
Nadira menoleh heran. Bagaimana laki-laki itu bisa bertanya sedemikian santainya, padahal ia tahu jika Nadira sedang gelisah memikirkan Kinan. Yang ada di pikiran Nadira, hanyalah segera mungkin untuk sampai di rumah Kinan.
"Kenapa Dir ? Oh, Om tahu, kamu pasti belum makan kan ? Ya sudah, gimana kalau kita mampir dulu ke...."
"Om ! Om sadar gak sih ? Dira lagi cemas mikirin Mama, dan Om malah sibuk mikir perut ?"
"Mmm....bu..bukan seperti itu Dir. Maksud Om...mmm..."
"Apa Om ? Apa Om bohong sama Dira ?"
Abbas terdiam. Bahkan ia tak berani menjatuhkan tatapan matanya pada bola mata gadis di sampingnya itu. Gadis yang sedang menatapnya penuh amarah.
"Turunkan Nadira di sini Om !"
Tidak ingin berbasa-basi, Nadira sudah tahu hal apa yang tidak bisa Abbas katakan. Nadira tahu betul gelagat seseorang yang sedang berbohong. Sama persis dengan Kinanti dulu, ketika ia menutupi kesalahannya di depan Rama.
Tetapi, Abbas tidak menghiraukan itu. Ia terus saja memacu laju mobilnya membelah teriknya siang. Semakin luang jalanan, semakin kencang ia menginjak pedal gas. Bahkan celotehan Nadira yang sejatinya membuat ia kesal, tak lagi ia dengarkan.
****
Tiada sepenggal kata yang Nadira ucapkan. Bahkan sekedar basa-basi untuk berterima kasih atas tumpangan yang Abbas berikan tak juga Nadira ucapkan. Hatinya gondok, ingin sekali memaki lelaki yang jauh lebih tua darinya itu. Namun, ia masih memiliki sopan santun yang selalu Rama ajarkan. Ia tak mungkin mengeluarkan kata-kata yang menyakiti perasaan orang lain, meskipun kepada seseorang yang sangat ia benci sekalipun.
Nadira membanting pintu mobil dengan keras setelah ia berhasil menurunkan koper mini miliknya. Langkahnya ia ayun dengan cepat, setengah berlari karena hatinya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Kinanti dan kedua adiknya.
Tangannya belum sempat mengetuk pintu, tetapi Kevin adik lelakinya sudah menyambut nya dengan senyuman sumringah. Ia tiba-tiba membuka pintu, dan menampakkan wajah ceria begitu melihat kedatangan kakaknya.
"Kak Nadira....."
Rangkulan lembut, yang tak kalah hangat dari dekapan Rama. Kevin terlalu kencang memeluk Nadira, hingga Nadira enggan untuk menolaknya. Rasanya, rindu yang ada begitu dalam. Ia sudah terlalu lama tidak melihat langsung wajah lugu adik kecilnya. Tatapan sendu, yang memiliki mimpi tinggi sama sepertinya. Ah, andai saja waktu bisa di putar kembali. Nadira pasti akan berusaha keras agar rumah tangga Rama dan Kinanti tidak berakhir dengan begitu saja. Ia akan menjadi tameng, yang menyelamatkan Mama nya dari cinta yang terlarang. Tetapi, semua sudah berlalu. Tidak perlu terlalu lama untuk di sesali. Semua sudah memiliki jalannya masing-masing. Semua sudah memiliki takdir kebahagiaan nya masing-masing. Meskipun waktu tak mengizinkan mereka untuk selalu bersama. Setidaknya, doa-doa mereka saling berjumpa di langit, dan berjalan beriringan menemui akhir yang sama.
"Kakak apa kabar ?"
Kevin melepas tubuh Nadira, tapi tidak sepenuhnya. Ia masih memegangi lengan kakaknya. Seperti tak ingin untuk berpisah lebih lama dari itu.
"Kakak baik Vin. Kamu sehatkan selama kakak tidak ada ?"
Nadira mencolek hidung mungil Kevin, lalu ia merangkul pundak pria kecil itu dan mengajaknya melangkah masuk.
"Sehat kak."
