Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Perdebatan


__ADS_3

Nurin sengaja untuk berkunjung ke kampung halamannya. Tidak ada yang ia beritahu sebelumnya. Bahkan, Rama dan Ibu tidak mengetahui tentang kedatangan Nurin. Ia hanya seorang diri, meninggalkan anak dan suaminya yang tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Tujuannya hanya satu, yaitu Rama. Ada hal yang ingin ia bicarakan dengan kakak kandungnya itu. Semua tidak akan jelas jika di sampaikan melalui sambungan telepon. Pasti akan ada perdebatan yang tidak membuahkan hasil.


Rama yang tengah duduk melamun di teras rumah, mengernyit ketika ada motor yang berhenti di depan rumahnya. Halaman yang luas, membuatnya sulit menangkap seseorang yang baru saja turun dari motor, lalu berjalan ke arahnya setelah menyelesaikan pembayaran dengan tukang ojek.


"Assalamualaikum...."


"Wa'alaikum salam, Nurin ?"


Tidak biasa Nurin memaksa kan kedatangan nya. Dengan ia tiba-tiba pulang tanpa kabar adalah sesuatu yang membuatnya dan Ibu heran.


Nurin dan Rama melangkah masuk rumah, memanggil ibu yang kebetulan sibuk menyiapkan makanan.


"Makan dulu ya !" Tolak ibu dengan lembut.


Ibu tahu, Nurin sudah tak sabar ingin mengatakan sesuatu hal yang membuatnya harus pulang tanpa pemberitahuan. Akan ada perdebatan, lalu menghilangkan nafsu makan kedua anaknya.


"Ayo makan nak, yang banyak ya." Perintah Ibu seraya meletakkan beberapa lauk di meja makan.


Nurin dan Rama segera membuka piring, lalu melahap menu makanan yang selalu mereka rindukan.


Secuil senyuman, cukup memberi bukti bahwa Ibu sangat merindukan momen seperti ini. Melihat kedua anaknya makan dengan lahap, tanpa ada kata yang saling menyakiti.


"Ibu kangen nduk, le, sudah lama Ibu gak makan bertiga sama kalian."


Mendengar itu, Nurin menghentikan pergerakan sendok nya. Ia juga berhenti mengunyah, karena merasa tersindir dengan ungkapan hati sang Ibu.


Memang, setelah mereka tumbuh dan menikah, mereka hanya fokus dengan keluarga masing-masing. Sering acuh dan kurang perhatian kepada Ibu yang tinggal seorang diri di rumah.


Jika mau jujur, Ibu sangat ingin ada anaknya yang menemani nya di rumah. Melewati tua dengan damai meskipun penuh kesederhanaan.


"Nurin selalu sayang kok sama Ibu." Nurin mengusap lembut punggung tangan ibunya. Ia lalu beranjak dan merangkul Ibu dari belakang. Berulang kali meninggalkan kecupan mesra di sana.

__ADS_1


Tak terasa, air mata kedua perempuan itu mulai menetes. Ada rasa yang tak bisa mereka jelaskan dengan kata-kata. Hanya naluri mereka yang bisa mencerna.


Setelah usai makan, Nurin membantu Ibu membereskan meja makan. Meletakkan sisa lauk pada lemari kecil, dan mencuci piring-piring kotor bekas mereka makan. Sementara Rama, ia kembali duduk di sofa depan televisi.


"Jadi, opo alesan mu pulang gak bilang-bilang disek Nur ?"


"Kita bicaranya di depan saja ya buk." Nurin mengeringkan tangan dengan handuk kecil yang di gantung di sebelah wastafel, lalu berjalan menuju ruang keluarga bersama Ibu.


Ketiganya sudah duduk berhadapan di sana. Ketegangan mulai menyapa. Sunyi, semua sedang berdiam menanti penjelasan Nurin.


"Nurin hanya ingin membicarakan tentang mas Rama dan mbak Kinan."


"Ada apa lagi nduk ? Ibu gak seneng ngomong iku."


Ibu langsung membuang muka. Hatinya kesal ketika mendengar nama perempuan itu kembali terucap di rumahnya. Ia sudah tidak mau lagi berhubungan dengan Kinan, walau hanya sekedar pembahasan.


"Ada apa Rin ? Kinan datang ke rumahmu ?" Rama mengernyit. Ada rasa penasaran di dalam hatinya. Ia langsung membenarkan duduknya, dan menyimak wajah Nurin yang tampak berbeda.


