
"Maksud nya apa Kin ?"
Rama kembali menangis, dia benar-benar tak kuasa untuk berpura-pura tegar lagi. Keputusan yang Kinan ambil secara sepihak sungguh membuat hati nya pilu, bahkan ia sungguh tak bisa mempercayai hal itu .
Matanya berputar mengelilingi seluruh sudut rumah . tak luput kedua bocah yang sedang asyik bermain, tak mengerti apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya .
"Ibu, tidak perlu menjelaskan lagi kan Ram ?
mulai hari ini, tolong tinggalkan rumah ini . "
"Kin, tolonglah ! kita bisa bicara baik-baik. kamu ngga bisa ambil keputusan sepihak seperti ini, pun kalau harus marah, aku yang harusnya marah !"
Kinanti hanya menyuguhkan senyum lebarnya . ia seolah puas dengan apa yang baru saja di perbuat . keputusan besar yang dia ambil berdua bersama ibunya .
ya, Kinanti menyudahi segalanya. ia dengan terang-terangan mengusir Rama dan menginginkan perceraian . Alasannya sederhana, hanya karena Kinanti tidak mencintai Rama . hei ? bagaimana bisa ? hampir 20 tahun usia pernikahan mereka, dan ada tiga anak . masih tidak mencintai ? atau ....ah ! sudahlah .
"iklaskan Ram, ini awal dari kebahagiaan mu . percayalah sama mbak , kamu akan nemuin hal besar di luar sana .Hal , yang tidak pernah kamu duga dan tidak pernah kamu temui saat disini "
__ADS_1
Kepala Rama tak hanya terngiang-ngiang ucapan buruk kinanti dan mertuanya, tetapi sebaris nasehat dari saudara iparnya .
--
Ia mengayun sepeda nya, entah kemana kakinya membawa sepeda ontel itu dan tubuhnya bersinggah . Tatapan matanya kosong, seolah hidupnya akan berakhir . Ia tak punya gairah lagi, semua hilang, segala mimpi dan cita-cita nya melayang .
"Kenapa tak kau bunuh saja aku !!!!"
Begitulah, kalimat yang sempat Rama teriakkan sebelum dia kembali menangis kejer .
Tak layak memang, lelaki sebaik Rama menangisi perempuan seburuk Kinan, tapi jika hati telah berbicara soal cinta, siapa yang bisa menggoyahkan ? Dunia pun seolah gelap , tiada lagi kehidupan yang berarti . langit-langit tak sanggup lagi menampakkan cerahnya, mendung, hitam , seolah badai alan terjadi .
Ia memang belum bisa menjadi wanita lembut untuk ibunya, tapi amarah nya terlihat jelas saat mendengar ibunya tersakiti karena orang lain .
" Kamu kenapa nangis mas ?"
Nurin sudah menebaknya,dia terlihat tak begitu khawatir dengan keadaan Rama karena pasti ada hubungannya dengan Kinan .
__ADS_1
"Mas cerai dek dengan mbak Kinan "
Rama masih menunduk dan menangis . kali ini, di depan adik perempuan nya dia tidak lagi merasa gengsi dan malu . Ia merasa, seolah masalah hidupnya sudah paling besar diantara yang lain .
"hah ? cerai? hahahaha "
heh ? Ini bener ? Nurin malah tertawa ngakak mendengar pernyataan Rama .
" yang benar saja ? mas lagi bercanda ya ?"
"Mas serius dek . Mas cerai "
mulut Nurin langsung tertutup rapat . Tidak ada lagi tawa yang terdengar . Di pandang nya dalam-dalam wajah Rama, tidak ada garis bercanda di sana, kesedihan dan air mata itu nyata .
Nurin tersenyum hangat, lalu menarik nafas dalam-dalam.
"Nurin seneng "
__ADS_1
jawabnya singkat, sebelum kembali melanjutkan makan siangnya . Tidak banyak kata yang terdengar lagi, hanya bunyi piring yang terkena sendok dan tangis lirih Rama .
Nurin menyelesaikan semuanya, membereskan bekas makannya . Lalu kembali duduk di kursi makan untuk menghampiri Rama yang sedari tadi tidak berpindah tempat .