Kevin seolah teringat sesuatu. Ia menarik lengan Nadira, seakan terlupa akan satu hal. Ia menoleh ke belakang, mengitari halaman, untuk mencari sesuatu. Tidak ada yang ia temukan, selain mobil Abbas yang masih di sana. Ia juga tidak melihat lelaki yang tidak ia sukai itu, entah sedang pergi atau justru masih berada di dalam mobil.
"Ayah mana kak ? Kakak sama Ayah kan ke sini ?"
Deg ! Jantung Nadira berdegup kencang. Pertanyaan Kevin, mengingatkan ia pada Rama. Nadira lupa memberikan kabar, bahkan hal bahagia tentang kelulusannya.
'Bodoh!' Nadira menggerutu dalam hati. Ia memaki dirinya sendiri yang bisa lupa pada sosok yang selalu memberinya dukungan, di saat orang lain menyepelekan impiannya.
"Kak ! Ayah mana ?"
__ADS_1
Kevin mengulangi pertanyaannya. Ia juga menggoyangkan tubuh Nadira, untuk membuatnya sadar dari lamunan yang tak Kevin ketahui.
"Ayah ? "
"Iya kak. Ayah mana ?"
Nadira tak memikirkan hal itu sebelumnya. Ia juga tak menyiapkan jawaban jika adiknya menanyakan perihal itu.
'Bodoh!' Nadira kembali mengutuk diri. Ia semakin kesal dengan kelalaiannya sendiri.
"Kak, Ayah mana ?"
Kevin tetaplah pria kecil yang begitu butuh kasih sayang seorang Ayah. Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri bahkan orang-orang sekitarnya jika ia sangat rindu kepada Rama. Ia selalu menangis jika sedang berdoa, apalagi ketika mengingat perpisahan nya dengan Rama. Semakin hari, bukan semakin lupa. Justru hatinya semakin terjerat dengan rindu.
"Ayah kerja Vin. Ayah belum pulang."
Kinanti yang mendengar rengekan Kevin langsung keluar dari dalam kamar. Ia segera menyahuti pertanyaan Kevin, sebelum Nadira salah menjawab.
"Mama bohong kan kak ?"
Nadira menatap Kinanti, begitu pula sebaliknya. Tatapan iba, tak mungkin Nadira sanggup untuk mengatakan kebohongan yang serupa kepada Kevin.
"Ayah di rumah Nenek di kampung kan kak ?"
"Mama kan sudah bilang Vin. Ayah kerja ! Kenapa sih kamu itu sudah sekali di kasih tahu ?"
"Vin, Mama tidak bohong kok. Ayah kerja, biar kita bisa sekolah tinggi. Biar mimpi kamu untuk jadi pilot, bisa terwujud."
Nadira berjongkok di depan Kevin. Ia mengusap tangis adik lelakinya. Senggukan lirih, yang tidak bisa di dengar oleh orang lain. Usapan lembut jemari Nadira, setidaknya bisa sedikit meredakan hatinya. Tak menunggu waktu, Kevin menghamburkan tubuhnya pada sosok hangat yang selalu membuat nya tenang. Lagi-lagi, Kevin memeluk Nadira. Ia melepaskan kesedihan di sana. Menuangkan segala perasaan yang selama ini ia tahan. Tangisnya pecah, terisak-isak di bahu sang kakak.
Nadira membiarkan Kevin tenang dengan sendirinya. Ia hanya mengusap punggung sang adik, dan tak melepaskan tubuh mungil itu, sebelum ia melepasnya sendiri.
Kinanti menatap mereka dengan sengit. Seolah-olah tidak senang dengan Kevin yang begitu ringan meminta di manja oleh Nadira. 'Bukankah aku yang mengundangnya datang ke rumah ? Kenapa jadi Kevin yang menjadi pusat perhatiannya ? Nadira, Nadira kenapa sikapmu begitu sama dengan Rama ? Padahal dia bukan Ayah kandungmu !' pekik Kinanti dalam hati.
"Jangan sedih ya dek. Kalau kamu kangen sama Ayah, kamu berdoa. Kamu minta sama Allah, supaya Allah jaga Ayah di sana, supaya Ayah sehat, Ayah sukses, ya ?"
Nadira segera menghapus air mata Kevin, begitu pria kecil itu merenggangkan pelukannya. Nadira juga melayangkan kecupan manis di kening sang adik. Senyumannya menawan, meskipun hatinya hancur melihat kesedihan Kevin yang tak juga usai, meskipun perpisahan itu sudah lama terjadi.
