Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Kabar gembira


__ADS_3

"Sekarang kakak sudah tahu semuanya, jadi apa yang kakak inginkan ?"


"Nadhira cuma berharap ayah jujur yah, itu saja ."


Rama mengulas senyum manis.


"Kakak ini anak ayah, sampai kapanpun tidak ada yang boleh merubah itu." ucap Rama dengan penuh keyakinan. "Ayah sayang sama Kakak, tulus, sejak Ayah tahu kalau mamamu mengandungmu. "


Lantas, bulir kebahagiaan terjatuh dari sudut mata Nadhira.


"Tapi kenapa ayah tidak pernah bilang kalau lak....."


"Shutt..." Rama menghentikan ucapan Nadhira.


"Untuk apa ? Ayah tahu kakak tidak akan terima kan ? Ayah nggak mau kakak sakit hati." Ucap Rama.

__ADS_1


"Selamanya Nadhira itu anak Rama." Sambung Rama dengan gelak tawa khasnya.


"Ayah...." Nadhira mendekap erat tubuh Rama. Tangis haru kembali pecah, begitu pula nenek yang sedari tadi hanya menonton drama anak dan ayah sambung itu turut meneteskan air mata.


"Dan selamanya, nenek iki yo nenekmu yo nduk" nenek melabuhkan tubuhnya diantara Rama dan Nadhira. Mereka saling berpelukan, saling mendekap dengan eratnya, dan saling menyampaikan kasih mereka dengan bahasa kalbu.


Nadhira teringat dengan selembar kertas yang masih ia genggam. Dengan raut cerianya, ia menunjukkan kertas itu pada ayahnya. Membentangkan dengan jelas di hadapan Rama, agar ia dapat membacanya sendiri.


"Kak..." Rama menatap Nadhira .


"Subhanallah...Masya Allah... Alhamdulillah kakak...." Rama mengecup kening Nadhira, memeluknya sekejap, lalu mengangkat tubuh putrinya tinggi-tinggi seraya berputar. Nadhira yang terkejut tertawa lepas menikmati itu.


"Ada apa to iki ?" Nenek kembali di buat bingung.


"Dasar anak sekarang, sok ora jelas. Tadi nangis-nangis, saiki guyu ngakak." Celetuk nenek karena Rama dan Nadhira tak kunjung menjawab rasa penasarannya. Mereka berdua malah cekikikan menyaksikan kebingungan nenek.

__ADS_1


"Nek, doain Nadhira sukses ya. Nadhira bulan depan terpilih buat berangkat kerja ke Jepang nek." Ungkap Nadhira bahagia. Ia menggenggam tangan Nenek dengan erat.


"Alhamdulillah..." Sahut nenek penuh syukur.


Hari berlalu dengan cepat. Hari-hari yang Nadhira lewati bersama Rama tak terlepas dari rasa bahagia. Kini, ia mulai bisa berdamai dengan takdirnya. Ia terima semua yang Tuhan kasih dalam kehidupannya. Bersyukur, adalah kunci dari kebahagiaan dan kedamaian dalam jiwanya.


Rama yang tak pernah mendendam, tak pernah mengajarkan keburukan kepada Nadhira. Ia selalu mengingatkan anak gadisnya untuk tetap bersilaturahmi kepada Kinanti meskipun hanya melalui sambungan telepon. Awalnya Nadhira menolak dengan kerasnya karena setiap kali ia menyapa Kinanti selalu saja ada Abbas yang ikut dalam pembicaraan mereka. Sekali, dua kali, tiga kali bahkan sampai puluhan kali Nadhira selalu langsung mematikan telepon setiap ia mendengar suara Abbas yang turut menyapa dirinya.


"Kak, tidak baik seperti itu nak." ucap Rama. Ia tak pernah menyerah untuk menasehati Nadhira. Meskipun hatinya cukup terluka dalam karena Abbas dan Kinanti, ia tak ingin melibatkan Nadhira dalam masalah hatinya. Setiap kali Nadhira memutus pembicaraan secara sepihak, Rama selalu menegurnya dengan suara lembutnya.


Nadhira hanya melirik, lalu beranjak dari duduknya. Sepatah katapun tak keluar dari bibirnya jika sudah menyangkut mengenai Abbas dan Kinanti.


"Biarkan dulu le. Nadhira masih terlalu kecil buat menerima iki kabeh." ucap nenek seraya meletakkan nampan berisi secangkir kopi di hadapan Rama.


Rama hanya mengangguk seraya mengulum senyum.

__ADS_1


__ADS_2