak sabar menanti akhir pekan. Bukan hanya menanti pengumuman yang akan membawa masa depannya jauh lebih baik, tetapi ia sangat menanti waktu untuk ia bertemu dan melepas rindu dengan Kinanti.
"Nadira, selamat ya ! Kamu lolos, dan bulan Februari akan berangkat ke Jepang."
Nadira membelalakkan mata begitu guru pembimbing nya menyebut namanya. Sebuah doa yang selalu ia pinta di setiap sujud. Allah memang maha baik, ia dengan cepat menjawab doa-doa itu. Meskipun, harus melalui jalan yang berliku.
Sujud syukur ia lakukan. Bahkan air mata bahagia itu menetes membasahi pipi merahnya. Betapa bangganya ia dengan dirinya sendiri. Dengan banyaknya orang yang tak mendukung mimpinya, ia bisa mencapai itu tanpa menyerah.
Nadira meraih ponselnya. Nama pertama yang ada dalam benaknya adalah Kinanti. Iya, mamanya yang membuat ia bahagia dalam seminggu terakhir. Nadira melupakan Rama, ia tidak sedikit pun mengirim pesan walau sekedar mengabari jika dirinya lulus dan akan segera terbang ke negeri sakura itu.
Tangan Nadira gemetar hebat. Perasaan senang, terharu, itu membuat ia tak bisa mengatur detak jantungnya sendiri. Bahkan, air mata yang terus mengalir, tak menunjukkan kemurungan yang selalu ia lewati sepanjang perjalanan hidup.
"Ma...Nadira lulus ma. Dua bulan lagi, Nadira akan terbang ke Jepang."
__ADS_1
Ucap Nadira penuh antusias, ketika telepon nya sudah terhubung dengan Kinanti.
"Alhamdulillah kak. Mama ikut senang. Mama selalu mendoakan untuk kesusksesan mu selama ini kak."
"Mama, terimakasih ya. Nadira sayang sama Mama."
Seperti gadis di mabuk cinta. Nadira seolah begitu terpesona dengan perhatian Kinanti selama seminggu terakhir. Seakan tak ingat dengan seseorang yang selalu mengusap air matanya. Yang selalu berjuang untuk kebahagiaan nya, yang tak pernah memikirkan dirinya sendiri, demi Nadira dan keluarganya.
"Nadira langsung jalan ya Ma. Nadira langsung ke rumah Mama sekarang."
"Iya sayang. Hati-hati ya di jalan."
Nadira melupakan sikap buruk Kinan. Ia yakin, jika perempuan yang mulai menua itu sudah berubah sekarang. Nadira juga yakin, Kinanti bukan lagi perempuan yang tergila-gila dengan harta seperti dulu. Yang Nadira tahu sekarang, perempuan yang bergelar Mama itu, sudah sangat menyayanginya sekarang. Bahkan, Nadira berpikir bahwa Kinanti, mulai menyadari kesalahan yang pernah ia perbuat di masa lalu.
Sepanjang perjalanan menuju Surabaya, Nadira tak terlepas dari wajah sumringah, keceriaan dan perasaan tak sabar ingin segera sampai. Satu jam, terasa satu hari. Bahkan perjalanan yang tak menghabiskan waktu sehari itu, benar-benar membuatnya merasa sudah berhari-hari di perjalanan.
Nadira menghembuskan nafas lega begitu kakinya menginjak tanah kelahirannya.
"Akhirnya, aku kembali ke kota ini"
Ia memperhatikan sekitar. Semua masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah, dari sebelum Nadira tinggalkan dulu.
Nadira menghubungi Kinanti, karena ia tidak melihat perempuan itu datang menjemputnya. Sayang, nomer Kinanti sedang sibuk sejak satu jam yang lalu. Sejak pertama Nadira tiba di kota itu.
"Nadira ?"
Orang itu ? Bayangan Nadira kembali menyibak kenangan yang pernah ia lalui sebelumnya. Masa-masa yang selalu ia coba untuk lupakan. Seorang lelaki dengan perawakan tinggi besar tengah melambaikan tangan seraya menggiring senyuman hangat untuk nya. Nadira masih tertegun, ia ingat betul dengan pria yang menyapanya dengan ramah tersebut.
Ia berjalan, semakin mendekat dari tempat Nadira berdiri.
"Kamu Nadira kan ?"
Pria itu tidak menyerah. Ia masih saja terlihat ramah di hadapan Nadira, meskipun ia tahu ekspresi wajah Nadira menandakan jika gadis itu sedang tak menerima kehadirannya.
