
"Jadi Kinan bawa Allena dan Kevin pergi ?"
Rama cukup kaget mendengar cerita yang Nadhira sampaikan. Abbas bukanlah orang yang berkecukupan dan ia bukan penduduk asli Surabaya. Ada kemungkinan Abbas membawa Kinanti dan kedua anaknya ke tanah kelahirannya.
"Iya yah. Kata tante Lina mereka pergi kemarin."
"Baguslah." celetuk Nurin, yang tiba-tiba muncul dari dapur seraya membawa nampak berisi jus segar dan kue.
"Sudah, gak usah terlalu dipikirin, nanti juga kalau kamu sudah berpenghasilan pasti Kinan bakal nyariin kamu." Ucap Nurin sangat yakin. Kinanti memang sangat gila harta, ia juga memilih bercerai karena merasa kurang dengan pendapatan yang Rama berikan. Ia juga begitu antusias dan tiba-tiba berubah baik ketika Nadira mengatakan ia lolos seleksi dan akan berangkat ke Jepang. Tetapi, meskipun Nadhira menyadari dan sangat tahu dengan sikap Kinan, tetapi saja hatinya sakit ketika Nurin menjelek-jelekkan Kinanti.
"O, iya tante bikin kue tadi. Cobain dong !" Nurin mengalihkan pembicaraan. Keheningan yang tiba-tiba mencekam di rasa karena ia salah dalam berbicara. Nadhira mengisyaratkan ketidaksukaan nya atas tuduhan yang sengaja ia layangkan untuk Kinanti. Perempuan matre, dan gila harta yang bisanya cuma membuat pusing banyak orang.
"Tante jago masak kue sekarang ya. " sahut Nadira tak kalah sumringah. Ia mencoba lupa, berusaha berdamai dengan semua jalan cerita yang selalu tak berpihak padanya. Lika-liku kehidupan yang memaksa otak dan hatinya bekerja keras. Bahkan sejak usianya terlalu dini.
Berdamai, adalah pilihan yang tepat dan menerima lalu bersyukur sudah menjadi hal yang paling benar untuk menyikapi kerumitan yang sedang aku hadapi. - Nadhira.
""Ini enak loh tante, kenapa tante gak coba jual saja." puji Nadhira setelah menikmati segigit demi segigit sepotong kue di tangannya.
__ADS_1
"Ah kamu, bilang enak juga pasti karena di depan Tante aja."
"Ih Tante, seriusan. Ini tuh enak pol." lanjut Nadira terus memuji. "Cobain deh yah ! "
Rama menurut saja. Ia mengambil sepotong kue, lalu menggigitnya. Seperti tidak percaya, Rama berusaha menikmati, menggigitnya lagi, hingga sepotong kue itu lenyap dari tangannya.
"Boleh nambah kan ?" goda Rama pada Nurin. Ekspresi wajah Rama mengundang tawa dua perempuan itu. Mereka terkekeh, bercanda riang hingga sedikit lupa dengan lalu lalang masalah yang menguras emosi.
"Doain Nadira sukses ya tante. Nanti kalau Nadhira sudah punya uang, kita bikin toko kue pake resep tante. Pasti laris." Nadhira tersenyum dalam harapan. Mimpinya tinggi dan terlalu indah. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk semua orang yang ia sayangi.
"Tante yakin, Dira pasti sukses. Makanya jangan sedih-sedih terus, kalau Dira lagi merasa dunia engga adil, Dira berdoa saja. Siapa tahu, Allah kabulkan doa di saat Nadira lagi merasa hancur-hancurnya. " Nurin tidak pernah sedalam ini memberikan nasihat kepada Nadhira. Ia juga tidak pernah menampakkan perhatian yang lebih untuk Nadhira, tapi kali ini, melalui kalimat panjangnya, ia menunjukkan betapa dalam rasa sayangnya untuk Nadira.
"Ayah juga sangat yakin, kakak pasti bisa sukses." Rama mengusap lembut kepala Nadhira.
Mereka saling menggenggam, melempar tatapan saling dukung dan ambisi yang kuat.
ya, aku bisa ! aku pasti bisa sukses ! Ayah adalah orang pertama yang akan aku junjung tinggi martabatnya ketika nanti aku sukses. Aku janji ayah. - Nadhira.
__ADS_1
Sebelum memutuskan untuk kembali ke kampung halaman, Nadhira menyempatkan diri untuk membuat janji bersama teman-teman kecilnya. Mereka berbaur untuk berpisah. Berpesta kecil untuk melepas rindu, sebelum akhirnya benar-benar berpisah untuk melanjutkan kehidupan masing-masing. Untuk berproses menjadi manusia yang lebih baik lagi. Mendewasakan diri, dan terjun ke ranah kehidupan yang sesungguhnya.
Nadhira melangkah lambat di halaman cafe, tempat ia dan teman-temannya membuat janji. Di teras, paling ujung tampak ada beberapa teman yang sudah hadir. Mereka tampak anggun, dan cantik berbalut gaun-gaun mewah yang sangat senada. Sementara yang lelaki, tak kalah keren, dan terlihat rapi dan elegan. Nadhira diam mematung, lalu menatap dirinya sendiri.
"Apa aku layak kumpul sama mereka ?" batin Nadhira pilu. Ia menunduk, menyembunyikan kesedihan karena tak mampu segaris dengan teman-temannya. Yang paling ia takutkan adalah bullying, dan penolakan karena ia datang dengan penampilan biasa.
Nadhira mundur beberapa langkah lalu berbalik dan berniat pulang. Tak ingin merusak pesta yang Ghea, teman sekelasnya adakan. Ya, acara pertemuan ini adalah rencana Ghea, anak paling tajir dan super cantik menurut Nadhira. Ia yang telah bersusah payah menyiapkan semuanya, dari mengumpulkan semua teman, hingga tempat dan waktu Ghea lah yang mengatur.
brugg
Nadhira meringis kesakitan. Ia jatuh tersungkur karena tubuhnya menabrak sesuatu yang keras.
"Kalau jalan, matanya di pakai buat lihat ! " Bentak seorang lelaki dengan setelan jaz mewah di hadapannya.
Nadhira baru sadar bahwa ia baru saja menabrak tubuh seseorang. Ia terjatuh karena tubuh lelaki itu lebih besar darinya.
"Ma- maaf Kak, saya tidak sengaja." Nadhira memohon dengan suara terbata.
__ADS_1