
Nadira menghentikan rasa penasaran Rama. Walau hatinya sakit karena membohongi ayahnya. Tapi, dia belum sanggup jika harus mengatakan sejujurnya.
"tante Anna? Baik sekali, sampein makasih ayah ya buat dia"
Nadira membuang wajah, dia menyembunyikan tangis yang sudah hampir tak sanggup ditahannya. Namun, dia tetap menyiratkan senyum diatas luka hatinya.
"sudah, sudah! Ayo makan, keburu dingin nanti ngga enak"
Kinanti pun mengalihkan pembicaraan. Ia sangat lah cuek, bahkan terkesan tak perduli dengan perasaan Rama, jika dia nanti mengetahui semuanya.
Tidak ada garis ketakutan ataupun rasa bersalah diwajahnya. Dia tenang, dan nyaman dengan apa yang telah dia lakukan.
--
Nadira POV
Selesai makan, ayah selalu sempetin waktu buat main sama Allena dan Kevin. Jujur saja, lihat tawa ayah seperti itu membuatku makin sulit mengatakan hal yang memang seharusnya ayah ketahui.
Ayah terlalu mencintai Mama, apa ia dia bisa kuat kalau denger mama main belakang? Uh, kalau aku jadi ayah aku pasti tak akan sanggup. Bagiku, hal yang mama lakukan adalah gila!
"Mama, mama, kalau mama di posisi ayah, apa mama ngga sakit hati"
Aku selalu saja menangis disetiap sujudku. Berharap, diatas doa. Memohonkan hidayah untuk mama dan kebahagian untuk ayah. Aku hanya berharap, keluarga kecil yang sudah belasan tahun mereka dirikan bisa selamanya utuh, sampai maut yang memisahkan.
__ADS_1
"mah?"
"dira? Kenapa?"
Ku pastikan keadaan disekitar aman, hanya aku dan mama. Agar aku lebih bisa leluasa mengatakan unek-unek yang sudah menghakimi hatiku.
"Mama kenapa tega sama ayah?"
"tega? Maksud kamu apa sih Dir, mama ngga ngerti"
Mamaku ini, ternyata pandai sekali bersandiwara. Dia bahkan tidak terlihat grogi saat aku mulai serius bicara. Mmb, atau dia memang sudah memikirkan hal ini sebelumnya? Bisa saja, dia sudah menyiapkan tameng jika musuh yang melarang perbuatannya itu mulai menyerang, termasuk aku.
"Jujur saja, mama selingkuhkan?...
" stop Dir! Mama ngga suka kamu ikut campur urusan mama! "
" ini sudah menyangkut ayah dan juga dira ma, "
" Dira! Sekali lagi kamu bicara ini, mama ngga akan segan-segan buat mukul kamu ya!"
Baru kali ini, aku lihat Mama marah besar terhadapku. Apa alu yang sudah keterlaluan? Tapi, aku hanya meluruskan hal yang memang sudah jelas salah.
Aku sudah tak sanggup lagi menyelanya, apa lagi menatap matanya yang melihatku penuh amarah. Tidak berkedip, dan masih tajam memelototiku.
__ADS_1
"ada apa sih? Kedengerannya kok ribut?"
Nenek Wati, yang baru saja pulang menghampiri kami. Iya, kami yang masih terdiam diatas tanda tanya besarku. Terdiam ditengah amarah mama yang menghujam jantungku.
"Dira? Kamu pasti kurang ajar lagi sama mama kan?"
What? Dira lagi? Kenapa sih nek, kenapa Dira tidak ada sedikit pun yang benar dimata nenek. Selalu saja, jika ada keributan diantara kita, nenek langsung negatif thinking sama aku. Huh, rumah yang tertatapl unik ini, serasa seperti neraka bagiku.
Lebih baik memang jika aku pergi saja berlari dari hadapan mereka, membawa luka hati ku bersembunyi bersama tangis. 'nek, nenek yang akan merasa malu jika perbuatan mama sudah ketahuan banyak orang' aku memekik dalam hati.
--
"ada apa sih Kin? Kalian ini, selalu saja bertengkar!"
"hah, biasa lah buk. Kinan pusing, gimana bilangin Dira. Ibu, dari mana sih? Jam segini baru pulang"
"oh, ini ibu ketemu temen lama, jadi lupa waktu! Eh, Kin. Bagi duit ya, ibu besok ada janji sama temen-temen"
"nanti ya buk, aku minta dulu sama mas Rama"
"kamu ini, memang bisa diandelin...
Oh ya, nasehatin tu Dira. Biar ngga makin bangkang aja!"
__ADS_1
Bu Wati meninggalkan Kinan dengan nyanyian. Mulutnya bersiul seirama langkah kakinya.