"Apa yang dia bicarakan ?"


"Dia...dia meminta agar aku membujuk mas untuk mengurus semua surat-surat cerai kalian." tegas Nurin dengan wajah kesalnya. "Dan aku harap, mas tidak melakukan itu."


Rama merunduk, membuang harapan-harapan yang sempat bersarang di benaknya. Ia selalu meminta, agar Kinanti datang dengan permohonan maafnya. Tetapi, itu tidak mungkin. Kinan datang dengan amarah dan keinginannya untuk tetap berpisah dengan Rama.


"Aku akan mengurus itu jika Kinan bisa senang mendapatkan apa yang ia inginkan."


"Jangan gila mas ! Itu semua berurusan dengan uang ! mas punya uang berapa sampai menantang diri mas sendiri dengan kalimat bodoh mas itu ?"


Nurin mengangkat tubuhnya. Ia menunjuk dan memaki Rama sesuka hati. Harapan ia, kedatangan nya akan mengurangi perdebatan dan bisa meredam kemarahannya. Nyatanya, itu hanya ilusi belaka. Ia benar-benar terpancing dengan jawaban Rama yang tak sesuai harapan nya.


"Itu tanggung jawab Mas Rin !"


"Tanggung jawab ? Dia yang meminta cerai mas. Tanggung jawab mas hanya anak-anak mas, bukan Kinanti !"

__ADS_1


Rama tertunduk lesu, begitu pula dengan Nurin. Ibu hanya menangis melihat kejadian itu. Tak berani berbicara apapun karena hatinya merasakan sakit yang tak terhingga.


"Rin, mas pinjam uang ya ? mas janji, setelah selesai mengurus surat perceraian, mas akan kerja. Mas akan bayar semua hutang mas."


Belum redam, emosi Nurin kembali di pancing oleh permohonan Rama. Laki-laki itu benar-benar tidak paham. Ia masih saja terpaku pada rasa kasihan yang hanya menyiksa batinnya sendiri.


"Sekarang mas pilih, aku bantu sekolah Nadira atau mengurus surat-surat itu ?"


Nurin enggan menatap Rama. Pandangan matanya lurus, penuh dengan urat-urat kekesalan. Semua yang ia lakukan seolah sia-sia. Berakhir pada rasa kecewa karena sedikit pun Rama tidak menghargai usahanya.


"Kowe yo harus pilih Ram, kowe pilih Ibu hidup, atau mati dengan cepat. Kamu ngerti to maksud Ibu ?"


Ibu bangkit dari sofa. Seraya melangkah masuk kamar, jemarinya sibuk mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


Nurin tahu, ibunya pasti akan terus-menerus bersedih jika Rama salah memilih.


Kejadian demi kejadian yang ada, membuat Nurin semakin membenci Kinanti. Perempuan yang merusak keharmonisan keluarga nya. Kehadiran perempuan tanpa rasa terima kasih itu membuat masa depan runyam di bawah atap tua yang bapaknya tinggal kan untuk Ibu dan anak-anaknya.


Lagi, lagi, Rama hanya menangis. Ia meraung, berteriak, dan meronta sesukanya. Berlari masuk kamar lalu melempar semua barang yang ia dapatkan. Kepalanya seakan mau pecah memikirkan semua. Masalah demi masalah bertubi-tubi hinggap di aliran darahnya.


"Masalah ini tidak akan membuat mas gila, kalau mas mau berpikir dengan jernih !" Ungkap Nurin dari depan kamar Rama.


"Mas itu sudah di bodohi oleh cinta ! Apa yang mas berikan untuk Kinan itu...."


"Diaaaaamm ! Jangan bicara lagi Nurin ! "


Nafas Rama ngos-ngosan. Matanya melotot merah dan menggambarkan urat-urat kemarahan. Ia kembali keluar kamar dan membuka pintu dengan kasar.


"Mas tidak akan pernah lagi pinjam uang kepadamu ! Mas juga tidak akan mengurus kehidupan Kinanti dan anak-anak mas di sana ! Puas kamu Nurin ?"


Jederrrrr


Kaca bergoyang keras, benda seperti tergeser dari tempatnya. Ada beberapa figura yang jatuh dari pakunya. Semua karena Rama yang menutup pintu dengan sangat kuat.

__ADS_1


__ADS_2