"Kak Nadira......"
Alena yang baru saja melihat Nadira, berlari menghampirinya. Ia memeluk Nadira dari belakang. Merangkul saudara perempuannya itu dengan ceria.
"Alena sayang."
Nadira memutar tubuh, lalu kembali merangkul adik bungsunya.
"Kak, Alena kangen."
"Kakak juga dek."
__ADS_1
"Kakak jangan pergi lagi ya ? Kakak di sini terus. Kak Kevin, sama Lena sedih karena Ayah sama Kakak gak ada di rumah."
Dengan polosnya Alena menyampaikan keinginan hatinya.
"Lena, kakak kan baru sampai. Pasti kakak lelah, kita ajak kakak makan dulu ya ? Tadi kan Lena sudah buat cake untuk kakak kan ?"
Kinanti menyudahi drama anak-anaknya. Ia segera memotong pertanyaan Alena, sebelum suasana kembali hening dan mencekam seperti saat Kevin menanyakan Perihal Rama sebelumnya.
"Oh iya, aku bikin cake loh untuk kakak." Alena lupa, jika ia sedang menanti jawaban sang kakak. Raut sedihnya hilang, wajah ceria kini mulai menghias wajah cantiknya.
"Wiih, pasti enak ..."
"Pasti dong kak. Kakak pasti ketagihan."
Alena menarik tangan Nadira. Dengan logat lugunya, gadis mungil itu lincah bercerita ketika ia membuat cake bersama sang Mama. Aneka bahan ia sebut dengan lantang. Aneka rasa cake pula ia sajikan di hadapan Nadira. Nadira tersenyum, betapa bangganya ia melihat perubahan sang adik. Gadis kecil yang ketika ia tinggal hanya bisa merengek, kini ia lihai bercerita dan fasih dalam aneka macam nama bahan pembuatan kue.
"Enak kan kak ?"
Celetuk Alena, gadis balita itu berharap pujian dari sang kakak.
"Enak sekali. Kakak suka !"
Nadira semangat dalam menggigit cake di jemarinya. Ia berusaha memperlihatkan betapa senangnya ia dengan kue buatan Alena.
"Lena pinter ya. "
"Iya dong kak, kan Lena mau jadi chef kaya di tv tv itu kalau sudah besar."
"Oh ya ?"
"Iya dong. Alena mau punya restoran kalau sudah besar nanti. Biar kak Dira, kak Kevin, Ayah sama Mama bisa makan enak terus setiap hari."
Deg ! Jantung Nadira kembali berdetak kencang. Sejak Rama resign dari pabrik, mereka memang jarang sekali makan enak. Kecuali, Abbas, laki-laki yang Nadira benci itu tiba-tiba datang dan membawakan bingkisan makanan. Baru mereka semua bisa menikmati hidangan yang lezat.
"Alena belajar yang pintar ya. Biar cita-cita Alena terwujud."
Nadira mengusap kepala Alena. Membelai rambut panjangnya dengan lembut. Bola mata bulat milik gadis kecil itu tampak lugu memperhatikan raut wajah kakaknya. Syair-syair kerinduan mulai terbiasa terlepas dari poros hatinya. Wajah tenang Alena, membuat hati Nadira dingin. Sungguh, kesempatan untuk menatapnya lebih lama tidak ingin ia lewatkan begitu saja. Mungkin, ia akan lama lagi untuk tidak bisa melihat gadis kecil itu. Apalagi, jika takdir sudah membawanya terbang. Pergi mengarungi mimpi, membawa harapan dan kembali dengan seribu kepastian. Ia ingin menjemput kesuksesan nya, berlayar menyebrangi lautan, mengitari angkasa lalu kembali dengan sejuta tawa.
"Kakak nangis ?"
Nadira mengusap kristal-kristal bening yang tak ia sadari sudah menetes membasahi pipinya.
"Tidak Lena, kakak cuma senang saja. Kakak bahagia sekali punya adik seperti Alena. Kakak bangga sama Alena."
"Alena juga senang punya kakak, yang baik seperti kak Dira."
Alena turun dari bangku yang menopang tubuh mungilnya. Ia menghamburkan tubuhnya, lalu mendekap erat tubuh sang kakak.
"Alena sayang sama Kak Dira."
__ADS_1