
Rama POV
"Sudah malam ternyata , pantas saja sudah lapar sekali perutku "
Ku usap-usap perutku yang sedari tadi keroncongan .tidak ku sangka , jam sudah menunjukkan pukul 9 malam . 'Sampai rumah pasti sudah pada tidur' hatiku memekik .Sedih sekali rasanya tidak berjumpa dengan anak-anak dari pagi .
Waktu berangkat,mereka masih tidur . Dan sekarang, pasti sudah tidur juga .
" Ah,sudahlah ! ini juga demi mereka, Kinan pasti seneng aku kasih uang lembur yang kelewat target "
Aku mulai mengemasi barang-barang dan bergegas melangkahkan kaki keluar dari pabrik. Ku ayun sepeda butut ku menelusuri jalan, dengan riang, dengan bersiul. Entahlah, tiba-tiba saja aku merasakan kegembiraan dalam jiwaku. Mungkin karena aku merasa bisa pulang membawa uang.
"Bener juga, kalau hati kita merasa senang tak terasa waktu berjalan begitu cepat. "
Langkahku terhenti tepat di jalan yang sudah dekat dengan rumahku . Remang-remang kuperhatikan, ada seorang lelaki keluar dari halaman. Tapi sayang, tidak begitu jelas dengan pandangan mataku yang mulai buram. Yang kutahu hanya dia seorang lelaki yang berbadan tinggi besar tak seperti ku yang terhambat pertumbuhannya. hahaha...
Tapi, yang lebih sayangnya lagi laki-laki itu Tidak melewati jalan yang sedang melewati. dia melewati kiri rumahku sedangkan aku dan
lewat arah kanan rumahku. Jadi, tidak ada lagi deh kesempatan untuk memperhatikan nya.
"Kinanti ? "
Seperti melihat setan, istriku begitu kaget melihatnya. Sia gelagatan seperti maling . padahal hanya kupanggil namanya. Aneh....
__ADS_1
"Mas, kamu udah lama?"
"Baru aja . kenapa Kin, kaya liat hantu aja ."
"o-oh , ngga papa . malem sekali pulangnya "
"iya, eh Kin ! kamu liat ini deh "
Aku menyerahkan amplop coklat yang lebih tebal dari bulan-bulan sebelumnya . Sigap sekali istri tercantikku ini membukanya dan langsung menghitung totalnya .
"Mas,ini serius gaji kamu bulan ini?"
Kinanti antusias sekali setelah mengerti nominalnya. Dia tak segan merangkulku, mencium mesra pipiku, dan sedikit bermanja kepadaku. Duh, Kinantiku apa kamu mengerti aku sangat merindukan hal seperti ini.
Coba saja, kau selalu seperti ini istriku. tak memandang ku hanya dari segi isi dompetku. cobalah kau buka kembali hatimu, cintai aku, sayangi aku seperti kala aku memiliki total uang yang lebih untukmu.
Heh, Aku percaya akan kuasa Tuhan, aku yakin entah kapan, lama ataupun sebentar kamu pasti akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari pada saat ini. aku yakin, Tuhan akan selalu mendengarkan doaku.
"Mmmmb Kin, si Diro resign dari pabrik "
"Si Diro yang deket banget sama kamu itu? "
"Iya, siapa lagi "
__ADS_1
"Kapan ? Terus alasannya apa? "
"nggak jelas. itu juga dadakan ..
tapi, kemarin si Mira juga keluar dan mendapat pesangon yang besar ,sekitar 60 juta . mungkin, dia tergiur dengan itu ."
"60 juta ?? Mas,kamu yakin ?"
"hahaha, ngga tau juga Kin, itu kan gosipnya ."
"mmmbh, Yaudah .Mas resign aja dari pabrik !"
Apa lagi ini ? Seperti disambar petir saja .Setelah,resign kerjaan apa yang akan aku dapat ditahun yang semakin sempit lapangan pekerjaan gini .
Aku sempat berdebat dengan Kinan sebentar . dia sangat marah ,saat aku menolak kemauannya . yang ada dia bersi keras memaksaku untuk resign .
'kalau ngga mau , cerai in saja aku !' selalu saja seperti itu yang Kinan ucapkan saat menyudahi perkelahian . dia masuk kamar dan membantignya dengan keras .
--
Nadira menyenderkan tubuhnya ke temboh . air mata nya bercucuran di kedua pipi . 'baru saja aku lihat mereka akur dan harmonis . mama sudah cari gara-gara lagi ' hatinya menjerit disela tawa yang baru saja dia ukir .
Dia mendengar apa yang Kinan katakan, mengerti apa maksud dari pemintaan sang mama .
__ADS_1
Bukan dia tak percaya jika Rama tak akan sanggup melanjutkan perjuangannya diluar pabrik .Tapi, yang Dira bingung, pekerjaan apa yang akan Rama dapatkan setelah ini . Mengingat ijasah yang dia miliki sangat minim untuk saat ini mendaftar dipabrik lain .