Kenapa Harus Aku ?

Kenapa Harus Aku ?
Dia Ayahmu !


__ADS_3

"Kak ?"


Kinanti mengetuk pintu kamar Nadira yang tidak ia tutup rapat. Gadis itu, masih berdiri di hadapan jendela, menatap luar dengan pandangan yang tak menentu. Ia masih bersedih, meskipun hari berjalan semakin jauh dari hari meninggalnya nenek Wati.


"Iya ma, masuk saja."


Kinanti tersenyum tipis, lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar Nadira. Ia duduk di atas kasur, menatap lekat pada punggung ramping putrinya.


"Kakak jadi balik ke rumah Ayah sore ini ?"


"Jadi ma. Kenapa ?"


"Ada hal yang ingin mama bicarakan nak, sebelum kamu pergi."


"Bicara saja ma. Nadira pasti dengarkan."


Tetapi, Kinanti tidak ingin membicarakan hal itu sendiri. Ia mengatakan akan berbicara, bersama Nadira dan seseorang di ruang tamu. Nadira tercengang mendengar pernyataan sang mama. sepenting apa pembicaraan itu, hingga Nadira harus menemui orang lain untuk menjadi saksi percakapan mereka.


Dengan langkah ragu, Nadira menyusuri lorong, yang memisahkan kamar satu ke kamar lainnya. Ayunan kakinya lambat, telinganya menarik suara-suara orang yang sedang ia coba untuk kenali sebelum matanya menatap wajah seseorang yang Kinanti katakan.


Hening....


Seperti tidak ada siapa-siapa di rumah itu selain dirinya. Tidak ada pembicaraan apapun. Bahkan, teriakan Allena dan Kevin seketika menghilang dari pendengarannya.


Rasa penasaran Nadira membawa langkahnya berjalan lebih cepat. Kini, ia sudah berdiri di sudut ruang tamu. Berdiri, dengan pandangan yang tak lepas pada satu sosok.


Kakinya terhenti, mulutnya menganga, matanya berputar tak percaya. Laki-laki itu ? Laki-laki yang pernah melukai hatinya, dalam hingga tak bisa ia hapuskan. Laki-laki yang menghancurkan semua kenangan. Laki-laki yang pernah merenggut kebahagiaan yang selalu ia pinta kan pada sang Khalik.


"Kenapa harus ada dia ma ?" Ketus Nadira. Semua menoleh ke arahnya. Termasuk Abbas, dan Santi. Sementara Wulan, sepertinya tidak ada di sana. Mungkin, memang ia sedang bermain bersama kedua adiknya.


"Bicaralah dengan sopan Nadira !" Sentak Kinanti.


"Untuk apa aku harus sopan kepada laki-laki yang sudah menggoreskan luka di hati ayah ? Untuk apa ma ?"


"Itu yang ayahmu ajarkan di sana ? ha ! jauh dari Mama bertahun-tahun bukannya bisa sadar, ini malah semakin kurang ajar !"

__ADS_1


"Jadi, mama menyuruhku ke sini, merayu dan pura-pura sayang sama aku, karena lelaki ini ma ? Kenapa ? Mama mau bilang mama mau nikah dengan dia ? iya ma ?"


"Nadira !"


Plakk


Tamparan keras mendarat di pipi Nadira. Kinanti benar-benar murka dengan apa yang Nadira ucapkan. Wajahnya memerah, matanya menatap tajam penuh amarah. Entah, kenapa Nadira begitu berani berkata seperti itu di hadapan Abbas dan yang lain. Atau mungkin, karena luka yang ia simpan sudah terlalu pedih untuk di pendam seorang diri.


"Kinanti ! Apa yang kamu lakukan !"


Mbak Santi dan Abbas berdiri bersamaan. Keduanya sama-sama menolak perlakuan Kinanti yang kasar terhadap Nadira. Perceraian yang memisahkan mereka sudah cukup melukai hati anak-anaknya, seharusnya Kinanti tidak perlu berlebihan seperti itu menanggapi penolakan dari sang putri. Nadira tetaplah gadis, yang belum bisa berpikir dengan dewasa. Usianya yang masih belasan, masih terlalu dini untuk menerima semua keadaan yang sebenarnya.


"Nadira sudah kelewatan Bas ! Dia seharusnya bisa lebih sopan kepadamu."


"Kenapa mama memaksaku untuk baik sama orang yang sudah jahat sama Nadira ma ? Kenapa ? Kenapa Mama tidak paksa dia untuk mengakui kesalahannya yang sudah keterlaluan ? Kenapa harus aku ? Kenapa harus Nadira yang di salahkan ? Kenapa ?"


Seperti mengeluarkan semua kekecewaan yang selama ini ia simpan, Nadira benar-benar melontarkan semua kalimat yang membuatnya menangis tersedu-sedu. Tangisnya, seolah-olah darah yang mengalir dengan deras. Mengisyaratkan betapa hancurnya hati, leburnya jiwa.


