Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Keinginan Nadira


__ADS_3

Ini sudah bulan ketiga Rama berpisah dari Kinanti dan kedua anaknya. Namun, menjadi bulan yang ia nanti-nantikan. Hari itu adalah hari kelulusan Nadira, jadi ada secuil kebahagiaan yang tengah ia nantikan.


Kesedihan atas kegagalan pernikahan nya telah usai. Meskipun hatinya masih terasa sakit jika mengingat kejadian itu, tetapi Rama terus mencoba untuk mengiklaskan. Telah banyak perempuan lain yang coba ia kenal, baik melalui ponsel ataupun pertemuan secara langsung.


"Yah..."


Nadira tertegun di ambang pintu. Pandangan nya lurus, tepat pada wajah sang ayah yang tengah menikmati keindahan senja di teras rumah. Sudah tidak ada lagi garis-garis halus yang menggambarkan kesedihan. Gambaran itu berangsur menghilang dari paras Rama yang mulai menua. Bergulir seiring berjalannya waktu.


"Eh, kak. Ada apa sayang ?"


Rama menoleh seraya menggerakkan tangan, meminta Nadira mendekat ke arahnya. Ia mengarahkan putrinya itu untuk duduk di sampingnya. Turut merasakan kesejukan yang sudah lama ia lupakan. Ya, rasa sedih yang mencekam membuatnya lupa bahwa bumi masih sangat luas. Ada ragam goresan yang Illahi yang masih bisa ia syukuri selain perempuan yang sudah berhasil menggores luka di hatinya.


"Dira...Dira...ini yah..."


"Kakak kenapa ? Ada masalah ?"


Rama tidak mengerti kenapa tiba-tiba Nadira seperti kesulitan berbicara. Ia tampak ragu untuk berucap, bahkan sulit merangkai kata untuk ia lontarkan kepada Rama.


"Kak ? Kakak baik-baik saja ?"


Rama mengulangi pertanyaannya, karena Nadira malah melamun setelah ia tanyakan tujuannya. Gadis itu, merunduk tak berani meluapkan apa yang sedang ia coba katakan.


"Nadira mau bicara, Ayah jangan marah ya."


"Apa Ayah pernah marah sama Kakak ?"


"Nadira mau kerja ke Jepang Yah, kebetulan dari sekolah ada lowongan. Tapi, Nadira harus sekolah bahasa dulu, dan itu butuh biaya besar Yah."


Rama terus menatap lekat pada wajah Nadira yang penuh dengan harapan. Rasanya, ia tak tega untuk menolaknya, tetapi di lain sisi ia sama sekali tidak memiliki penghasilan. Sepeserpun ia tidak memegang uang. Untuk makan saja, Ibu yang menanggung. Rama sempat bekerja di Ibukota selama dua bulan setelah surat perceraiannya keluar, dan uangnya ia serahkan semua kepada Nadira. Rama tak berani menanyakan tentang uang itu, masih atau sudah habis Nadira gunakan. Nadira juga tidak pernah membahasnya. Dulu, ia sempat mengatakan bahwa uang itu di tabung, tetapi saat Rama membereskan kamar putri sulungnya itu, ia tak sengaja menyenggol celengan plastik yang berbentuk kucing itu, yang ternyata sudah kosong.


"Berapa kak ?"

__ADS_1


"Tiga puluh juta Yah. Itu untuk pendidikan awal."


Rama membulatkan mata tidak percaya. Tiga puluh juga bukanlah nominal yang kecil. Darimana ia bisa mendapatkan uang sebesar itu dalam waktu yang singkat ? Nurin sudah pasti tidak mau meminjamkan uang kepadanya, apalagi Ibu. Lagian, Ibu tidak mungkin memiliki uang sebesar itu.


"Ayah bisa pinjamkan uang itu untuk Dira ? Nanti Nadira yang bakal bayar hutangnya kalau Nadira sudah kerja Yah."


Rama tidak mengerti apakah Nadira paham dengan apa yang ia ucapkan. Meminjam ? Tiga puluh juta ? Heh, itu bukanlah perkara mudah. Apa yang bisa Rama jaminkan ? Nyawa ? Harga diri ? Atau kehormatan ? Itupun tidak ada yang mau menjamin karena nyatanya tidak banyak orang yang mau menghargai Rama. Bahkan, keluarga nya sendiripun belum tentu dengan ringan menyerahkan uang sebesar itu.


"Akan Ayah usahakan ya nak."


Rama mengusap kepala Nadira dengan lembut. Entahlah kemana ia akan mencari nya. Yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan putri nya. Ya, hanya itu yang Rama pikirkan. Ia tidak mau tahu tentang hal lain, bahkan tentang Ibu yang tengah melahirkan nya sekalipun. Kalaupun uang itu Ibu yang meminta, Rama pasti akan memaki dan marah dengan nada tingginya. Tidak akan ada janji untuk mengiyakan ataupun mengusahakan.


"Nadira mandi dulu ya Yah."


"Iya sayang."


Bola mata Rama mengikuti langkah kaki Nadira beranjak. Terus memburu hingga kedua kaki itu menghilang di balik pintu.


Rama merogoh ponsel pribadinya. Jemarinya menari lincah di atas layar mungil itu. Matanya tertuju pada nama "Nurin". Mencoba mengumpulkan keberanian untuk menekan nomor itu.


"Hallo mas, kenapa ?"


"Hallo...."


"Mas Rama...."


Rama masih tertegun. Masih belum percaya pada dirinya sendiri. Belum ada kata yang ia lontarkan untuk menyahuti panggilan Nurin.


"Hallo mas Rama !"


Nurin sudah tidak sabar. Ia tak bisa lagi menunggu Rama menjawab pertanyaan nya. Ia mulai terpancing rasa kesalnya, hingga membentak Rama agar segera menjawab ucapannya.

__ADS_1


"Hallo Rin..."


"Mas gak dengar atau memang sengaja sih ?"


"Maaf Rin, mas...mas..."


"Mas kenapa ? Ibu baik-baik saja kan ?"


"Ibu baik Rin."


Rama menarik nafas dalam-dalam. Ia memejamkan mata, untuk menyiapkan diri mendengar jawaban Nurin yang mungkin tidak sesuai dengan harapannya.


"Kenapa mas ?"


"Rin, mas mau bicara."


"Dari tadi juga Nurin sudah dengarkan, tinggal bicara saja." Ketus Nurin karena Rama terus-menerus berbelit.


"Rin, tadi Nadira bilang ke mas kalau dia mau kerja ke luar negeri. Tujuannya sih ke jepang Rin."


"Bagus itu. Dapat dari sekolah atau bagaimana mas ?"


"Iya, Nadira terpilih dari sekolahnya. Tapi, biayanya gak murah Rin. Kamu bisa pinjamkan uang tiga puluh juta untuk Nadira ?"


"Tiga puluh juta ?"


Nurin belum menjawab, dan Rama masih berharap kepadanya. Namun, ia terkejut mendengar Ibu yang berteriak dan mengulang nominal yang baru saja ia sebutkan. Mata Ibu membulat dan menatapnya dengan tajam. Sayuran di tangannya sudah jatuh berceceran di lantai. Langkahnya sigap, melangkah mendekat ke arah Rama duduk.


Ibu merebut ponsel di tangan Rama. Lalu berbicara kepada Nurin dengan sangat keras.


"Ibu bakal marah nek kowe kasih uang iku ke Rama Nur !"

__ADS_1


Ibu menutup sambungan telepon secara sepihak. Ia melemparkan ponsel itu ke Rama, lalu berjalan berbalik dengan raut kesal dan penuh amarah.


__ADS_2