"Nadira, kenalin saya Abbas. Kamu bisa panggil om, atau panggilan apapun yang membuatmu nyaman. "
Yah, laki-laki itu adalah Abbas. Laki-laki yang Nadira kenal sebagai orang yang telah menghancurkan keluarganya. Laki-laki yang membuat Kinanti berusaha melepaskan Rama. Laki-laki yang.....ah, mungkin ia adalah laki-laki jahat dalam bayangan Nadira.
Nadira kembali mengacuhkan nya. Ia membuang wajah, matanya berkeliaran memandang sekitar. Ia berharap, melihat Mamanya di sana. Atau paling tidak, ada angkutan umum yang bisa membawanya dari tempat itu. Ia ingin sekali segera pergi, dan tidak ingin peduli dengan laki-laki yang baru saja mengenalkan dirinya dengan ramah tersebut.
Abbas menarik nafasnya dalam. Ia mengerahkan diri agar tetap bisa bersabar menghadapi kebencian Nadira. Gadis cantik, yang sejatinya adalah darah dagingnya. Abbas ingin sekali meneriakkan fakta itu di hadapan telinga Nadira, agar Nadira bisa menghargai nya. Namun lagi-lagi, ia mengurungkan niatnya. Ia takut jika anak gadisnya yang tumbuh dengan cantik itu semakin sulit untuk ia taklukkan hatinya. Ia takut, jika Nadira semakin membenci kenyataan yang ada.
__ADS_1
"Nadira, om di sini cuma ingin membantu Mamamu."
Nadira meliriknya. Ada hal yang membuatnya tertarik dengan ucapan Abbas.
"Mama ? Aku tidak melihat Mama sedari tadi. Jadi om, jangan jadikan Mama sebagai alasan om saja."
"Justru itu Dir, Mamamu meminta om untuk menjemputmu."
"Heh" Nadira tersenyum kecut seraya memalingkan wajah.
"Jangan harap, aku bisa percaya dengan om. Lebih baik, sekarang om pergi. "
"Tapi Dir..."
"Oh, atau aku yang pergi Om ?"
"Hmm, gini saja. Mamamu sedang sakit sekarang. Di sini, jarang sekali ada ojek. Kendaraan umum sedang melakukan demo hari ini. Sekarang, pilihan ada di kamu. Mau ikut Om, atau masih bersikeras untuk menunggu Mamamu yang sakit di sini?"
"Mama sakit ? Hahahaha"
Nadira terkekeh mendengar pernyataan Abbas.
"Aku tahu, Om sedang bohong sekarang !"
"Terserah, kamu mau percaya atau tidak Dir. Yang jelas, Om sudah berniat baik untuk membantu Mamamu. Kalau kamu tidak terima, ya sudah. Om akan pergi."
Nadira langsung membisu. Suara tawa yang menggema, tiba-tiba hilang seketika. Nada bicara Abbas sangat jelas, sedang tidak bercanda. Tapi, apa mungkin Kinanti sakit ? Apa kebaikan dan perhatian yang Kinan berikan selama seminggu adalah karena ini ? Karena ia sakit ? Atau....
"Om, tunggu !"
Nadira menarik koper mininya. Ia berlari tertatih mengejar Abbas. Pria yang sejatinya tak benar-benar akan meninggalkan Nadira. Hanya sebuah umpan agar gadis itu segera berpikir, lalu menerima niat baiknya.
"Baiklah, Dira ikut Om."
"Sudah ku duga." lirih Abbas.
"Apa Om ?"
"Tidak ! Ayo, naik. Koper mu biar Om yang masukin."
Hanya deru AC kendaraan yang mengisi kesunyian di dalam mobil. Tiada kata yang saling berbalas, tiada pula musik yang sibuk mengiringi. Pikiran Nadira melayang. Antara sedih dan gelisah yang tak menentu. Tetapi, dominan dengan ragu yang tidak bisa ia baca sebabnya.
__ADS_1
Sementara Abbas ? Ia sudah jelas tengah berbohong. Ia kehabisan akal untuk merayu Nadira. Sekarang, pikirannya sedang di sibukkan dengan amarah Nadira nanti jika tahu ia di bohongi.
"Nadira sudah makan ?" Suara Abbas memecahkan keheningan. Sorot mata tajam, tengah beralih menatap wajah cantik di sampingnya. Gadis yang pernah ia tolak dengan hina. Gadis yang tak pernah ia harapkan kehadirannya di dunia. Namun, setelah melihatnya tumbuh dewasa, Abbas menyesal pernah menolaknya sebagai anak.