Mbak Santi yang mendengar itu, tak kuasa menahan tangis. Ia tahu semua kisah yang terjadi di rumah itu, bahkan siapa Nadira sesungguhnya. Sementara Kinanti, ia tak peduli dengan itu. Ia tak menghiraukan suara hati putrinya. Ia tetap bersungut-sungut dalam kemarahannya. Ia tetap memaksa Nadira untuk sopan kepada Abbas. Hingga....


"Kinan !"


Deg ! Seperti tersambar petir, Nadira terkejut mendengar pernyataan Kinanti. Hatinya tersentak hebat, jantungnya berdetak kian cepat. Nadira sama sekali tidak percaya, namun ada perasaan aneh yang tidak bisa ia cerna.


"Sebegitu gilanya mama dengan laki-laki itu, sampai-sampai mama tega mengatakan hal sampah seperti itu sama Nadira. Ayah Rama, adalah ayah kandung Nadira ! Sampai kapanpun !"


Nadira tidak ingin lebih lama lagi berdebat dengan Kinanti. Semua yang telah terjadi, sudah cukup menyakitkan bagi Nadira. Ia berlari menuju kamarnya, tetapi Kinanti masih belum puas dengan respon yang Nadira berikan. Ia mengikuti kemana langkah kaki Nadira.


"Untuk apa lagi mama mengikuti ku ma ?"


"Kamu harus percaya Dir ! Abbas adalah ayah kandung kamu !"


"Kalau dia ayah kandung Nadira, kenapa baru sekarang mama bilang ? Kemana saja delapan belas tahun yang lalu ma ?"


"Dira, kenapa sih kamu itu susah sekali di aja bicara baik-baik ? Sekarang, terserah kamu ! Percaya atau tidak, Abbas tetap ayah kandung kamu !"

__ADS_1


Nadira menyeret langkahnya lebih cepat. Ia tak lagi menghiraukan teriakan Kinanti yang memanggil namanya dengan nada tinggi. Baginya, semua sudah lebih dari mengecewakan. Nadira tidak bisa berpikir jernih lagi, dirinya seakan-akan sedang di permainkan oleh keadaan.


Dengan tangis yang tak bisa di tahan, Nadira mengemas semua barang-barang miliknya. Memasukkan dengan cepat ke dalam koper mini yang beberapa hari yang lalu, ia bawa ke rumah itu.


pikirannya kalut, Nadira hanya ingin segera pulang untuk menemui ayahnya, Rama. Laki-laki yang tidak akan bisa tergantikan oleh siapapun posisinya. Jikapun yang di katakan Kinanti adalah kebenaran, Nadira tidak akan mengubah perasaan yang telah tumbuh alami dalam dirinya. Ia akan selalu dan tetap menyayangi Rama, melebihi sayangnya kepada orang-orang yang pernah tidak mengharapkan kehadirannya.


Setelah selesai, Nadira segera keluar dari dalam kamar. Ia membawa tasnya dengan langkah cepat. Segera keluar, dan menjauh dari rumah itu.


"Kamu mau kemana nak ?" Abbas mendekat, membuat Nadira melangkah lebih jauh karena enggan berdekatan dengan orang yang telah menghancurkan segala mimpinya.


"Dira, kamu mau kemana ?" Ulang Mbak Santi.


"Maaf tante, Nadira harus segera pulang."


"Pulang ? Ini rumah kamu Dir."


"Sekarang, rumah ini bukan tempat Nadira untuk pulang tante. Maaf, tetapi Nadira selalu kecewa di sini. Nadira titip Allena dan Kevin ya tan. Sampaikan salam sayangku untuk mereka." Nadira mengatakan hal itu dengan deraian air mata.


Kinanti yang baru datang dari dalam kamarnya, menarik lengan Nadira untuk menahan langkahnya.


"Kak, maafkan mama ya.."


"Mama pasti ingat, Nadira selalu memaafkan kesalahan mama." ketus Nadira.


"Tinggallah di sini kak. "


"Untuk apa ma ? Bukankah mama tidak mengharapkan kehadiran Nadira ?"


Seketika Kinanti membisu. Ia memang pernah membenci kehadiran Nadira, tetapi setelah Abbas menanyakan keberadaan bayi yang pernah ia tolak, Kinanti berusaha untuk berlemah lembut pada Nadira.


"Nadira..."


"Jangan mendekat ! Sampai kapanpun, kamu adalah orang yang menghancurkan semua impianku !"


Keputusan Nadira sudah bulat. Ia melangkah keluar dan berjalan dengan cepat. Tidak ada lagi yang perlu ia sesali dengan kepergian yang kedua kalinya ini, selain Kevin dan Allena.

__ADS_1


__ADS_2